Bantu Petani Wonosari, Mahasiswa UM Ciptakan "Gogrin" dengan Manfaatkan Pupuk Organik - Tugujatim.id

Bantu Petani Wonosari, Mahasiswa UM Ciptakan “Gogrin” dengan Manfaatkan Pupuk Organik

  • Bagikan
Mahasiswa UM menciptakan alat dan aplikasi Gogrin untuk membantu Poktan di Wonosari, Kabupaten Malang. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Mahasiswa UM menciptakan alat dan aplikasi Gogrin untuk membantu Poktan di Wonosari, Kabupaten Malang. (Foto: Dokumen)

MALANG, Tugujatim.id – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berhasil menciptakan inovasi baru berupa aplikasi dan alat yang dapat memanfaatkan pupuk organik dari kotoran kambing. Namanya Gogrin! Apa sih Gogrin dan bagaimana pengaplikasiannya?

Berawal dari observasi yang dilakukan di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, yang memiliki kelompok tani (poktan) “Ngudi Rahayu”, 5 mahasiswa UM menemukan sebuah potensi, yakni ada pupuk dari kotoran kambing mencapai 2 ton per bulan. Kelima mahasiswa itu yaitu Made Radikia Prasanta, Muhammad Wildan Romiza F., dan Satria Bayu Asmara dari jurusan teknik elektro. Sedangkan Widad Lazuardi dari jurusan biologi dan Muhammad Akbar Jalal Wisesa dari jurusan teknik mesin.

Mereka melihat potensi itu, tapi pengolahan pupuknya tanpa monitoring yang tepat sehingga menimbulkan masalah bagi poktan tersebut. Kelima mahasiswa UM pun berinisiatif ingin membuat pupuk organik dari kotoran kambing agar semakin berkualitas.

Hasil dari mesin penggiling dan konveyor. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Hasil dari mesin penggiling dan konveyor. (Foto: Dokumen)

Setelah mengetahui permasalahan itu, maka terciptalah Gogrin. Nah, apa sih Gogrin itu? Itu adalah sebuah alat berupa sensor pemantauan kadar pupuk organik yang terintegrasi dengan smartphone. Lalu kenapa diberi nama Gogrin ya? Gogrin adalah singkatan dari “Goat Manure Grinder” yang berarti penggilingan kotoran kambing untuk dihaluskan dan dijadikan sebagai pupuk organik.

Bikin alat “Gogrin” itu sendiri juga terinspirasi dengan kata “Go Green” yang memiliki makna peduli terhadap lingkungan dengan melakukan penghijauan seperti melakukan penanaman maupun penyuburan tanaman dengan pemberian pupuk organik yang berasal dari kotoran kambing.

Dengan memakai alat ini, petani hanya tinggal menancapkan alat monitoring ke pupuk yang sedang difermentasi untuk mendapatkan data seperti kadar C-organik, nitrogen, fosfor, kalium, rasio C/N, serta kelembapan, lalu pada aplikasi akan memberikan sebuah rekomendasi tindakan yang membuat pupuk tetap terjaga kualitasnya.

Gogrin, aplikasi yang dibuat oleh mahasiswa UM. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Gogrin, aplikasi yang dibuat oleh mahasiswa UM. (Foto: Dokumen)

Lalu tim yang diketuai oleh Made Radikia Prasanta itu memang sengaja membuat sebuah alat berupa monitoring fermentasi pupuk dan akan terintegrasi dengan smartphone para peternak dan nantinya akan memberikan sebuah rekomendasi tindakan sehingga kualitas pupuk tetap terjaga dan sesuai dengan SNI pupuk organik yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan).

“Setelah diamati, kualitas pupuk pada Poktan Ngudi Rahayu ini masih di bawah SNI pupuk organik yang ditetapkan oleh Kementan,” ujar Made.

Halaman monitoring aplikasi Gogrin yang dibuat oleh mahasiswa UM. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Halaman monitoring aplikasi Gogrin yang dibuat oleh mahasiswa UM. (Foto: Dokumen)

Untuk pembuatan aplikasi ini membutuhkan sekitar 2-3 minggu, dia mengatakan, tentunya ada kendalanya.

“Kendalanya soal pencarian data dan kalibrasi sensor serta penentuan rekomendasi yang tepat untuk memperbaiki kualitas pupuk yang difermentasi,” ujarnya.

Sementara itu, Wildan sebagai pengembang aplikasi Gogrin, menambahkan, terciptanya aplikasi itu tak mudah, pengembang harus memperhatikan kemudahan akses aplikasi ini karena penggunanya dari berbagai macam usia.

“Aplikasi Gogrin ini dibuat sudah dengan memperhatikan kemudahan akses dari pengguna. Sebab, penggunanya tak semua paham betul akan smartphone. Tapi dengan tampilan yang mudah dipahami, pengguna aplikasi dari berbagai macam usia pun akan mudah menggunakannya,” ujar Wildan.

Poktan Ngudi Rahayu pun merasa sangat terbantu akan alat yang diciptakan oleh Made Radikia dkk ini. Mereka dapat lebih mudah mengetahui kualitas pupuk sudah baik atau masih kurang.

Mahasiswa UM yang membuat aplikasi Gogrin. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Mahasiswa UM yang membuat aplikasi Gogrin. (Foto: Dokumen)

Terkait inovasi ini, Ketua Kelompok Ternak dari Poktan “Ngudi Rahayu” Yono memang mengakui bahwa tidak ada monitoring yang mereka lakukan soal kualitas produk pupuk yang dihasilkan.

“Kami memiliki kuantitas pupuk yang banyak, tapi tidak tahu mengenai bagaimana cara mengolahnya agar berkualitas tinggi,” ujar Ketua Kelompok Ternak dari Poktan “Ngudi Rahayu”.

Dia menjelaskan, pihaknya sangat bersyukur bisa berkolaborasi dengan mahasiswa dari UM untuk mewujudkan pupuk yang berkualitas dengan adanya monitoring yang memakai aplikasi.

Mahasiswa saat proses membuat alat penggilingan. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Mahasiswa saat proses membuat alat penggilingan. (Foto: Dokumen)

“Dengan adanya Gogrin ini, membuat pupuk yang akan kami jual memiliki kualitas yang lebih baik karena lebih terkontrol dari kadarnya. Pelanggan kami pun semakin suka dengan pupuk yang diproduksi,” ujar Yono.

Untuk diketahui, Gogrin ini dibuat di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik Sujito ST MT PhD. Karya mahasiswa UM ini memiliki sebuah website yang dapat diakses di gogrin.id sehingga para produsen pupuk organik yang ingin memiliki sebuah alat monitoring dapat melihat katalog dan testimoni yang dapat dilihat di dalam website. (*)

  • Bagikan