Mentari di Ufuk Matamu

Mentari di Ufuk Matamu

  • Bagikan
Ilustrasi cerpen Mentari di Ufuk Matamu/tugu jatim
Ilustrasi cerpen Mentari di Ufuk Matamu. (Foto: Dokumen/Witri Dian Rafani)

Oleh : Witri Dian Rafani*

Tugujatim.id – Pagi mulai menyingsing, terlihat dari kejauhan sosok yang lekat dengan ingatan. Mulai terlihat menghampiri mobilnya yang terparkir di pelataran masjid besar di kampungnya. Semua orang pasti mengetahuinya, lelaki bertubuh agak gempal dengan kumis yang melintang itu adalah sosok yang amat disegani.

Semua orang di kampungnya memanggilnya dengan sebutan yang kadang nyeleneh dan kadang juga dengan panggilan yang santun dan sopan. Ya itu dia, siapa lagi kalau bukan Pak Andi. Sosok yang selama ini orang sebut sebagai pemimpin yang agak keras dan bertanggung jawab. Namun, dibalik itu semua hatinya sangat lembut. Dia merupakan sosok penguat bagi keluarganya.

Akhir-akhir ini, dia dihadapkan dengan persoalan kantor yang amat pelik. Sampai-sampai dia harus begadang dan tidak pulang ke rumah hanya untuk menyelesaikan persoalan yang semakin hari semakin menumpuk, pagi tadi, baru pulang dari kantor.

“Pak kenapa baru pergi ke kantor?” pertanyaan itu seketika terlontar dari bibir seorang tetangga yang sedang nongkrong di warung pinggir masjid besar itu.

Dia agak kaget lalu menoleh ke arah datangnya suara lalu menjawab. “Oh maaf, akhir – akhir ini saya lembur terus. Jadi saya meminta izin kepada staf saya kalo saya akan datang ke kantor namun telat,” jawab Pak Andi.

Oh, gitu pak, ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan pak,” ucap seorang tetangga yang sedang nongkrong di warung pinggir masjid itu. Pak Andi lalu mengucapkan terimakasih dan langsung masuk ke mobilnya lalu pergi meninggalkan masjid beberapa detik kemudian.

Di lain cerita, anak-anak Pak Andi dan istrinya selalu mengkhawatirkan dia karena sang ayah selalu lembur dan kadang tidak pulang ke rumah. Mereka khawatir akan kesehatan sang ayah.

Matahari mulai beranjak kembali ke peraduannya, semua orang mulai kembali dari pekerjaannya dan mulai memasuki rumah tak terkecuali keluarga Pak Andi. Mereka satu persatu masuk ke rumah dan segera menutupi jendela dan pintu karena menurut Hadist Rasulullah SAW pada waktu mega merah mulai terlihat, setan dan jin mulai berkeliaran dan kita perlu menutup  rumah kita agar tidak dimasuki jin dan setan.

“Bu, malam ini ayah lembur lagi di kantor atau tidak?,”  tanya anak bungsu Pak Andi kepada ibunya.

“Belum tau nak, suruh kakakmu menelepon ayahmu apakah dia akan pulang atau tidak,” ucap istri Pak Andi. Anak bungsunya itu langsung pergi menghampiri kakaknya yang sedang asyik membaca buku di kamarnya.

“Kak, cepat telepon ayah, bilangin mau pulang atau enggak?,” desak anak bungsu Pak Andi pada kakaknya.

“Tunggu dulu, kakak belum beres baca nih, paling ayah mau lembur lagi di kantor,” ketus kakaknya.

“Ih, cepet kak, ibu suruh kakak buat telepon ayah, gitu aja kok repot,” rengek sang adik.

Karena tidak ingin mendengar rengekan sang adik, kakanya langsung menelepon ayahnya dengan muka agak cemberut. Beberapa menit kemudian, dia memberitahukan pada adiknya bahwa ayahnya akan pulang nanti selepas magrib. Setelah mendengar pesan itu, adik langsung sumringah dan memberitahu ibu kalau ayah akan pulang.

Seperti biasa selepas solat magrib, terdengar lantunan ayat suci Alquran yang dapat membuat hati siapapun yang mendengarnya menjadi tenang. Suara lantunan itu terdengar dari rumah Pak Andi dan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu lalu terbuka.

“Assalamualaikum, ayah pulang,” ucap Pak Andi.

“Waalaikumsalam, oh ayah ternyata sudah pulang,” ucap istri Pak Andi.

“Bu, itu di luar ada rekan kerja ayah, tolong persilahkan masuk dan beri minum ya bu, ayah mau ke toilet dulu,” ucap Pak Andi.

Istri pak Andi langsung mempersilahkan tamu masuk dan menyuruh anaknya yang sulung untuk membuat teh. Anaknya pun keluar dari kamarnya dan bergegas pergi ke dapur untuk membuat teh. Setelah itu dia suguhkan kepada tamu itu dan bergegas kembali ke kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Pak Andi keluar dari toilet dan langsung menemui tamunya dan berbincang-bincang. Dari arah kamar anak sulungnya terdengar pembicaraan itu serius sekali. Sesekali ia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh ayahnya dan rekannya itu.

Suasana menjadi hening seketika bunyi ponsel berdering dan seseorang menelpon ayahnya. Si sulung mendengarkan secara seksama dari balik pintu kamar. Terdengar suara teriakan dari telepon ayah yang semakin lama semakin menjadi.

Terlihat dari sela pintu, ayahnya duduk termenung sambil mendengarkan suara penelepon itu sembari menyeka air mata yang keluar. Baru kali ini ia melihat ayahnya seperti itu. Ayah yang biasanya tegas dan selalu menimpali pembicaraan, kali ini dia diam membisu dan tak ingin emosinya merajai dirinya.

“Apa yang dilakukan ayah sehingga penelepon itu begitu marah kepada ayah? Kenapa juga ayah tidak melawan dan menimpali pembicaraan itu?,” hati si sulung bertanya-tanya.

Ia tidak tega melihat ayahnya seperti itu. Hatinya menangis. Dia memohon kepada tuhan agar permasalahannya segera berakhir.

Malam semakin larut diiringi rinai hujan yang kian rapat, dingin kian menuntut. Tiba-tiba, si sulung terbangun dari tidurnya, hening tak ada suara, hanya suara tetesan air yang terus turun di balik jendela.

Ternyata, pembicaraannya sudah selesai sewaktu ia ketiduran ketika mendengarkan. Dia merasa lega. Kemudia dia bergegas turun dari tempat tidur bermaksud pergi ke toilet mengambil air wudhu. Namun, langkahnya terhenti ketika dia tiba di ujung pintu kamarnya.

Satu wajah itu muncul kembali di malamnya,  di sela berlian yang bertaburan di luar angkasa. Dari sebalik pintu dapat dilihat laki-laki itu sedang bermunajat kepada sang pencipta. Air mata peluh kehidupan pun tak henti mengalir dari ufuk matanya.

Laki-laki itu, siapa lagi kalau bukan ayahnya. Seketika hatinya tersentak melihat itu semua. Dirinya menangis tidak tega melihat semua air mata itu. Dia teringat bagaimana perjuangan seorang ayah yang bermandikan peluh untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.

Dia merasa rembulan malam itu tak indah, rembulan itu sedang mencekiknya. Dia tidak bisa tidur sampai fajar berlalu.

Fajar berlalu. Sang surya pun masih malu-malu menampakkan rona jingganya, burung -burung mulai menambah nilai estetika pagi dengan berlalu lalang di lautan angkasa menggantikan estetika dari berlian malam. Pagi ini terasa hangat, namun tidak dengannya, dia rasa paginya suram. Ayahnya jatuh sakit.

“Nak, tolong berikan obat ke ayahmu, ibu mau masak dulu,” ucap ibunya seketika membuyarkan lamunannya. Dia bergegas pergi ke kamar ayahnya dan memberikan obatnya. Tiba-tiba ayahnya berkata “Maaf nak, ayah belum bisa melakukan yang terbaik untukmu,” ucap Pak Andi.

“Tak mengapa jika ayah belum melakukan yang terbaik, tak akan ada yang menyalahkan. Sewaktu – waktu, ayah dapat melakukan kesalahan tetapi orang lain pun sama pasti pernah melakukannya juga. Ketika ayah menghela nafas, bagaimanapun aku bisa mengerti beban berat yang ayah rasakan, Terimakasih untuk semua kerja kerasmu, ayah,” lirih si sulung sambil memeluk ayahnya.

Tiba – tiba terdengar suara telepon yang membuyarkan suasana tersebut. Ayahnya kemudian menjawab lalu menangis sambil mengucapkan syukur.

Ternyata masalahnya itu sudah diselesaikan rekan kerjanya. Seketika ia melihat kembali seberkas cahaya di ufuk matanya. Ia yakin bahwa dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan dan tuhan pasti akan selalu menolong hambanya seberat apapun permasalahannya.

*Penulis adalah member Garuda Literasi

  • Bagikan