Baskoro CCF: Mengurangi Penggunaan Plastik Butuh Cara Berbeda - Tugujatim.id

Baskoro CCF: Mengurangi Penggunaan Plastik Butuh Cara Berbeda

  • Bagikan
Founder Climate Change Frontier Eko Baskoro (kiri) pada sebuah kegiatan kampanye lingkungan. (Foto: Dokumen)
Founder Climate Change Frontier Eko Baskoro (kiri) pada sebuah kegiatan kampanye lingkungan. (Foto: Dokumen)

Tugujatim.id – Limbah plastik terus menjadi permasalahan serius terhadap lingkungan. Tak heran, komunitas yang bergerak di bidang lingkungan serta kemanusiaan, Climate Change Frontier (CCF) terus mengajak agar masyarakat bijak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai informasi, plastik merupakan salah satu inovasi teknologi bahan dalam bidang kimia. Dikenal memiliki sifat yang serba guna, lentur, tahan lama serta memiliki biaya produksi yang murah. Tidak heran bila industri plastik tumbuh dan berkembang dengan pesat dalam memenuhi kebutuhan manusia. Hampir semua produk di sekitar kita memiliki kandungan bahan plastik, seperti tekstil, smartphone, laptop, peralatan listrik dan yang lain.

Namun, di sisi lain, produk berbahan plastik ini telah berubah menjadi permasalahan serius yang dihadapi hampir disetiap negara di dunia karena dampaknya terhadap lingkungan, manusia, dan mahluk hidup yang lain. Kita sebut saja 3 produk plastik yang sering dijadikan permasalahan sehingga harus dikurangi bahkan di larang penggunaannya yaitu tas plastik, sedotan plastik dan botol plastik.

Founder CCF Eko Baskoro dalam kampanye bahaya plastik. Foto diambil sebelum COVID-19 melanda. (Foto: Dokumen) tugu jatim
Founder CCF Eko Baskoro dalam kampanye bahaya plastik. Foto diambil sebelum COVID-19 melanda. (Foto: Dokumen)

Dibutuhkan cara tersendiri untuk dapat mengurangi penggunaan 3 produk plastik tersebut. Dan tidak semua harus ditujukan kepada masyarakat umum. Seperti yang dilakukan oleh Climate Change Frontier atau yang dikenal dengan CCFrontier. Komunitas yang peduli terhadap lingkungan danm kemanusiaan ini didirikan tahun 2015. Dan sejak tahun 2015, komunitas ini telah memberikan perhatian lebih terhadap mengurangi plastik.

“Kami telah bergerak mengurangi plastik sejak 2015. Berupaya menumbuhkan kesadaran akan bahaya plastik khususnya atas 3 produk plastik yaitu tas plastik, sedotan plastik, dan botol plastik,” ujar Baskoro, Founder CCF.

Totebag Campaign

Gerakan mereka diawali dengan mengurangi penggunaan tas plastik sejak tahun 2015. Target mereka adalah masyarakat. Dalam mengedukasi masyarakat mereka selalu membagikan totebag secara gratis sebagai pengganti tas plastik. Totebag memang dipilih oleh CCF bukan karena 100% ramah lingkungan namun dikarenakan totebag memiliki durability yang tinggi.

“Kita memilih totebag karena durabilitynya, butuh sekitar 1 bulan lebih untuk rusak jika kita pakai sehari-hari. Logika sederhana, andai setiap hari kita membuang 3 tas plastik, maka jika kita memakai totebag, itu artinya kita telah mencegah sekian banyak tas plastik untuk dibuang ke alam tiap bulannya. Dan lagi tas yang ramah lingkungan seperti tas dari singkong masih ada celah kekurangnnaya selain harganya yang mahal” terang Baskoro CCF.

#byesedotanplastik Campaign

Gerakan mereka berlanjut dengan mengurangi sedotan plastik yang mereka sebut #byesedotanplastik. Target mereka bukan masyarakat umum namun para pelaku usaha seperti cafe ; resto ; dan hotel. Mereka memilih target para pelaku usaha karena mudah dikontrol dari pada masyarakat umum.

“Target kami para pelaku usaha, misal sebuah cafe setiap harinya membuang sekitar 500 sedotan plastik. Dengan gerakan ini, dapat dihitung berapa persen penurunan penggunaan sedotan plastik tiap harinya. Kalau target kita masyarakat umum akan sulit,” ujar Baskoro CCF.

Sudah sekitar 50 an para pelaku usaha yang tergabung dalam gerakan #byesedotanplastik. Awalnya gerakan ini mengharuskan para pelaku usaha untuk sama sekali tidak menggunakan sedotan plastik. Namun kenyataan berbeda saat mereka turun ke lapangan. Sehingga  mereka merubah tujuan dari gerakan ini, dimana para pelaku usaha tidak lagi menggunakan sedotan plastik kecuali by request. Di sisi lain mereka juga merekomendasikan penggunaan sedotan yang ramah lingkungan seperti sedotan kertas dan sedotan jagung. Walau sulit diterima karena harga yang mahal dibanding sedotan plastik.

“Silakan ganti sedotan plastik dengan sedotan yang lebih ramah lingkungan namun jangan ganti prinsip Sekali-Pakai dengan Berulangkali-pakai” imbuh Baskoro CCF.

Hal ini dia sampaikan karena [saat itu] masih ada cafe dan resto yang menyediakan sedotan dipakai bergantian untuk customer mereka, seperti sedotan stainless. Survey yang pernah mereka lakukan menyebutkan bahwasanya hampir 90% customer enggan menggunakan sedotan berulangkali pakai, karena faktor kebersihan.

Pembatasan Ukuran Botol Plastik Lewat #byesmallestbottles Campaign

Gerakan mengurangi plastik selanjutnya adalah mengurangi botol plastik. Gerakan ini ditujukan pada perusahaan pengguna botol plastik atau perusahaan yang menggunakan botol plastik untuk produk mereka. Mereka menyampaikan “Pembatasan Ukuran Botol Plastik” di mana mereka berharap perusahaan tidak lagi menggunakan botol dengan ukuran di bawah 500 ml untuk produk mereka, seperti 220 atau 250 ml.

“Coba bayangkan, kita di jalan di siang hari. Merasa haus kemudian membeli air mineral dalam kemasan 220 ml. Minimal kita beli 3 botol. Beli sekarang; diminum sekarang ; dan menjadi sampah di waktu yang bersamaan,” imbuh Baskoro.

Pelarangan penggunaan botol plastik adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Maka dari itu CCF menyampaikan pembatasan ukuran botol plastik.

“Mari tetap menjaga bumi. Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian tidaklah mudah. Dibutuhkan kerja keras untuk itu,” pungasnya. (Ads)

  • Bagikan