Belajar Memahami Passion dari Sudut Pandang Lain

  • Bagikan
Penulis, Rizal Adhi (kiri) bersama Lambang Sutejo. (Foto: Dokumen) tugu malang tugu jatim sambang dulur, the power of silaturahim
Penulis, Rizal Adhi (kiri) bersama Lambang Sutejo. (Foto: Dokumen)

MALANG, Tugujatim.id – Passion, adalah istilah yang sangat erat dengan jalan hidup anak-anak muda saat ini. Bekerja karena passion, membuat usaha karena passion, dan sering kali resign karena ingin mengejar passion.

Passion juga menjadi pedang bermata dua bagi pemiliknya, karena passion, kadang-kadang juga bisa menghancurkan tatanan kehidupan yang sudah kadung terbentuk. Hanya karena kata passion, seseorang bisa meninggalkan kehidupan yang sudah mapan.

Namun, mungkin kita bisa sedikit belajar terkait apa itu passion dari Lambang Sutejo, seorang barista yang membuka kafe di daerah Pulosari, Kota Malang.

Oleh karena itu, saya rela menembus hadangan PPKM Darurat dan kepungan pandemi Covid-19 di Kota Malang hanya demi sambang dulur satu ini.

Ia bercerita jika sejak dulu memang dirinya memiliki minat di dunia barista. Ia bahkan sempat ingin mengikuti sekolah barista agar bisa memuluskan passionnya.

Sayang, keinginan itu tidak disambut baik oleh orang tuanya, sehingga harus mengurungkan niatnya tersebut.

“Sejak saat itu saya bekerja sebagai pelayan di Godzilla Cafe yang sekarang sudah tutup,” ujarnya.

Dari situ ia menceritakan setiap hari melayani pengunjung, sambil ia belajar dari para barista untuk membuat kopi hanya dari pandangan mata saja.

Sampai akhirnya ia benar-benar bisa memahami dasar-dasar membuat kopi hanya berdasarkan otodidak dan pandangan mata.

“Lalu saya naik jadi barista di Godzilla hanya dari belajar secara otodidak,” bebernya.

Namun, nasib tidak ada yang tahu, beberapa tahun kemudian Godzilla Cafe tutup dan ia pindah menjadi barista di Karaoke milik Anang Hermansyah.

“Tapi di Karaoke milik Anang ini saya gak kuat karena harus kerja sampai subuh, memang gajinya besar, tapi lama kelamaan saya capek pulang subuh terus,” ungkapnya.

Kemudian ia pindah lagi menjadi barista di Barbershop Richjoe. Namun, pada 2020 Pandemi Covid-19 menyerang Indonesia ditambah saat itu bulan puasa membuat cafe di Richjoe harus tutup sementara.

“Saya di situ banting setir jadi admin sebentar, lalu saya juga mencoba belajar jadi barber,” ungkapnya.

Teman-teman Tejo benar-benar terkejut saat ia banting setir menjadi barber. Pasalnya, mereka tau kalau Tejo sudah lama menjadi barista.

“Kalau saya belajar apapun terlebih dahulu, dari situ saya bisa memilih passion saya dimana,” ujarnya.

Kini, ia sudah mengelola sebuah kafe yang sekaligus menyediakan jasa barbershop setelah mendapatkan modal dari rekannya.

  • Bagikan