Berawal dari Anak Telat Bicara, Pasutri Breeder Kucing Asal Pasuruan 5 Kali Juara Fun Show Jatim

Nia Indriasari, owner Figoz Catteryn di dalam bilik khusus kucing di rumahnya.
Nia Indriasari, owner Figoz Cattery di dalam bilik khusus kucing di rumahnya. (Foto: Fonda Imelia Pradinitama)

Kucing Ras Milik Figoz Cattery Dijual hingga Seharga Rp 25 Juta

PASURUAN, Tugujatim.id – ‘Figoz Cattery’ tulisan pertama yang terbaca saat mengunjungi sebuah rumah di Jl Nuri No 22, Tambakrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Tulisan yang terbuat dari ukiran itu adalah nama dari breeder kucing yang dikelola oleh pasangan suami istri, Nia Indriasari dan Fathoni.

Pasutri ini dalam hal breeding kucing boleh dibilang bukan kaleng-kaleng. Ada berbagai prestasi yang telah mereka raih, di antaranya yang istimewa adalah 5 kali menjadi juara di Fun Show Jawa Timur. Wajar bila harga kucing termahal yang mereka rawat saat ini hingga mencapai Rp 25 juta.

Lomba Pertama Langsung Juara

Pada hari Selasa (05/07/2022), wartawan Tugu Jatim berkunjung ke rumahnya. Sewaktu masuk, langsung disuguhkan dengan pemandangan kucing-kucing lucu nan menggemaskan di dalam kandang besi yang disusun dengan rapi di sudut ruangan berukuran sekitar 3 kali 4 meter.

Di bagian depan berderet kucing berbagai jenis. Satu di antaranya telah melahirkan beberapa anakan baru. Tempat yang lainnya diisi kucing jenis medium, kampung, maupun ras.

Nia Indriasari, yang juga owner Figoz Cattery, menceritakan bahwa apa yang telah mereka capai di dunia kucing ini berawal dari hobi sejak 7 tahun lalu.

Saat itu anak pertamanya yang berusia 5 tahun lambat bicara dan punya kecenderungan  pada dunianya sendiri. Dia kemudian memilih untuk memelihara kucing sebagai hewan peliharaan sekaligus teman untuk berinteraksi dengan buah hatinya.

“Dari awal saya dan suami memang suka kucing, tapi baru coba pelihara di 2015 karena melihat anak saya pertama lambat bicaranya, jadi pengennya buat interaksi gitu dan juga melatih tanggung jawab,” terang perempuan beranak dua tersebut.

Saat itulah, Nia mulai iseng. Dia mencoba mengikutsertakan lomba kucing mediumnya yang diberi nama Rocky. Siapa sangka kucing itu meraih juara saat baru pertama kali mengikuti show. Saat ditanya detail tanggal acara tersebut, Nia mengaku lupa karena setelahnya dia dan suaminya hampir 1 bulan 2 kali mengikuti show.

Berikut beberapa perolehan terbaik yang telah pasutri itu peroleh di lomba Fun Show Jawa Timur: Best Mainecoon Kitten, Best Mainecoon Adult, Best Munschin Kitten, Best Munschin Adult, Best BSH Kitten.

Beberapa perolehan pita juara (roset) yang di pajang di ruang tamu.
Beberapa perolehan pita juara (roset) yang di pajang di ruang tamu. (Foto: Fonda Imelia Pradinitama)

Sambil menunjukkan beberapa kucingnya, Nia melanjutkan ceritanya. Dia menekuni pemeliharaan kucing ras setelah mendapat saran dari rekannya. Meskipun mahal, pihaknya melihat peluang dan berpikir bahwa breeding kucing ras ini masih sangat jarang dan eksklusif. Akhirnya, dia berani untuk fokus pada bidang ini.

“Memang mahal, tapi istilahnya mbendol ngarep (derita di depan) gitu loh. Bener kita keluarin uang banyak, tapi perawatannya kita kalau memang ada breeding usaha, kita akan balik modal,” jelasnya.

Perjuangan Mendirikan Cattery

Perempuan berhijab ini juga menceritakan bahwa dia harus melewati proses yang panjang sebelum akhirnya Figoz Cattery berdiri. Misalnya, dia  mengikuti diklat karena ada prosedur tersendiri sebelum mendirikan Cattery.

“Jadi sebelum kita bikin perusahaan harus ikut Diklat ujian kan gitu. Baru bisa mendirikan nama sendiri. Jadi nanti kalau kita punya anakan sendiri, kita memberikan nama belakang (Figoz). Ini khusus untuk kucing ras (tanpa persilangan),” ujar Nia.

Terhitung sejak 2016, Cattery mereka telah terdaftar sebagai breeding kucing resmi di CFA (Cat Fanciers Assosiation) skala Internasional. Kemudian mulai 2019 sudah menjadi anggota ICA (Indonesia Cat Asosiations). Secara spesifik Figoz Cat House melakukan breeding pada ras kucing BSH (british short hair) dan MC (Maine Coon).

Dalam keterangannya untuk sekelas kucing ras, nyatanya memang membutuhkan perawatan yang spesial dengan usaha yang lebih intens. Misalnya, menjaga kontak langsung dengan kucing lain agar kemurnian dari rasnya tetap terjaga.

Saat ditanya apa saja konsumsi makanan yang diberikan pada kucing-kucingnya,  dia mengatakan dapat menghabiskan 1 kg lebih daging segar (raw food) dalam sebulan. Daging ini jenisnya beragam yakni daging sapi, daging ayam, atau daging ikan (tuna, salmon, dll) dan makanan kering sebagai selingan.

Kucing ras maine coon (menkun) milik Figoz Cat House. (Foto: Instagram @figoz_cattery)

“Jadi kucing ras itu kita mengejar postur, apalagi kalau Menkun itu harus postur besar. Dalam satu hari, konsumsi daging ayam itu bisa mencapai 2 ons untuk setiap kucing dewasa,” jelasnya.

Untuk grooming atau perawatan kucing, mereka lakukan 2 minggu sekali untuk tetap menjaga keindahan dan kesehatan bulu kucing.

Kucing Dipasarkan di Medsos

Adapun cara menjual kucing tersebut, menurut Nia melalui media sosial. Kucing ras untuk jenis kucing BSH (british short hair) dan MC (Maine Coon) umumnya mereka banderol dengan kisaran harga Rp 10 hingga 15 juta.

Tentunya ini sebanding dengan bagaimana proses dalam menjaga kemurnian dan pemeliharaan kucing ras ini. Namun yang tidak kalah pentingnya, mereka mengklaim bahwa profil yang mereka jual tidak main-main dapat dibuktikan dengan menggondol juara di beberapa event.

“Yang jadi penilaian kalau kucing ras itu semua ras ada kategori masing-masing, kalau kucing medium itu hanya pada bulunya harus sehat, badannya, posturnya seperti itu, hanya basis, kalau kucing ras kita harus benar-benar detail dari bagian manapun sangat penting,” papar wanita berhijab tersebut.

Dengan mengikuti berbagai lomba dan menang pada beberapa kejuaraan membuktikan bahwa kucing yang mereka breeding memiliki profil yang mumpuni.

“Cat Fun Show sendiri merupakan event perkota antar komunitas kucing dan ikut itu seperti hanya kepuasan tersendiri. Mungkin kalau untuk kita lepas addopt itu ada kenaikan harga, karena ini memang kita jual dengan harga kualitas. Dalam artian menang lomba itu juga dapat membuat harga kucing naik,” jelas perempuan asli Pasuruan tersebut.

Selain itu, pihaknya juga pernah mengikuti Cat Show skala International yang diselenggarakan untuk mencari gelar bagi kucing ras yang nantinya dapat disematkan di depan nama kucing mereka seperti gelar CH (champions), GC (grand champions), DW (divisions winner), RW (regional winners).

Di akhir cerita, Nia mengaku beberapa kali mendapat kucing yang sengaja ditaruh di depan rumahnya entah siapa yang punya.

“Beberapa kali ada orang yang memang sengaja naruh kucing atau dibuang depan rumah,” katanya.

Namun dia menanggapinya dengan tidak mempermasalahkan hal tersebut dengan memasang CCTV ataupun papan peringatan dan lebih memilih untuk mensterilkan terlebih dahulu kemudian mencari orang yang ingin lanjut untuk merawatnya.


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim