TUBAN, Tugujatim.id – Tidak hanya menjadi pusat peribadatan, Klenteng Kwan Sing Bio Tuban juga membawa rezeki bagi para pedagang burung musiman. Di momen ulang tahun Yang Mulia Kong Co Kwan Sing Tee Koen ke-1865, Jumat (18/07/2025), sisi luar klenteng berubah menjadi pasar mini yang tidak biasa, khusus menjajakan burung pipit dan anak ayam.
Suasana di Jalan RE Martadinata mendadak semarak sejak pagi. Para umat dari berbagai penjuru datang untuk bersembahyang sekaligus menjalankan tradisi Ciswak—yakni melepas burung ke alam bebas sebagai simbol membuang sial dan mendatangkan keberuntungan.
Baca Juga: Ritual Ciswak, Cara Warga Tionghoa di Tuban Buang Sial dengan Melepas Hewan ke Alam Bebas
Di balik khidmatnya doa-doa yang terlantun, ada geliat ekonomi kecil yang hidup. Cahyo, 31, seorang pedagang burung di Tuban asal Jombang, sudah menyiapkan lapaknya sejak Rabu (16/07/2025). Dia datang tidak sendirian, namun bersama empat rekannya. Mereka membawa ribuan burung pipit dalam kurungan bambu.
“Kalau acara besar seperti ini, saya pasti datang. Sudah jadi langganan,” ujar Cahyo sambil merapikan sangkar-sangkar kecil yang dibawanya.
Menurut dia, Ciswak memang jadi momen panen tahunan bagi pedagang sepertinya. Burung pipit dia jual seharga Rp2.000 per ekor, sementara anak ayam dilepas seharga Rp5.000. Jumlah yang terjual bisa sangat besar, tergantung ramai tidaknya pengunjung yang datang.
“Kalau pas ramai, bisa habis sampai 10 ribu ekor burung,” bebernya.
Dia menambahkan, semua burung yang dijual dibawa langsung dari Jombang. Tidak ada pasokan tambahan dari daerah lain karena kualitas dan kelayakan burung sangat diperhatikan.
Ciswak Dipercaya sebagai Simbol Tolak Bala
Tradisi Ciswak ini sendiri sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan umat Tri Dharma. Melepas makhluk hidup dipercaya sebagai bentuk belas kasih dan bagian dari ritual tolak bala. Karena itu, tidak heran jika di momen seperti Imlek maupun ulang tahun tokoh suci seperti YM Kong Co, kegiatan ini selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari peribadatan.
Tidak sedikit pula warga yang datang sekadar untuk menyaksikan suasana. Anak-anak tampak antusias melihat burung-burung beterbangan, menciptakan pemandangan yang tidak hanya religius tapi juga syarat makna.
Di balik semaraknya perayaan klenteng terbesar di Asia Tenggara ini, terselip rezeki dan harapan. Bagi Cahyo dan pedagang burung di Tuban lainnya, ritual Ciswak bukan sekadar tradisi, tapi juga pintu pembuka berkah dari langit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








