Bersama Dirjen Dikti, Paragon Berikan Tips Pitching di Program Kedaireka

  • Bagikan
CEO Paragon Salman Subakat saat menjadi pemateri pada Selasa (01/06/2021). (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
CEO Paragon Salman Subakat saat menjadi pemateri pada Selasa (01/06/2021). (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

JAKARTA, Tugujatim.id – Ibarat proses akhir dari presentasi. Di mana pitching memiliki serangkaian proses yang perlu dilakukan secara bertahap. Sehingga, selain membangun budaya inovasi juga mampu mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dengan pelaku usaha maupun industri yang lebih efektif dan keberlanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh CEO PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat dalam Webinar CEO Mentorship Pelatihan Pitching untuk Insan Dikti Perguruan Tinggi dalam program Kedaireka yang berlangsung pada virtual Selasa sore (01/06/2021).

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam saat memaparkan materi. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam saat memaparkan materi. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

Diketahui, Kedaireka adalah platform yang dibangun Dirjen Dikti guna mewadahi pertemuan antara perguruan tinggi dengan dunia usaha maupun industri dalam orientasi pemanfaatan inovasi oleh masyarakat, yang sejalan dengan visi Kampus Merdeka Kemendikbud RI.

“Saya hanya memberikan background bahwa pitching itu hanya ujungnya saja, yang penting ngobrol dulu. Hal ini yang jarang diobrolin di text book misalnya ya. Di text book, bahasanya mungkin connection, networking mungkin the power of trust yang harus dibangun secara bertahap. Jadi, kalau kami memaknai pitching adalah proses akhir dalam presentasi, maka sebelum pitching ada serangkaian proses yang lebih tajam,” ujarnya.

(Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
(Foto: Dokumen)

Menurut Salman, perkembangan industri tak lepas dari peran akademisi. Lantaran, dalam membuat inovasi perusahaan sangat membutuhkan akademisi guna berkolaborasi lebih, lewat diskusi dan menguji teori-teori dari hulu ke hilir dan hilir ke hulu.

“Jadi, kunci dari pitching adalah pemahaman. Kami paham bahwa setiap perusahaan pasti pernah kecil dan setiap perusahaan yang kecil ini ingin besar. Jadi, bagaimana akademisi ini tidak hanya men-deliver ilmu dan riset, tapi juga menebarkan harapan,” sambungnya.

Untuk itu, beberapa kunci yang bisa diperhatikan sebelum melakukan pitching, yakni lakukan riset kepada perusahaan atau organisasi yang akan diajak bekerja sama. Mulai dari kenali konsumen langsung atau institusi, pahami kebutuhan mereka dan komunikasikan ide inovasi dengan baik. Termasuk menyusun dokumen yang kekinian, menarik, dan sustainable.

“Selain itu, perlu juga kami berimajinasi gitu ya misalnya bagaimana dalam diskusi informal gitu kita riset kayak perusahaan yang mau dituju itu gimana sih role modelnya, mereka mau menjadi seperti apa, visi jangka panjangnya seperti apa, apa yang bisa kita bantu,” jelasnya.

Materi yang disampaikan dalam webinar. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
Materi yang disampaikan dalam webinar. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

Pun, sebelum pitching langkah penting lain, yakni banyak mendengar. Hal tersebut selaras dengan langkah Paragon saat akan membuat gerakan pendidikan dengan melakukan pitching ke mahasiswa mendengarkan apa yang mereka butuhkan.

Lebih jauh, perusahaan akan lebih mudah jika dalam diskusi diajak fokus dengan tujuan akhir dengan empati. Misalnya, masih kata Salman, seorang researcher dari Paragon berkolaborasi membuat penelitian yang dampaknya berkelanjutan sehingga menaikkan corporate image hingga melahirkan banyak leader yang membangun ekosistem.

“Kita juga harus paham karakter orang yang dituju, ada orang yang tipenya dominance, influence, consientiousness, dan steadiness. Usahakan kalau perusahaan besar bisa mencakup semua. Misal dominance dan consientiousness senangnya yang think dan konkret, kalau influence dan steadiness cenderung senengnya people, humanis,” bebernya.

Para peserta webinar. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)
Para peserta webinar. (Foto: Feni Yusnia/Tugu Jatim)

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nizam berharap, melalui kolaborasi pentahelix hingga exahelix antara akademika dan mitranya dalam Kedaireka mampu mendorong hasil inovasi perguruan tinggi kian menghilir dan program dari hilir akan menghulu.

“Sehingga terjadi sinergi perputaran dalam inovasi dan ekonomi. Jadi, inovasi itu men-drive pertumbuhan ekonomi kita ke depan dan problem-problem hilir men-drive penelitian di perguruan tinggi sehingga produk inovasi kampus bisa terus diimplementasikan,” katanya.

Pitching, Nizam melanjutkan, menjadi salah satu kunci kesempatan akademika untuk menjual ide dan menawarkan pemikiran sehingga dapat diterima oleh pelaku industri sebagai salah satu mitra yang ada di hilir.

“Untuk itu, pitching menjadi sangat penting dan hari ini salah satu agenda dari Kedaireka untuk membangun ekosistem, baik bagi teman-teman di perguruan tinggi maupun teman-teman industri untuk dua arah berkomunikasi dan silaturahmi yang berhubungan sehingga terjadi aliran sinergi di antara kedua belah pihak,” tutupnya.

  • Bagikan