BMKG Prediksi Musim Kemarau Mulai April 2021

  • Bagikan
Ilustrasi kemarau. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)
Ilustrasi kemarau. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)

TUBAN, Tugujatum.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan musim kemarau 2021 akan mulai terjadi pada April 2021 di 22,8 persen Zona Musim (ZOM), yaitu beberapa zona musim di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

“BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret 2021, setelah itu monsun Australia akan mulai aktif. Karena itu, musim kemarau diprediksi mulai April,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta dalam siaran persnya Kamis (25/03/2021).

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Dwikorita mengatakan, April-Mei 2021 merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau (masa pancaroba). Meski begitu, sejumlah daerah mulai memasuki musim kemarau, tapi tak serentak.

“Hasil pemantauan terhadap anomali iklim global ini menunjukkan kondisi La Nina diprediksi masih akan terus berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas yang terus melemah. Sedangkan pemantauan kondisi Indian Ocean Dipole Mode (IOD) diprediksi netral hingga September 2021,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan, kedatangan musim kemarau umumnya berkaitan erat dengan peralihan angin baratan (monsun Asia) menjadi angin timuran (monsun Australia). Sejumlah wilayah yang akan memasuki musim kemarau pada April 2021, yaitu untuk wilayah Nusa Tenggara dan Bali, Jawa, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei-Juni 2021.

Sementara Deputi Bidang Klimatologi Herizal menjelaskan, dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 22,8 persen diprediksi akan mengawali kemarau pada April 2021, yaitu beberapa zona musim di Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa.

Kemudian 30,4 persen wilayah akan memasuki kemarau pada Mei 2021, meliputi sebagian Nusa Tenggara, sebagian Bali, Jawa, Sumatera, sebagian Sulawesi, dan sebagian Papua.

Sedangkan sebanyak 27,5 persen wilayah akan memasuki kemarau pada Juni 2021, meliputi sebagian Sumatera, Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan Papua.

Bulan April-Mei merupakan masa peralihan dari musim hujan ke kemarau. Karena itu, Herizal mengimbau agar perlu diwaspadai potensi hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang, angin puting beliung, dan potensi hujan es yang biasa terjadi pada periode tersebut.

Jika dibandingkan dengan rerata klimatologis awal musim kemarau pada periode 1981-2010, maka di Indonesia diprakirakan mundur pada 197 ZOM (57,6 persen), SAMA pada 97 ZOM (28,4 persen), dan MAJU pada 48 ZOM (14,0 persen).

Selanjutnya, apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis akumulasi curah hujan musim kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi kemarau diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 182 ZOM (53,2 persen).

“Musim kemarau pada 2021 akan datang lebih lambat dengan akumulasi curah hujan yang mirip dengan kondisi kemarau biasanya. Artinya, kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstrem, seperti kemarau pada 2015 dan 2019,” ujar Herizal. (Mochamad Rochim/ln)

 

  • Bagikan