• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sunan Bonang

Warga yang tengah antre berburu bubur suro  Santapan Khas Ramadan Peninggalan Sunan Bonang. Foto Rochim

Bubur Suro, Santapan Khas Ramadan Peninggalan Sunan Bonang Jadi Buruan Warga

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
3 months ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

TUBAN, Tugujatim.id – Usai Salat Duhur suasana Kompleks Makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban, mulai bergeliat. Asap mengepul dari dua wajan besar di atas tungku kayu bakar.

Sejumlah pengurus tampak bergantian mengaduk tanpa henti. Di tempat inilah Bubur Suro Sunan Bonang dimasak setiap hari selama Ramadan.

You might also like

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

29/05/2026 7:00 AM
Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

27/05/2026 8:08 PM

Tradisi berbagi takjil gratis ini diyakini sebagai warisan peninggalan Sunan Bonang yang masih terjaga lintas generasi. Setiap sore, ratusan porsi bubur hangat dibagikan kepada warga sekitar, musafir, hingga para peziarah yang datang ke kawasan makam.

Bubur Suro memiliki karakter berbeda dibanding Bubur Muhdhor. Jika Bubur Muhdhor identik dengan daging kambing dan cita rasa Timur Tengah yang lebih pekat.

Bubur Suro
Warga yang tengah antre berburu bubur suro  Santapan Khas Ramadan Peninggalan Sunan Bonang. Foto Rochim

Bubur Suro justru menggunakan tulang dan daging sapi dengan racikan bumbu kebuli yang dipadukan rempah Jawa. Hasilnya adalah bubur dengan rasa gurih kuat namun tetap ringan di lidah.

Peracik Bubur Suro, Lazim, menuturkan bahwa tradisi ini bukan kegiatan baru. Berdasarkan cerita turun-temurun yang ia terima dari para pendahulu, memasak bubur untuk Ramadan sudah dimulai sejak 1937.

Kala itu, keluarga Al-Hamid dari Jakarta menjadi penggagas awal sebelum kemudian pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat Tuban untuk diteruskan setiap bulan puasa.

“Awalnya tradisi ini digagas keluarga Al-Hamid dari Jakarta, lalu diteruskan oleh warga Tuban hingga rutin digelar tiap Ramadan,” ujarnya.

Dalam praktiknya, kebutuhan bahan tidak sedikit. Lazim menyebut setiap hari panitia menghabiskan sekitar 12,5 hingga 13 kilogram beras. Semua bubur yang telah matang kemudian dibagikan gratis tanpa syarat kepada siapa pun yang datang.

“Berasnya sekitar segitu setiap hari. Dibagikan kepada siapa saja yang mau mengambil, tidak dibatasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, kekuatan rasa Bubur Suro terletak pada penggunaan bumbu kebuli yang kaya rempah. Meski berbentuk bubur yang lebih cair dibanding nasi kebuli, karakter rempahnya tetap terasa kuat dan memberi sensasi hangat di tubuh saat disantap untuk berbuka.

“Bumbunya pakai kebuli. Rasanya seperti kebuli kalau nasi, tapi ini bubur karena airnya lebih banyak. Rempahnya terasa dan hangat di badan,” jelas Lazim.

Proses memasak dimulai sekitar pukul 11.00 WIB. Kelapa diparut manual untuk diambil santannya, sementara tulang sapi direbus lama hingga menghasilkan kaldu pekat. Selama kurang lebih dua jam, bubur harus terus diaduk bergantian agar tidak pecah maupun menggumpal.

“Kalau berhenti mengaduk nanti bisa menggumpal, jadi harus gantian terus,” imbuhnya.

Menjelang waktu pembagian, halaman makam mulai dipadati warga dari berbagai usia. Antrean mengular hampir setiap hari Ramadan. Salah satu pemburu setia Bubur Suro adalah Achmad Taufik, warga Kutorejo.

Ia mengaku sudah mengenal tradisi ini sejak kecil pada era 1960-an dan hingga kini tetap rutin datang setiap Ramadan. Baginya, Bubur Suro bukan sekadar menu berbuka, tetapi bagian dari kenangan masa kecil yang terus ia jaga.

“Sejak kecil sekitar tahun 60-an saya sudah ikut antre Bubur Suro di sini. Sampai sekarang tiap Ramadan tetap datang,” katanya.

Taufik biasanya datang lebih awal setelah menunaikan salat di Masjid Sunan Bonang agar tidak kehabisan. Ia menilai cita rasa bubur ini memiliki kekhasan yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Tadi saya berangkat sekitar jam setengah tiga, salat dulu, setelah itu langsung ikut antre. Rasanya gurih, rempah-rempahnya mantap dan badan jadi hangat,” tuturnya.

Menurutnya, keunikan rasa itulah yang membuat Bubur Suro tetap diburu warga dari tahun ke tahun.

“Ini khas, jarang ada yang seperti ini. Makanya tiap Ramadan tetap diburu,” ucap Taufik.

Hingga kini, tradisi Bubur Suro tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Selain untuk warga sekitar, bubur juga disiapkan bagi para musafir dan peziarah yang singgah secara cuma-cuma.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Repoter: Mochamad Abdurrochim

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: berita TubanKabupaten TubanSunan BonangTubanWisata KulinerWisata kuliner Tubanwisata religiwisata sejarahwisata Tuban
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

by Dwi Linda
27/05/2026 8:08 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon...

Biya Agus.

Biya Agus, Magister Fisika yang Viral di TikTok Berkat Pembahasan soal Rezeki bersama Chatour Travel

by Dwi Linda
19/05/2026 4:41 PM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Senin malam (18/05/2026), H Agus Rahman MPd atau yang populer dengan nama Biya Agus Chatour Gresik, sesenggukan...

Mie Cendana.

Atika C. Larasati, Owner Mie Cendana Viral di Malang Kolaborasi Unik bareng Pelaku UMKM Lokal Perempuan

by Dwi Linda
01/05/2026 7:27 PM
0

MALANG, Tugujatim.id - Siapa sih yang nggak mengenal Mie Cendana sebagai salah satu kuliner viral dari Malang, Jawa Timur? Bahkan,...

Next Post
Korupsi di KBS

Kejati Jatim Selidiki Kasus Dugaan Korupsi di KBS Dengan Kerugian Negara Rp7 Miliar

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID