• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sunan Bonang

Warga yang tengah antre berburu bubur suro  Santapan Khas Ramadan Peninggalan Sunan Bonang. Foto Rochim

Bubur Suro, Santapan Khas Ramadan Peninggalan Sunan Bonang Jadi Buruan Warga

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
5 months ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

TUBAN, Tugujatim.id – Usai Salat Duhur suasana Kompleks Makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban, mulai bergeliat. Asap mengepul dari dua wajan besar di atas tungku kayu bakar.

Sejumlah pengurus tampak bergantian mengaduk tanpa henti. Di tempat inilah Bubur Suro Sunan Bonang dimasak setiap hari selama Ramadan.

You might also like

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

06/07/2026 5:13 PM
Blitar

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

26/06/2026 10:54 PM

Tradisi berbagi takjil gratis ini diyakini sebagai warisan peninggalan Sunan Bonang yang masih terjaga lintas generasi. Setiap sore, ratusan porsi bubur hangat dibagikan kepada warga sekitar, musafir, hingga para peziarah yang datang ke kawasan makam.

Bubur Suro memiliki karakter berbeda dibanding Bubur Muhdhor. Jika Bubur Muhdhor identik dengan daging kambing dan cita rasa Timur Tengah yang lebih pekat.

Bubur Suro
Warga yang tengah antre berburu bubur suro  Santapan Khas Ramadan Peninggalan Sunan Bonang. Foto Rochim

Bubur Suro justru menggunakan tulang dan daging sapi dengan racikan bumbu kebuli yang dipadukan rempah Jawa. Hasilnya adalah bubur dengan rasa gurih kuat namun tetap ringan di lidah.

Peracik Bubur Suro, Lazim, menuturkan bahwa tradisi ini bukan kegiatan baru. Berdasarkan cerita turun-temurun yang ia terima dari para pendahulu, memasak bubur untuk Ramadan sudah dimulai sejak 1937.

Kala itu, keluarga Al-Hamid dari Jakarta menjadi penggagas awal sebelum kemudian pelaksanaannya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat Tuban untuk diteruskan setiap bulan puasa.

“Awalnya tradisi ini digagas keluarga Al-Hamid dari Jakarta, lalu diteruskan oleh warga Tuban hingga rutin digelar tiap Ramadan,” ujarnya.

Dalam praktiknya, kebutuhan bahan tidak sedikit. Lazim menyebut setiap hari panitia menghabiskan sekitar 12,5 hingga 13 kilogram beras. Semua bubur yang telah matang kemudian dibagikan gratis tanpa syarat kepada siapa pun yang datang.

“Berasnya sekitar segitu setiap hari. Dibagikan kepada siapa saja yang mau mengambil, tidak dibatasi,” tegasnya.

Ia menambahkan, kekuatan rasa Bubur Suro terletak pada penggunaan bumbu kebuli yang kaya rempah. Meski berbentuk bubur yang lebih cair dibanding nasi kebuli, karakter rempahnya tetap terasa kuat dan memberi sensasi hangat di tubuh saat disantap untuk berbuka.

“Bumbunya pakai kebuli. Rasanya seperti kebuli kalau nasi, tapi ini bubur karena airnya lebih banyak. Rempahnya terasa dan hangat di badan,” jelas Lazim.

Proses memasak dimulai sekitar pukul 11.00 WIB. Kelapa diparut manual untuk diambil santannya, sementara tulang sapi direbus lama hingga menghasilkan kaldu pekat. Selama kurang lebih dua jam, bubur harus terus diaduk bergantian agar tidak pecah maupun menggumpal.

“Kalau berhenti mengaduk nanti bisa menggumpal, jadi harus gantian terus,” imbuhnya.

Menjelang waktu pembagian, halaman makam mulai dipadati warga dari berbagai usia. Antrean mengular hampir setiap hari Ramadan. Salah satu pemburu setia Bubur Suro adalah Achmad Taufik, warga Kutorejo.

Ia mengaku sudah mengenal tradisi ini sejak kecil pada era 1960-an dan hingga kini tetap rutin datang setiap Ramadan. Baginya, Bubur Suro bukan sekadar menu berbuka, tetapi bagian dari kenangan masa kecil yang terus ia jaga.

“Sejak kecil sekitar tahun 60-an saya sudah ikut antre Bubur Suro di sini. Sampai sekarang tiap Ramadan tetap datang,” katanya.

Taufik biasanya datang lebih awal setelah menunaikan salat di Masjid Sunan Bonang agar tidak kehabisan. Ia menilai cita rasa bubur ini memiliki kekhasan yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Tadi saya berangkat sekitar jam setengah tiga, salat dulu, setelah itu langsung ikut antre. Rasanya gurih, rempah-rempahnya mantap dan badan jadi hangat,” tuturnya.

Menurutnya, keunikan rasa itulah yang membuat Bubur Suro tetap diburu warga dari tahun ke tahun.

“Ini khas, jarang ada yang seperti ini. Makanya tiap Ramadan tetap diburu,” ucap Taufik.

Hingga kini, tradisi Bubur Suro tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Selain untuk warga sekitar, bubur juga disiapkan bagi para musafir dan peziarah yang singgah secara cuma-cuma.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Repoter: Mochamad Abdurrochim

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: berita TubanKabupaten TubanSunan BonangTubanWisata KulinerWisata kuliner Tubanwisata religiwisata sejarahwisata Tuban
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

by Dwi Linda
06/07/2026 5:13 PM
0

LUMAJANG, Tugujatim.id – Di balik meroketnya angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kabupaten Lumajang selama libur Lebaran 2026, ada satu...

Blitar

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

by Mochamad Abdurrochim
26/06/2026 10:54 PM
0

"Sedih rasanya melihat teman-teman lain berseragam. Tapi saya harus sabar, menepi dulu demi bantu orang tua. Saya jualan es teh....

Sekolah Rakyat.

Menolak Padam, Asa Baru Silvia dan “The Invisible People” dari Bangku Sekolah Rakyat

by Dwi Linda
26/06/2026 5:47 PM
0

"Ada banyak pahlawan dalam kamus hidup Silvia Putri Cahyani, pelajar 14 tahun di Kota Batu, Jawa Timur. Paman dan bibinya,...

Bupati Sidoarjo.

Terharu! Bocah Usia 7 Tahun Luka Bakar 46 Persen, Bupati Sidoarjo Subandi Siapkan Pengobatan hingga Pekerjaan untuk sang Ayah

by Dwi Linda
16/06/2026 9:24 PM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Bupati Sidoarjo H. Subandi menjenguk Izzan, 7, bocah yang mengalami luka bakar hingga 46 persen dan kini...

Next Post
Korupsi di KBS

Kejati Jatim Selidiki Kasus Dugaan Korupsi di KBS Dengan Kerugian Negara Rp7 Miliar

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID