BLITAR, Tugujatim.id – Kabupaten Blitar merupakan salah satu sentra produksi telur nasional dengan kapasitas produksi yang tidak sedikit. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar mencatat, rata-rata produksi telur per hari mencapai sebanyak 450 ton.
Bupati Blitar Rijanto membenarkan, kendati memiliki surplus produksi yang besar, pemanfaatan stok tersebut untuk mendukung program-program nasional di daerah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), saat ini belum optimal dan masih menjadi “pekerjaan rumah”.
Baca Juga: Peternak Blitar Bagikan 1 Juta Telur Gratis, Protes Harga Anjlok di Tengah Ancaman Gulung Tikar
Kondisi tersebut mengemuka di tengah situasi pasar yang menantang bagi para peternak rakyat. Saat ini, harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp21.000 per kilogram. Di sisi lain, harga bahan dasar pakan terus mengalami lonjakan, dipicu dinamika geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar mata uang.
Menanti Formula Kebijakan dari Pemerintah Pusat
Rijanto menyatakan, situasi yang dihadapi oleh peternak ayam petelur skala kecil di wilayah Blitar Raya memerlukan perhatian dari pemerintah pusat. Menurut dia, diperlukan rumusan kebijakan dalam waktu dekat untuk membantu menstabilkan kondisi ekonomi para peternak lokal.
“Peternak ayam petelur kecil di Blitar Raya dan sekitarnya membutuhkan pertolongan atau uluran tangan dari pemerintah pusat. Harapan kami, pemerintah dapat segera merumuskan kebijakan terkait situasi ini,” ujar Rijanto, Senin (01/06/2026).
Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rijanto mencatat bahwa penyerapan telur lokal saat ini belum berjalan secara optimal. Padahal, dia mengatakan, dengan produksi harian sebesar 450 ton, Bumi Penataran dinilai sangat mumpuni untuk menyuplai kebutuhan protein bagi program tersebut.
“Tadi disampaikan juga oleh Pak Wabup salah satunya lewat program Makan Bergizi Gratis. Nah, SPPG kita nampaknya pemanfaatan telur itu kurang,” jelasnya.
Dia menambahkan, kestabilan harga dapat lebih terjaga jika terdapat instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN), kementerian terkait, atau presiden agar pengadaan telur untuk program MBG dilakukan melalui satu pintu, yakni Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Kalau peternak menyetor ke KDMP dan kemudian pihak pengelola MBG atau SPPG mengambil pasokannya dari sana, maka stabilitas harga diharapkan dapat terjadi karena mekanismenya lebih terkendali,” jelasnya.
Kejar Stabilitas Harga sesuai Acuan Bapanas
Senada dengan Bupati, Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansyah menekankan pentingnya peran koperasi dalam memutus rantai distribusi yang terlalu panjang. Menurut dia, distribusi melalui KDMP akan membantu memastikan harga di tingkat peternak sesuai dengan acuan yang ditetapkan.
“Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), acuan harga berada di kisaran Rp24.500 hingga Rp26.500. Jika suplai berjalan melalui koperasi, harga diharapkan bisa lebih stabil dan meminimalisasi permainan harga oleh spekulan di lapangan,” terang Beky.
Baca Juga: Sempat Tembus Rp38 Ribu, Harga Telur Puyuh di Tuban Terjun Bebas “Terparah” Rp17 Ribu
Langkah penguatan melalui jalur koperasi ini dipandang sebagai salah satu upaya agar margin harga tetap terjaga secara adil, baik bagi peternak rakyat maupun keterjangkauan bagi masyarakat luas.
Isu ini mencuat setelah ratusan peternak ayam dari wilayah eks Karesidenan Kediri menggelar aksi keprihatinan dengan membagikan 1 juta butir telur secara cuma-cuma kepada warga di halaman Kantor Pemkab Blitar.
Aksi bagi-bagi telur gratis tersebut merupakan puncak dari keresahan para peternak skala mikro-kecil atas anjloknya harga telur yang tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi. Peternak berharap pemerintah segera memberikan kepastian kebijakan agar keberlangsungan sektor peternakan di wilayah Blitar Raya dan sekitarnya tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Moch. Luki Azhari
Editor: Dwi Lindawati








