Catatan Aqua Dwipayana: Lebih Senang Disebut Murid daripada Guru

  • Bagikan
Aqua Dwipayana
Motivator Aqua Dwipayana saat kunjungan dan silaturahim di Malang beberapa waktu lalu. (Foto: BEN)

“Agar gampang menjelaskannya, tolong sampaikan kepada beliau bahwa saya murid Bapak. Dengan begitu tidak banyak pertanyaan tentang saya. Jika tahu bahwa saya muridnya Bapak maka beliau tentunya mau menerima saya untuk silaturahim sekaligus banyak belajar pada beliau.”

Kalimat di atas, selalu saya sampaikan kepada teman-teman yang mau mengenalkan saya ke kawan-kawannya. Itu sengaja saya sebutkan dan tekankan agar mereka lebih mudah menyampaikan pesannya.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Di sisi lain selama ini saya lebih senang disebut sebagai murid daripada guru. Itu sesuai dengan niat saya sejak puluhan tahun lalu. Setiap ketemu siapapun saat silaturahim, saya niatkan sepenuhnya ibadah. Ingin belajar sebanyak-banyaknya pada semua orang yang ditemui.

Pengalaman saya selama ini setiap ketemu dengan seseorang di manapun jumpanya dan dalam kondisi apapun, selalu mendapatkan berbagai pelajaran dan nilai-nilai yang berharga. Baik dari tutur kata maupun tingkah lakunya.

Karena melihat dan menilai semua manusia secara universal – sama semuanya tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA – sehingga ngobrolnya tidak ada gap dan beban. Komunikasinya mengalir tanpa ada batas dan jarak.

Niatkan dan Berusaha Membantu Mereka Secara Optimal

Semuanya dilakukan secara alamiah sebab saat saya berkomunikasi sama sekali tidak ada target-target yang sifatnya duniawi. Apalagi buat kepentingan pribadi dan merugikan orang lain termasuk mereka yang diajak berkomunikasi.

Justru yang selalu saya niatkan dan berusaha melaksanakannya adalah membantu mereka secara optimal dengan tulus ikhlas. Sama sekali tidak mengharapkan balasan termasuk dari orang yang dibantu.

Semuanya diniatkan sepenuhnya ibadah, sehingga saya meyakini balasannya dari TUHAN. Itu adalah yang terbaik dan tidak ada satu manusia di muka bumi ini yang mampu menandinginya.

Jika jadi guru bebannya terlalu berat. Meski selama belasan tahun saya terbiasa menjadi dosen luar biasa bidang Ilmu Komunikasi di lingkungan TNI dan Polri. Saat berada di kelas di hadapan ratusan perwira siswa, saya menganggap mereka setara. Sama semuanya.

Niat utamanya adalah saling belajar dan berbagi. Makanya saya selalu menyebutnya sharing Komunikasi dan Motivasi.

Berada di manapun dalam kondisi formal, niatnya ibadah. Ingin banyak belajar pada seluruh yang hadir tentang berbagai hal. Sebaliknya banyak berbagi pada semua peserta.

Mereka Guru Terbaik Dalam Kehidupan

Alhamdulillah dengan konsisten melaksanakan itu semuanya lancar sekali. Bahkan selesai acara masih ada yang tetap menjalin komunikasi yang baik dengan saya. Semuanya jadi saudara dan saya semakin semangat untuk banyak belajar pada mereka.

Ada satu dua mantan perwira siswa di TNI dan Polri yang memanggil dengan sebutan “Pak Dosen”. Langsung saya ralat dengan memanggil nama saja. Apalagi usia saya dengan mereka sebaya bahkan ada yang lebih tua dari saya.

“Tolong panggil nama saja. Dosen itu kan di kelas dan sudah lewat. Kalau di luar kita bersaudara. Levelnya setara. Justru saya rakyat biasa yang tidak punya pangkat dan jabatan. Jadi lebih nyaman dan akrab disebut nama,” ujar saya serius.

Alhamdulillah mereka mau melaksanakan pesan saya. Namun untuk manggil nama sepertinya berat dan sungkan, sehingga menyebutnya “Bapak” atau “Mas” atau “Uda” karena saya berasal dari Sumatera Barat.

Apapun sebutan mereka, saya hargai. Terpenting komunikasinya tidak ada jarak, lancar, dan saling menghargai.

Semoga saya tetap konsisten jadi murid yang terus-menerus belajar pada semua orang yang ditemui. Mereka adalah guru terbaik dalam kehidupan. Aamiin ya robbal aalamiin…

>>Dari Bogor saat menikmati kebersamaan dengan keluarga, saya ucapkan selamat berusaha untuk selalu jadi murid yang baik dan belajar pada guru terbaik. Salam hormat buat keluarga. 13.00 23082020😃<<<

 

Penulis : Aqua Dwipayana

  • Bagikan