Cerita Keluarga Distrian Andi Prasetya, Salah Satu Kru KRI Nanggala 402 Kelahiran Trenggalek

  • Bagikan
Ibu Suratun tengah menunjukkan foto putranya, Distrian Andi Prasetya, salah satu prajurit sekaligus awak KRI Nanggala 402 yang telah dinyatakan gugur bersama 52 kru lainnya. (Foto: M Zamzuri/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id –On Eternal PatrolKRI Nanggala 402 memendam cerita pilu. Satu di antara 53 kru adalah warga Kelurahan Surodakan, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Dia bernama Distrian Andi Prasetya. Putra dari pasangan Mohammad Solichin (alm) dan Suratun.

Ia dikenal keluarga sebagai orang yang memiliki tekad kuat untuk mencapai tujuan. Dan itu berhasil dibuktikan ketika Distrian yang semula gagap berenang, kemudian menjadi mahir menaklukkan air demi masuk angkatan laut (TNI AL).

Untuk diketahui, Indonesia berkabung pasca-KRI Nanggala 402 dinyatakan tenggelam di laut utara Bali beserta seluruh krunya saat menjalankan misi untuk tanah air. Kondisi itu disebut on eternal patrol, suatu kondisi di mana AL tak berhasil kembali saat menjalani misi dalam rangka memperkuat pertahanan laut Indonesia. Misi itu pun dikenal dengan misi untuk selamanya.

Mendengar kabar bahwa KRI Nanggala 402 dinyatakan tenggelam beserta seluruh kru-nya, keluarga Destrian belum sepenuhnya percaya. Mereka masih berharap ada keajaiban kalau putranya bisa pulang dengan selamat. Suratun (ibu Distrian) sangat mengenal anak-anaknya termasuk Distrian.

Dia bilang, Distrian adalah anak yang penurut, bertekad kuat, tidak mudah mengeluh, dan misterius karena jarang bercerita ke keluarga.

“Saya berdoa dan berharap ada keajaiban untuk anak saya,” kata Suratun.

Kapal selam KRI Nanggala 402 buatan Jerman saat melaksanakan operasi siaga tempur perbatasan (Trisula) tahun 2017 di Ambon. (Foto: Dokumen/TNI AL) jokowi
Kapal selam KRI Nanggala 402 buatan Jerman saat melaksanakan operasi siaga tempur perbatasan (Trisula) tahun 2017 di Ambon. (Foto: Dokumen/TNI AL)

Di tengah suasana berkabungnya, Suratun berusaha tegar untuk menceritakan sosok dari Distrian. Menurut dia, Distrian berhasil membuktikan perjuangan seorang anak yang memiliki tekad kuat, akan memetik hasilnya, biarpun bukan orang yang memiliki silsilah keluarga AL.

“Dulu, sewaktu sekolah, Distrian suka dengan olahraga. Sepak bola dan futsal. Dia sempat bilang ingin menjadi AL. Sebagai orang tua (ortu), keinginan anak itu pun direstuinya,” terangnya.

Distrian pria kelahiran 28 Desember 1989 tersebut mendaftar menjadi AL pada 2008, tapi gagal saat ujian berenang. Dia tak menyerah, pengalaman gagal menjadi pelajaran berharganya. Sehingga, Distrian menutupi kekurangannya dengan berlatih renang secara konsisten.

Benar, karena dia bukan anak dari keluarga AL, Distrian pun melatih kemampuan berenangnya tanpa seorang pelatih atau otodidak. Terus dan terus dengan bumbu konsistensi pun membuahkan hasil, Distrian diterima AL pada 2010 lalu.

Suratun mengaku, Distrian mendapat tugas pertama di Merauke. Namun tipikal Distrian yang misterius, dia jarang bercerita tentang tugasnya, cuma meminta restu ketika hendak menjalankan tugas. Setahu Suratun, anak ketiganya bertugas menjadi penyelam waktu itu. “Tiap kali pulang yang selayaknya anak, tapi dia tak cerita tugas apalagi pangkatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Nanang Noviantoro, kakak Distrian mengatakan, Distrian memiliki sifat suka membantu, jujur, dan bukan tipikal orang yang suka ingkar janji. Sifat itu seperti warisan dari alm M Solichin, ayahnya.

“Seperti bukan orang yang mudah berkhianat,” ucap kakak Destrian nomor dua tersebut.

Nanang melanjutkan, sifat murah tangan itu biasa dilakukan Distrian, yang rela membantu orang lain tanpa berpikir panjang. Dan, sifat itu dibuktikannya ketika Distrian mengacungkan diri untuk menggantikan rekan AL-nya yang sakit untuk menjalankan tugas di KRI Nanggala 402.

“Sebenarnya dia tidak mendapat tugas waktu itu, tapi karena rekannya sakit, maka adik saya yang menawarkan diri untuk menggantikan posisi rekannya di KRI Nanggala 402,” kata dia.

Tak disangka, tugas tersebut menjadi tugas selamanya untuk KRI Nanggala 402. Kapal beserta 53 kru dinyatakan gugur dalam tugas pengujian rudal di laut utara Bali. Kapal itu hilang kontak saat hendak melancarkan rudal. Dan Kapal MV Swift Rescue milik Singapura berhasil menangkap gambaran KRI Nanggala 402 di kedalaman 838 meter dari permukaan laut dengan kondisi kapal terpecah menjadi tiga bagian.

  • Bagikan