Cerita Mahasiswa UM Dirikan Jasa Packing Barang, Tak Pernah Dapat Nilai C

Cerita Mahasiswa UM Dirikan Jasa Packing Barang, Tak Pernah Dapat Nilai C

  • Bagikan
Mochammad Saifullah, mahasiswa UM yang juga pendiri usaha jasa packing.
Mochammad Saifullah, mahasiswa UM yang juga pendiri usaha jasa packing. (Foto: Dokumen/Moch. Saiful)

Mochammad Saifullah, Sosok Dibalik Suksesnya Jasa Packing Barang Anak Kos Lewat Online Pertama di Malang

Tugujatim.id –  Namanya Mochammad Saifullah, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Sosok yang boleh dibilang inspiratif bagi para mahasiswa. Betapa tidak, di tengah kesibukannya menjalani aktivitas kuliah, dia bisa berkreasi mendirikan jasa packing barang anak kos lewat online pertama di Malang.

Ditemui di sela-sela kesibukannya di Kampus UM, pemuda yang akrab disapa Saiful itu menceritakan pengalamannya mendirikan usaha jasa yang telah banyak memberikan cuan tersebut.

Semua itu berawal di  liburan semester 2 tahun 2020 lalu. Sebuah ide terbersit di benak Saiful untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat tetapi tidak perlu bekerja untuk orang lain.

Lalu dia bersama keempat temannya dari Jurusan Sastra Arab, terinspirasi dari akun Instagram di Yogyakarta yang menawarkan jasa packing baju dan barang mahasiswa. Diapun menawarkan diri untuk berkolaborasi dengan usaha jasa dari Yogyakarta tersebut.

“Setelah berkonsultasi dengan jasa di Yogyakarta, kami mendaftarkan nama kami ke Jasa Packing Indonesia agar jasa kami terstock ke daftar pencarian utama dan cepat terkenal. Ternyata, memang benar di Malang sendiri belum ada jasa packing yang sasarannya mahasiswa,” ujar mahasiswa 22 tahun itu.

Usaha jasa itu terbukti berguna bagi mahasiswa. Pria penyuka pencak silat itu kebanjiran pelanggan, terlebih saat masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan banyak mahasiswa meninggalkan kos untuk waktu yang lama.

Saiful membagi 3 tim dan merekrut 2 tambahan pekerja. Masing-masing orang bekerja selama 8-13 jam nonstop pada hari libur. Dalam sehari, Saiful dan tim bisa meraih keuntungan hingga Rp 3 juta.

“Pada Senin-Jumat, dikarenakan memprioritaskan kuliah, kami hanya membatasi hingga 5 orderan saja,” ujar sosok asli Malang tersebut.

Bahkan, saking memprioritaskan pendidikan terlebih dahulu, mereka sepakat untuk mengambil jadwal kuliah hanya di pagi hari saja, mulai dari pukul 07.00-12.00 WIB. Selebihnya mereka manfaatkan waktunya untuk bekerja.

Mochammad Saifullah saat berpidato di salah satu acara.
Mochammad Saifullah saat berpidato di salah satu acara. (Foto: Dokumen)

Kini, jasa yang didirikan Saiful terus berjalan. Namun demi fokus pada kuliah dan organisasi, dia dan teman-temannya menunda membesarkan nama jasa mereka. Mereka membuat rencana yang lebih matang saat sudah lulus nanti.

“Rencananya, kami mungkin akan membangun kantor dengan uang kas yang sudah terkumpul. Dan kami juga akan meluaskan cakupan bukan hanya jasa packing tetapi jasa mencarikan mahasiswa baru tempat kos dan antar-jemput mahasiswa dari bandara ke kos,” ungkap mahasiswa yang juga Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Sastra UM itu.

Enjoy adalah Kunci

Saat ditanya apakah dia kewalahan dengan kuliah sambil menjalang usaha jasa packing barang? Mahasiswa dengan hobi fotografi itu mengungkap semuanya harus stabil dan dibawa senang.

“Saya tidak kewalahan menjalani semua itu. Semua step saya buat have fun. Ada kalanya saya jenuh sebagai manusia biasa dan merasa terlalu sibuk, tetapi hal itu tidak pernah berpengaruh terhadap kuliah saya. Selama ini saya Alhamdulillah tidak pernah mendapat nilai C,” kata alumni Pondok Pesantren Ibadurrahman Al-Islamy.

Sementara, untuk menyeimbangkan organisasi, kuliah, dan kerja, Saiful menyarankan untuk pintar membagi fokus sesuai apa yang sedang dijalani dan menikmati prosesnya.

Menurutnya, memikirkan dan melakukan segala hal secara bersamaan hanya akan membebani pikiran, oleh karena itu fokus terhadap satu hal adalah kunci dari menikmati proses berorganisasi sambil kerja.

Di akhir wawancara, Saiful berpesan untuk mengenal potensi dan kapasitas diri sendiri. Menurutnya, semua organisasi yang diikuti harus dipertanggungjawabkan dengan sama rata. Jika merasa tidak yakin bisa menangani banyak organisasi dan jabatan yang diemban, maka harus mengira-ngira kompetensi diri sendiri dan mampu atau tidak terlebih dahulu.

“Bagi saya, organisasi itu pemicu api semangat karena disana adalah wadah saya bertemu teman-teman untuk bertukar pikiran, bercanda-tawa, dan lepas sejenak dari kepenatan dunia kuliah,” pungkas pemuda yang juga aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang itu.


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan