PASURUAN, Tugujatim.id – Selain sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pasuruan, Pondok Pesantren Kramat di Kecamatan Kraton Pasuruan juga punya kontribusi besar dalam perkembangan pendidikan formal di kalangan santri. Ponpes yang berdiri sejak 1900 ini bahkan menjadi pendiri sekolah formal pertama di lingkungan pesantren Pasuruan.
Dalam sejarahnya, keseriusan Pondok Kramat mengembangkan pendidikan dan ilmu pengetahuan terjadi sejak kepemipinan KH Abdul Karim. Pada tahun 1947, Kiai Abdul Karim mendirikan lembaga pendidikan bernama Madrasah Islam Nidhomiyah yang berjalan di bawah pengarah pengurus cabang LP Ma’arif NU pada masanya. Di sinilah santri mulai belajar menulis Arab, menulis latin, ilmu hitung, serta bahasa Indonesia.
“Bahkan saking kepinginnya bisa lancar nulis huruf latin, Kiai Abdul Karim sampai mendatangkan guru privat dari belanda di zaman penjajahan. Ini dilatarbelakangi cinta ilmu dan tidak anti perubahan,” ujar Mukhammad Sucipto, Waka sarpras MA As’adiyah.
Sepeninggal Kiai Abdul Karim, kepemimpinan Ponpes Kramat dilanjutkan oleh KH As’ad Abdul Karim. Dibawah kepemimpinan Kiai As’ad, Ponpes Kramat makin berkembang.

Selain didirikan pondok putri, Kiai As’ad juga mengkaji literatur karya ilmiah seperti kitab Syamsul-Lami’ah. Puncaknya, pada tahun 1981, Kiai As’ad mempunyai ide mendirikan sekolah formal pertama di lingkungan pesantren di Pasuruan. Setelah Kiai As’ad meminta pertimbangan para ulama, lalu berdirilah lembaga pendidikan MTs dan MA As’adiyah.
“Waktu itu belum ada pesantren yang punya pendidikan formal. Sejak tahun 1988, seluruh mata pelajarannya sudah ikut kurikulum nasional dan ada guru yang profesional di bidangnya. Sekolahnya juga dipisah antara pondok laki-laki dan perempuan,” imbuhnya.
Dalam masa-masa awal pendirian sekolah formal ini, Kiai As’ad pun sempat mendapat tudingan miring dan ditentang oleh beberapa ulama. Pasalnya, di masa itu sekolah formal masih sangat asing di kalangan pesantren yang notabene berfokus pada pendidikan Islam salaf.
“Visi misinya mencetak santri yang intelek, intelek yang santri. Beliau orang yang peka terhadap zaman. Pikiran beliau kalau tidak sekolah formal, pasti pemerintahan nggak akan diisi santri. Walau sempat ditentang, tapi ulama yang mengolok-olok malah ikut mendidirkan sekolah formal juga,” ungkap Kepala MTs As’adiyah, Mohammad Nashih.
Setelah lebih dari 30 tahun berdiri, MTs dan MA As’adiyah dan kini semakin berkembang bahkan banyak menorehkan prestasi. Siswa MTs As’adiyah sendiri pernah menjadi juara 1 lomba pidato bahasa Arab tingkat kabupaten dan juara 2 lomba pidato bahasa Indonesia tingkat kabupaten yang digelar Kemenag.
Sementara, siswa MA As’adiyah pernah meraih juara 1 pidato bahasa Inggris se Kabupaten Pasuruan, juara 2 lomba desain grafis tingkat kabupaten, juara 2 lomba catur tingkat KKM, serta juara 3 bulu tangkis tingkat KKM.
Selain itu, santri Pondok Pesantren Kramat juga pernah jadi juara 1 lomba baca kitab tingkat kabupaten dan peserta terbaik Bahtsul Masail yang digelar MWC NU Pasuruan.
“Kami juga punya program intensifikasi bahasa Inggris dengan mengirim beberapa siswa ke Kampung Inggris Pare. Kalau untuk bahasa Arab kita datangkan guru langsung dari Ponpes Dalwa Raci Pasuruan,” ungkap Mukhammad Sucipto.
Selain itu, kini Pondok Keramat punya lembaga sekolah formal mulai dari tingkat MI hingga ke Perguruan Tinggi.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim








