Cuaca Ekstrem di Malang Raya Diprediksi Terjadi hingga Mei 2021

Cuaca Ekstrem di Malang Raya Diprediksi Terjadi hingga Mei 2021

  • Bagikan
Sempadan Sungai Amprong di Perumahan Griya Sulfat, Bunulrejo, Kota Malang, yang longsor hingga menewaskan 1 orang penghuninya pada 18 Januari 2021. (Foto: Azmy/Tugu Jatim)
Sempadan Sungai Amprong di Perumahan Griya Sulfat, Bunulrejo, Kota Malang, yang longsor hingga menewaskan 1 orang penghuninya pada 18 Januari 2021. (Foto: Azmy/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem yang disebabkan fenomena iklim global la nina ini masih berlangsung hingga Mei 2021. Potensi pengaruhnya seperti curah hujan yang tinggi juga terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, tak terkecuali di Malang Raya.

Diperkirakan pada Maret-April 2021, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi kategori menengah hingga tinggi, yaitu 200-500 milimeter per bulan. Potensi curah hujan tinggi ini cukup riskan berdampak pada bencana longsor, khususnya di kawasan bantaran sungai.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat setidaknya ada 35 titik longsor yang terjadi di kawasan bantaran Sungai Brantas di Kota Malang hingga kini. Terparah, terjadi pada 18 Januari 2021 lalu di Perumahan Griya Sulfat, Jalan Sadang, Kecamatan Bunulrejo, Kota Malang, yang memakan 1 korban jiwa.

Kepala BPBD Kota Malang Ali Mulyanto mengimbau warga yang tinggal di pemukiman bantaran sungai untuk waspada. Tingkat kerawanan longsor cukup tinggi, terlebih di cuaca ekstrem. Sejumlah wilayah rawan longsor itu, sebut saja di daerah Samaan, Penanggungan, Rampal Celaket, Karangbesuki, Jodipan, hingga Bandulan.

“Ada 2 hal yang perlu diperhatikan. Kalau seandainya di atas terjadi hujan, lalu air sungai di Kota Malang sudah terlihat keruh, artinya harus waspada. Bahwa di atas sudah terjadi hujan yang lebat dan ada peningkatan volume air dan sedimen,” paparnya saat dihubungi Minggu (21/02/2021).

Sementara itu, kewaspadaan juga datang dari Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPR PKP) Kota Malang. Berangkat dari kasus longsor di Bandulan, DPUPR PKP akan mulai menertibkan bangunan liar yang ditemui ada di sempadan sungai.

“Apalagi jika kawasan itu melekat pada sesuai tusi kami (DPUPR PKP), akan kami eksekusi secara langsung,” ungkap Kepala DPUPR PKP Kota Malang Hadi Santoso saat dihubungi awak media.

Sesuai pengamatan pria yang akrab disapa Sonny ini, banyak bangunan di Kota Malang yang berdiri di kawasan sempadan sungai. Seperti salah satunya di Perumahan Griya Sulfat yang tempo lalu longsor dan menewaskan 1 warganya.

“Pihak pengembangnya sudah kami panggil. Bangunannya memang mepet dengan Sungai Amprong. Padahal, sesuai aturan harus mematuhi aturan jarak dan sempadan selebar 20 meter dari tepi sungai,” paparnya.

Sonny menambahkan, pihak developer juga mengaku kegiatan pengurukan di tepi Sungai Amprong itu ditujukan sebagai tanggul agar air tidak masuk ke area perumahan.

“Dia mengaku hanya untuk tanggul air. Itu oke saja, tapi kalau kemudian dibangun perumahan, ini yang nanti akan kami eksekusi. Soalnya yang sebelah selatan jembatan itu tidak ada perizinannya, bangunannya mepet di tepi sungai,” ujarnya.

Direktur Utama PJT I Raymond Valiant Ruritan juga menuturkan peringatan serupa bagi masyarakat yang sudah telanjur tinggal di kawasan sempadan sungai.

“Bagi masyarakat yang sudah telanjur bermukim di sana, maka perlu meningkatkan kewaspadaannya. Jika rumah sudah mulai ada retakan, itu ada indikasi pergerakan tanah dan rawan longsor,” terangnya.

Hal ini, Raymond mengatakan, mengingat tentang kondisi geografis dan geologi Kota Malang yang berada di lokasi perbukitan. Sebagian besar tanahnya terbentuk dari hasil pelapukan material erupsi di masa silam. Jadi, tanahnya relatif mudah erosi.

”Tanah mudah longsor, apalagi sudah terbebani aktivitas manusia di atasnya,” jelasnya.

Dari catatan PJT I, debit terbesar Sungai Brantas di Kota Malang 1.580 m3/detik terjadi pada Desember 2007. Debit yang terpantau pada saat terjadi hujan dengan ketebalan 70 mm dalam satu jam pada 18 Januari lalu, ternyata masih di kisaran 200 m3/detik. Sementara, elevasi Kota Malang sekitar 380-400 mdpl, sedangkan dasar sungai berada di 360-370 mdpl.

Raymond juga mengimbau warga yang akan membeli rumah maupun apartemen di kawasan sempadan atau dekat sungai juga dirasa perlu mempertimbangkannya kembali. “Pastikan jaminan keamanan yang menjadi kewajiban developer atau pengelola apartemen itu tersedia,” imbaunya. (azm/ln)

 

  • Bagikan