Cukup Berjalan Kaki 50 Meter, Saya Bisa Mendapat Ilmu Membangun Studio di Rumah - Tugujatim.id

Cukup Berjalan Kaki 50 Meter, Saya Bisa Mendapat Ilmu Membangun Studio di Rumah

  • Bagikan
Penulis (kiri) dan kawan SD dan SMP, Stevan Purba yang kini menggeluti jasa pembuatan video marketing. (Foto: Dokumen) tugu jatim
Penulis (kiri) dan kawan SD dan SMP, Stevan Purba yang kini menggeluti jasa pembuatan video marketing. (Foto: Dokumen)

Oleh Gigih Mazda*

MALANG, Tugujatim.id – Tampak dari depan, salah satu rumah di kawasan Jalan Stadion Utara, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang ini memang seperti biasa. Namun, kala penulis masuk ke dalam, semangat inovasi dan bisnis start-up ‘kekinian’ tampak begitu terasa. Beberapa sudut ruangan rumah telah diubah menjadi spot pengambilan video, lengkap bersama hiasan dan background yang mumpuni.

Kondisi rumah tersebut mungkin jauh berbeda dengan waktu saya kunjungi pas zaman sekolah dasar (SD) dulu. Misalnya ruang kamar tidur yang kini telah disulap menjadi ruang kerja dengan meja besar di tengahnya, ada pula kamar yang telah diubah menjadi studio, ruangan tengah yang dibiarkan kosong dengan sedikit perabotan hias untuk memudahkan peletakan kamera dan softbox waktu syuting.

Ya, itulah rumah teman sekelas SD hingga SMP sekaligus tetangga penulis, Stevan Purba namanya. Rumahnya pun tak jauh. Kira-kira hanya berjarak 40-50 meter saja dari rumah orang tua yang hingga kini masih saya tempati. Cukup berjalan kaki melewati 4-5 rumah saja. Dan kini, rumah Stevan sudah berubah menjadi kantor marketing dan jasa pembuatan video iklan yang ia namakan Unfaedah Marketing.

Saya pun merasa tertantang kala usahanya sukses dan melejit di mana dirinya mengaku bisa meraup keuntungan sebesar Rp 30 juta dalam sebulan. Saya sengaja menuliskan kisah perjalanan bisnis jasanya tersebut di artikel berjudul “Cerita Stevan Purba, Pengusaha Pembuat Video Marketing asal Malang yang Bisa Raup Untung Rp 30 Juta Per Bulan” berikut.

Salah satu yang membuat saya tertarik adalah kamar yang telah disulap menjadi studio rekaman dan syuting video. Komplet dengan dinding yang telah dilapisi karpet tebal, atap plafon yang telah dilapisi dengan eggtray, softbox, mikrofon, hingga personal computer (PC). Kesempatan ini pun tak saya lewatkan. Saya mencoba mengorek ilmu cara membuat studio sendiri. Meski tidak sebaik miliknya, paling tidak saya bisa memahami kisaran harganya jika ingin membuat studio seperti miliknya.

“Awalnya tidak ada studio, suaranya jadi menggema, akhirnya dibuatlah studio itu,” cerita Stevan dengan bahasa Jawa.

Ia bercerita bahwa studio itu baru saja ia buat tahun 2020 silam untuk keperluan rekaman suara, voice over, dan pembuatan video untuk klien yang memang membutuhkan studio.

“Karena kalau syuting di kamar biasa. Banyak noise. Suara sepeda motor, ayam berkokok. Kalau ini bisa meredam,” bebernya.

Ia pun bercerita bahwa karpet yang ia gunakan merupakan karpet daur ulang yang ia beli dengan harga miring.

“Makanya kalau dilihat warna karpetnya itu ada terlihat beberapa warna. Karena itu dari karpet sisa,” imbuh pria berusia 28 tahun ini.

Alumni Manajemen Universitas Brawijaya ini pun mengaku mengerjakannya sendiri dibantu dengan rekan-rekan sekantornya.

“Caranya dengan dilem, dipaku,” ujarnya menjelaskan terkait pemasangan karpet dan eggtray yang ia gunakan untuk peredam suara di dalam studionya tersebut.

Sedangkan detail secara teknis terkait pembuatan studio, rekan kerja Stevan, Achmad Hilchamd yang banyak menjelaskan kepada saya.

“Peredam sebenarnya spons yang baik. Ini rencananya juga mau upgrade,” terang pria yang akrab disapa I Am ini.

Ia membeberkan bahwa studio yang dibuat di kantor Unfaedah Marketing alias rumah Stevan Purba itu menghabiskan kurang lebih Rp 3 juta untuk karpet dan eggtray-nya.

“Kalau untuk mic saya rekomendasikan yang condenser. Lebih peka, jadi tidak perlu mikir jarak mulut dan mic,” imbuh I Am.

Ia menyarankan untuk pemula mungkin cukup membeli yang murah di kisaran Rp 250 ribu. Tapi yang bagus harganya bisa di atas Rp 1 juta.

“Kalau yang recommended harganya di atas Rp 500 ribu sampai Rp 1 jutaan itu,” terangnya.

Ia membeberkan untuk lighting atau pencahayaan ia menyediakan 3 softbox dan 1 lampu LED dengan total kurang lebih Rp 1,2 juta. Ada juga beragam perlengkapan lain seperti kursi, tripod, mic stand, teleprompter, dan berbagai perangkat lain jika ditotal keseluruhan mencapai kurang lebih Rp 13 juta. Jumlah tersebut belum termasuk PC dan tentunya kamera.

Tentu saja ilmu membangun studio sendiri di rumah ini keren. Siapa tahu ke depan saya membuat channel YouTube dan bisa berpenghasilan Rp 5 miliar tiap bulan macam om Deddy Corbuzier.

 

*Penulis merupakan jurnalis dan koordinator liputan di portal berita Tugu Jatim

  • Bagikan