Daripada Sawit, Ini Tanaman yang Cocok di Malang Selatan Menurut Dosen UB - Tugujatim.id

Daripada Sawit, Ini Tanaman yang Cocok di Malang Selatan Menurut Dosen UB

  • Bagikan
Dosen UB Luchman Hakim saat berbicara langsung dengan petani sawit bernama Sunjoto di Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang.(Foto: Rap/Tugu Jatim)
Dosen UB Luchman Hakim saat berbicara langsung dengan petani sawit bernama Sunjoto di Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang.(Foto: Rap/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Tanaman sawit di Kabupaten Malang ternyata sudah memiliki historis dan nyatanya memang sudah ada di Kabupaten Malang sejak 2009 silam. Masih ada petani yang bertahan dengan tanaman asal Nigeria ini dan tidak sedikit juga yang akhirnya memutuskan menelantarkan tanaman sawitnya karena alasan harganya yang terus drop di angka Rp 800 per kg hingga saat ini.

Namun, sebenarnya apakah tanaman yang banyak ditanam di Kalimantan dan Sumatera ini memang tidak cocok ditanam di Kabupaten Malang?

Dosen UB Luchman Hakim saat melihat langsung perkebunan sawit di Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang.(Foto: Rap/Tugu Jatim)
Dosen UB Luchman Hakim saat melihat langsung perkebunan sawit di Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang.(Foto: Rap/Tugu Jatim)

Karena itu, jurnalis tugumalang.id, partner tugujatim.id, mewawancarai Dosen Jurusan Biologi Universitas Brawijaya (UB) Prof Luchman Hakim untuk mengetahui apakah tanaman sawit ini memang tidak cocok di Kabupaten Malang.

“Kalau sawit di Kabupaten Malang sebenarnya buka masalah cocok atau tidaknya, karena secara pengamatan sebenarnya menghasilkan buah juga. Kalau timbul kekecewaan berdasarkan cerita teman-teman petani itu kan karena rantai bisnis yang tidak jalan,” terangnya saat dikonfirmasi Rabu (25/05/2021).

Dia juga belum bisa memastikan apakah secara ekologi tanaman sawit ini benar-benar menyerap banyak air atau tidak, menurut dia, hal tersebut membutuhkan kajian lebih dalam.

“Tapi secara ekologi harus dipertanyakan lagi apakah itu sesuai atau tidak. Sebenarnya butuh kajian yang lebih dalam lagi. Kalau dilihat ada storynya warga yang awalnya ada lahan persawahan kemudian mengering, itu memang masih harus dipelajari lagi,” bebernya.

Lebih lanjut, secara pribadi Luchman mengatakan, daripada sawit, dia menyarankan lebih baik mengembangkan tanaman lokal yang sudah ada seperti kelapa, kopi, melinjo, dan buah-buahan lainnya.

Sawit yang sudah ditebang oleh petani.(Foto: Rap/Tugu Jatim)
Sawit yang sudah ditebang oleh petani.(Foto: Rap/Tugu Jatim)

“Kalau dari saya daripada menanam sawit, mending menanam yang lain, karena di sini kan tanaman juga banyak seperti kelapa, melinjo, kopi, dan aneka ragam buah-buahan. Hanya memang problemnya belum dikembangkan pasca panen yang betul, dan rantai bisnis yang bisa menjaga harga dari produk buah-buahan hasil petani,” tegasnya.

“Karena kalau tanaman yang berpotensi di Malang Selatan itu yang utama seperti kelapa dan berbagai macam buah-buahan lainnya,” sambungnya.

Kalau banyak historis yang mengatakan tanaman kopi agak sulit ditanam di wilayah Dusun Sumberrejo, Desa Bandungrejo, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menurut dia, itu hanya karena perawatan dan teknik menanam yang kurang tepat saja.

“Perlu juga diedukasi bagaimana perawatan tanaman, misalnya tanaman kopi jenis liberika atau ekselsa, kalau itu tidak dirawat atau dibranding, maka harganya tidak bagus. Apalagi tadi dikatakan kalau orang sini (Malang Selatan) pokoknya asal tanam, itu yang jadi PR kita bagaimana mengajarkan bagaimana cara menanam yang baik,” bebernya.

“Kalau kopi asal tanam dan ternyata tanamnya di atas batu dalam tanah, tentu tidak akan tumbuh. Jadi, perlu edukasi apakah menanamnya dipersiapkan lubangnya terlebih dahulu dan bagaimana perawatannya,” imbuhnya.

Tanaman sawit yang tampak terbengkalai. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Tanaman sawit yang tampak terbengkalai. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

Pria berkacamata ini juga mengatakan bahwa tanaman porang yang sedang naik daun dan hasilnya harganya lumayan mahal juga memiliki potensi di Malang Selatan sebagai tanaman sela.

“Porang juga berpotensi juga di Malang Selatan, tapi porang itu ditanam sebagai tanaman sela yang ditanam di bawahnya pohon jati dan di bawahnya sistem agroforestri itu bisa,” bebernya.

“Katanya sih harganya sedang mahal, makanya banyak orang berbondong-bondong dan tergila-gila kayaknya untuk menanam porang,” tambahnya.

Terakhir, lulusan doktoral di Hiroshima University, Japan, ini mengatakan, potensi tanaman paling menjanjikan di wilayah pesisir Malang Selatan ini adalah pohon kelapa.

“Kalau di Malang Selatan saya sebenarnya belum melihat tanaman khas, artinya tanaman di sini hampir sama di seluruh pesisir Malang Selatan sampai Banyuwangi. Yang khas itu kelapa sebenarnya, tinggal perawatannya saja karena support iklimnya di sini lebih sesuai. Karena kalau kelapa terlalu tinggi di daerah pegunungan, maka tidak bagus juga, artinya memang cocok di daerah dataran rendah yang panasnya penuh,” ujarnya.

  • Bagikan