MOJOKERTO, Tugujatim.id – Bencana banjir masih membayangi wilayah Kabupaten Mojokerto. Hal ini berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto selama awal 2024. Banjir yang terdata ini mulai dari banjir luapan, banjir drainase, hingga tanggul jebol.
Seperti terlihat pada Minggu (04/02/2024), pukul 16.00 WIB, terjadi bencana banjir drainase yang terjadi di Gondang, Kabupaten Mojokerto. Luapan air setinggi 15 cm menggenangi jalan raya selama sekira 1,5 jam. Pada hari yang sama juga terjadi banjir luapan sekira pukul 18.30 WIB di Pekuwon, Bangsal, Kabupaten Mojokerto.
Dari total 11 bencana banjir selama Februari 2024, dampaknya cukup parah terjadi pada Senin (05/02/2024) di Jotangan, Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Luapan air menggenangi area persawahan seluas 56 hektare. Puluhan hektare sawah ini berisi tanaman padi yang baru berumur 1 minggu.
Selanjutnya peristiwa cukup parah juga melanda Bendung, Jetis, Kabupaten Mojokerto. Banjir yang terjadi pada Jumat (09/02/2024) ini menggenangi area persawahan seluas 45 hektare yang berisi tanaman padi dan jagung.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim mengatakan, puncak cuaca ekstrem diprediksi berlangsung hingga akhir Februari 2024.
“Maka dari kami imbau agar memperhatikan edaran tentang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi yaitu tentang apa saja yang perlu diperhatikan saat status ini sedang berlangsung,” ujar Khakim, Selasa (20/02/2024).
Baca Juga: Ternyata Tak Hanya Joglo, Ini Dia 9 Rumah Adat Jawa Timur yang Populer Lengkap dengan Filosofinya
Khakim merujuk pada surat keputusan yang diteken Bupati Mojokerto bernomor 188.45/410/HK/416-012/2023. Selain itu, Pemkab Mojokerto juga berancang-ancang melakukan langkah antisipatif. Beberapa upaya preventif yang dimaksud di antaranya penguatan drainase, rantingisasi pohon, serta penertiban baliho semi permanen, termasuk pula pemantauan sampah pada sungai-sungai di Kabupaten Mojokerto mulai hulu hingga hilir.
Pemantauan lain juga diarahkan pada area-area bekas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sisa-sisa material dari karhutla ini menjadi perhatian karena rawan terbawa arus sungai terdekat sehingga bila menyumbat aliran sungai berpotensi besar menjadi penyebab banjir.
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








