Desa Oro-Oro Ombo dan Sidomulyo Kota Batu Masuk 10 Besar Indeks Desa Membangun di Indonesia - Tugujatim.id

Desa Oro-Oro Ombo dan Sidomulyo Kota Batu Masuk 10 Besar Indeks Desa Membangun di Indonesia

  • Bagikan
Desa Oro-Oro Ombo. (Foto: IG @batunightspectacular/Tugu Jatim)
Salah satu pengunjung tampak foto berlatar di kawasan wisata malam di BNS, Kota Batu, Jatim, salah satu destinasi wisata populer yang bekerja sama dengan Pemerintah Desa Oro-Oro Ombo. (Foto: IG @batunightspectacular)

BATU, Tugujatim.id – Catatan prestasi membanggakan ditorehkan 2 desa di Kota Batu, Jawa Timur. Keduanya masuk 10 besar desa dengan indeks desa membangun (IDM) tertinggi pada 2022. Dua desa tersebut yaitu Desa Oro-Oro Ombo di peringkat kedua dan Desa Sidomulyo di peringkat keempat.

Desa yang masuk 10 besar itu dinilai memenuhi indeks desa berbasis sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Meski begitu, capaian prestasi tersebut tergolong turun. Lantaran, pada 2021 lalu ada 3 desa yang masuk 10 besar IDM.

Sedangkan desa yang menduduki peringkat pertama adalah Desa Genteng Kulon, Kabupaten Banyuwangi, disusul Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu, dan Desa Pinjalu Kabupaten Ciamis.

Kepala Desa Oro-Oro Ombo Wiweko mengatakan, penilaian ini dilakukan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) Republik Indonesia. Dia mengatakan, nilai untuk desanya tergolong stagnan seperti tahun lalu.

”Nilai kami gak naik itu karena ada kasus kekerasan dalam rumah tangga waktu lalu,” jelas Wiweko saat dihubungi pada Senin (20/06/2022).

Wiweko menjelaskan, penilaian ini ditentukan dari berbagai macam faktor seperti jarak dan fasilitas pelayanan kesehatan hingga layanan pendidikan untuk warganya, termasuk dalam pelayanan publik.

”Juga yang dinilai itu tingkat kepuasan publik dalam pelayanan pemerintah dan pelayanan kesehatan. Khususnya kesehatan balita. Tingkat coverage BPJS juga dinilai,” imbuhnya.

Wiweko menyatakan, ini capaian yang cukup membanggakan. Sebab, Desa Oro-Oro Ombo sebelumnya dikategorikan menjadi desa tertinggal. Hingga akhirnya dia menentukan langkah kebijakan yang cukup kontroversial di mata warga.

Caranya, dia melakukan kerja sama dalam pengelolaan tanah kas desa seluas 4 hektare dengan Jawa Timur Park Group untuk membangun Batu Night Spectacular. Dari sinilah desa yang dia pimpin sejak 2008 itu mulai bangkit.

”Alhamdulillah, sekarang ekonomi masyarakat sudah lebih baik,” ujar pria yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Pemerintah Desa dan Kelurahan (APEL) Batu ini.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan