MALAYSIA, Tugujatim.id – Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan pengabdian internasional di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru, Malaysia. Pengabdian dengan skema kolaborasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Indonesia ini fokus pada pengembangan literasi dan keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada di wilayah tersebut.
Pengabdian ini dilaksanakan oleh Dr Hary Suswanto ST MT dan Luk Luk SPd dengan beberapa rangkaian kegiatan. Salah satunya, pelatihan dan pendampingan mengenai literasi dan keuangan pada PMI di KJRI Johor Bahru, pada 23-25 Mei 2024.
Ketua pengabdian masyarakat Dr Hary Suswanto menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keuangan para pekerja migran. Khususnya, pekerja migran Indonesia di Malaysia.
Baca Juga: Ratusan Santri Tapal Kuda Ikuti OSN di Jember Peringatan Satu Abad Ponpes Ploso Kediri
Selama ini keterbatasan dalam pendidikan formal dan pengetahuan finansial para PMI membuat mereka kerap khawatir tentang bagaimana mengelola keuangan ketika berada di negeri orang. Sehingga dibutuhkan program pelatihan yang mencakup hal tersebut. Termasuk, pengelolaan uang, perencanaan tabungan, investasi, hingga perlindungan terhadap utang.
Pelatihan itu berlangsung selama tiga hari dan diisi dengan berbagai kegiatan pendampingan guna meningkatkan literasi sekaligus membantu para pekerja migran agar mampu mengelola pendapatan yang lebih efektif. Kegiatan ini juga didukung oleh infrastruktur yang memadai, seperti fasilitas belajar, akses ke materi digital, serta pendampingan yang berkelanjutan.

“Selain itu, penguatan kapasitas literasi digital juga sangat penting agar PMI dapat mengakses informasi keuangan secara mandiri dan memahami hak-hak finansial mereka di negara tempat bekerja,” ujarnya.
Pada hari pertama (23/05/2024), pelatihan diikuti oleh puluhan PMI dengan antusias. Materi pelatihan yang diberikan terkait pengelolaan pendapatan, pentingnya menabung, serta strategi dasar dalam perencanaan keuangan.
Selain literasi keuangan, kegiatan ini juga mencakup edukasi mengenai literasi digital guna membantu PMI mengakses layanan perbankan dan informasi finansial secara online. Peserta pun bisa memahami tantangan keuangan selama bekerja di luar negeri, serta memperoleh dasar yang kuat untuk perencanaan masa depan yang lebih baik.

Di hari kedua (24/05/2024), agenda berlanjut di Indonesian Community Centre (ICC), Muar, Malaysia. Hal itu merupakan tindak lanjut dari inisiatif KJRI Johor Bahru dalam memberdayakan PMI melalui edukasi keuangan.
Kali ini, peserta mendapatkan pelatihan praktis mengenai manajemen keuangan pribadi, pentingnya perencanaan tabungan, serta cara menghindari jebakan utang. Literasi digital juga diperkenalkan untuk membantu PMI mengakses layanan perbankan online dan informasi finansial secara lebih efisien.
Kegiatan ini juga disambut positif oleh peserta karena memberikan solusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan finansial PMI di wilayah Muar serta membantu mereka mempersiapkan masa depan yang lebih stabil dari sisi ekonomi.
Kegiatan literasi dan keuangan ketiga (25/04/2024) dilaksanakan di Putra Business School (PBS) Selangor, Malaysia. Kegiatan tersebut memberi wawasan yang lebih mendalam kepada PMI tentang pentingnya literasi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ini fokus pada pengelolaan keuangan jangka panjang, strategi investasi sederhana, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memantau dan mengelola pendapatan. Dengan melibatkan pakar keuangan dan pembicara dari akademisi PBS, kegiatan ini memberikan perspektif baru bagi PMI tentang perencanaan keuangan yang lebih matang.

Peserta sangat antusias dan mengapresiasi materi yang disampaikan, karena memberikan panduan praktis yang dapat langsung diterapkan untuk mencapai kestabilan finansial, baik selama bekerja di Malaysia maupun setelah kembali ke Indonesia.
Diketahui, pengabdian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kesejahteraan PMI di Malaysia yang masih kurang baik. Padahal, PMI merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah minyak dan gas (migas). Bahkan, mereka juga disebut sebagai pahlawan devisa.
Sedangkan, Malaysia adalah salah satu negara yang menjadi tujuan bagi para PMI. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa PMI yang ditempatkan di Malaysia terdiri dari sektor formal dan informal.
Baca Juga: Kolaborasi Internasional, Prodi Kebidanan Unair Dorong Peran Kader Puskesmas Sememi
Sektor formal jumlahnya bisa mencapai 12.713 pekerja, sementara sektor informal hanya 1.917 pekerja. Namun, perlakuan buruk dan tidak manusiawi masih kerap dialami oleh para PMI di negara tempat mereka bekerja.
Ada banyak hal yang menjadi penyebabnya, mulai dari sebab yang bersumber dari diri PMI sendiri, sistem perekrutan, pengiriman dan pemulangan, ataupun karena agen penyalur yang tidak bertanggung jawab hingga perlindungan hukumnya tidak jelas.
Pemberdayaan pada kelompok PMI sering kali dinyatakan dalam berbagai kesempatan dilakukan untuk berbagai tujuan. Salah satunya bahwa pemberdayaan PMI adalah cara jitu menangani persoalan PMI.
Dengan begitu, kolaborasi ini menunjukkan komitmen UM dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, berperan dalam mendukung kesejahteraan PMI, sekaligus mempererat hubungan antar lembaga. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








