SIDOARJO, Tugujatim.id – Upaya penyelamatan korban reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo sempat dihentikan sejenak pada Selasa (30/2/2025) malam. Penghentian evakuasi dilakukan menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang mengguncang wilayah Sumenep, Madura dan getarannya terasa hingga Sidoarjo.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan, penghentian sementara itu murni demi keselamatan tim penyelamat yang sedang bekerja di lapangan.
“Pencarian sempat terhenti karena adanya gempa itu. Meski pusatnya berada di laut dekat Sumenep, dengan kedalaman 11 kilometer, getarannya sampai ke Sidoarjo. Kami berhenti sejenak untuk memastikan semua personel aman,” kata Suharyanto dalam konferensi pers di Sidoarjo, Rabu (1/10/2025).
BNPB mencatat, gempa yang terjadi pukul 23.49 WIB tersebut mengakibatkan tiga orang luka-luka dan sejumlah rumah warga di Sumenep mengalami kerusakan ringan.
BACA JUGA: Daftar Terbaru Korban Tragedi Ambruknya Musala Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, 3 Orang MD
Meski demikian, dampak keseluruhan dianggap tidak signifikan karena pusat gempa berada di laut.
Sementara itu, terkait kondisi korban Ponpes Al-Khoziny, Suharyanto mengingatkan bahwa data yang beredar masih terus berubah.
“Dalam situasi bencana, data korban selalu dinamis. Ada yang dilaporkan hilang ternyata ditemukan di rumah sakit, ada juga sebaliknya. Untuk itu kami sedang melakukan verifikasi dengan Pusdalops BNPB,” ucap Suharyanto.
Basarnas sendiri telah mengidentifikasi 15 titik lokasi yang diduga terdapat korban di bawah reruntuhan bangunan. Namun, jumlah pasti korban selamat maupun meninggal di titik-titik tersebut belum bisa dipastikan.
“Basarnas tadi menyampaikan 15 titik, tapi semua masih harus dicek ulang. Mana yang sudah dibawa ke rumah sakit, mana yang masih terjebak, atau bahkan sudah meninggal, semua sedang dipastikan,” jelas Suharyanto.
Ia juga meminta masyarakat, terutama keluarga untuk bersabar menanti data yang resmi.
BACA JUGA: Tim Penyelamat Tragedi Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo: Haikal Masih Sadar, Disuplai Oksigen dan Makanan
“Saat ini banyak simpang siur data, tapi itu lumrah terjadi di setiap fase awal penanganan bencana. Yang utama, tim di lapangan tetap bekerja maksimal untuk menyelamatkan korban,” pungkasnya.
Hingga kini, fokus pencarian masih terpusat pada reruntuhan bangunan utama pesantren yang roboh pada Senin sore (29/9/2025). Ratusan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, hingga relawan, terus mengerahkan tenaga dengan dukungan alat berat untuk mempercepat proses evakuasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Layla Aini
Editor: Darmadi Sasongko








