Farid Rifai, Roaster asal Trenggalek yang Berinovasi agar Kopi Ramah pada Kaum Hawa - Tugujatim.id

Farid Rifai, Roaster asal Trenggalek yang Berinovasi agar Kopi Ramah pada Kaum Hawa

  • Bagikan
Farid Rifai tampak memproses kopi untuk pengunjung. (Foto: Zamz/Tugu Jatim)
Farid Rifai tampak memproses kopi untuk pengunjung. (Foto: Zamz/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id – Perkembangan industri kopi semakin banyak peminatnya. Salah satunya karena peran roaster bernama Farid Rifai, pemuda asal Desa Sukosari, Kecamatan Trenggalek, yang mengembangkan perekonomian lewat racikan kopi arabica dan robusta. Melalui Coffee Roastery milik Farid yang cukup luas, yaitu berukuran 7×4 meter, dia berusaha agar racikan kopinya juga ramah terhadap para kaum hawa.

Hampir di tiap sudut ruangan kafe miliknya dipenuhi dengan bubuk-bubuk kopi. Namun, dari semua kopi yang berada di bengkel Farid itu memiliki jenis kopi arabika.

Kopi jenis ini diambil dari luar Trenggalek karena tanamannya bisa tumbuh maksimal jika berada di ketinggian 1.200-1.900 MDPL (meter di atas permukaan laut). Hanya daerah-daerah tertentu yang memiliki ketinggian seperti itu sehingga untuk mendapatkan kopi jenis arabika, Farid biasa membeli hingga ke Malang.

Perjalanan Farid sampai menjadi roaster bermula dari hobinya sejak 2017 yang suka mengoleksi alat-alat peracikan kopi maupun alat pengolah kopi. Hobi itu muncul ketika Farid kepincut dengan rasa kopi filter karena rasanya yang benar-benar asli. Sejak saat itu, Farid pun mulai mengoleksi alat pengolah kopi.

“Dulu awalnya cuma suka mengoleksi saja,” ungkap pria ramah tersebut pada Jumat (21/05/2021).

Proses pembuatan kopi dengan alat roasting. (Foto: Zamz/Tugu Jatim)
Proses pembuatan kopi dengan alat roasting. (Foto: Zamz/Tugu Jatim)

Farid tak menyangka, pada 2020, dia terpilih sebagai pemuda yang berkesempatan untuk sekolah roastery di Jember dari program Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek. Kesempatan itu pun tak dia sia-siakan sehingga lebih mendalam mempelajari tentang roastery.

Dari sekolah itu, anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku belajar tentang cita rasa dasar kopi. Mulai dari tingkat kepahitan, keasaman, kemanisan, keasinan, hingga ketebalan kopi saat diseduh. Farid mendapatkan materi-materi itu hanya dalam lima hari. Selebihnya, Farid mengembangkan materi itu melalui bengkel Coffee Roastery-nya.

“Setiap kopi memiliki keunikan tersendiri dan itu ciri khas kopi,” ujarnya.

Rostering, Farid mengatakan, adalah sebuah tantangan untuk bisa memunculkan cita rasa kopi yang orisinal. Secara teknis, proses memunculkan cita rasa kopi itu kompleks, mulai dari grade kopi, pengaturan suhu, hingga tingkat kehalusan kopi.

“Semakin halus kopinya, rasanya semakin tebal dan makin pahit,” cetusnya.

Pria kelahiran 1997 itu mengakui bahwa ada yang menganggap kopi memicu penyakit asam lambung. Menurut dia, yang memicu asam lambung sebenarnya bukan kopinya saja, tapi pada campurannya. Dia mengatakan, khususnya kopi arabika memang dikenal dengan low caffein sehingga intensitas memicu asam lambung itu minim.

“Kopi tubruk, seperti robusta itu dikenal lebih kuat rasanya. Saya juga berusaha mengubah mindset konsumen kopi yang identik dengan peminat laki-laki, tapi juga harus ramah dikonsumsi kaum hawa,” ucapnya.

Bereksperimen dengan kopi selama hampir setahun ternyata berbuah manis. Tepatnya pada 16 Desember 2020, Farid meraih juara III kontes Manual Brewing atau pengolah kopi tanpa menggunakan mesin espresso. Kopi jenis ini dikenal dengan kopi tanpa ampas yang memungkinkan penikmat kopi orisinal tidak mencampurkan kopi dengan susu atau gula untuk mempertahankan cita rasa kopi yang sesungguhnya.

Pasca meraih juara III, Farid makin konsisten menekuni pekerjaan sebagai pengolah kopi arabika. Dia memiliki cita-cita dapat mengubah mindset bahwa cita rasa kopi tidak hanya kuat untuk dinikmati kalangan pria. Tapi, kopi juga ada yang punya rasa halus sehingga memungkinkan untuk dinikmati kaum hawa.

“Untuk itu, saya fokus pada light roast, mengolah kopi dengan rasa enteng, tidak pahit, tapi kopinya orisinal,” ucapnya.

Di sisi lain, produksi kopi orisinal milik Farid kini mencapai 11 varian. Tiap pack kopinya dibanderol dengan harga Rp 50 ribu-Rp 125 ribu.

“Permintaan selama ini kebanyakan dari Tulungagung, Kediri, Jakarta, Makassar, termasuk dari Trenggalek sendiri,” tutupnya.

  • Bagikan