MALANG, Tugujatim.id – Mendang-mending mungkin kata itu saat ini sedang tren, khususnya di kalangan generasi muda. Kata-kata yang memiliki arti “lebih baik ini daripada itu” menjadi hal yang sering kali membuat ricuh di jagat maya, khususnya di media sosial. Seperti apakah fenomena kaum mendang-mending ini?
Ya, para netizen sering kali memberi sebutan bagi mereka dengan sebutan kaum mendang-mending. Sebenarnya bagaimana sih fenomena ini terjadi?
Dosen Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) Angga Yuni Mantara SPsi MSi mengatakan, jika kaum mendang-mending adalah perilaku seseorang yang sifatnya membandingkan satu hal dengan hal lain.
“Nah, ini biasanya dilakukan karena setiap orang punya kriteria standar, jadi lebih baik A daripada B. A dilihatnya sebagai sesuatu yang lebih baik, atau daripada beli itu daripada beli ini,” ungkap Angga, sapaan akrabnya, Selasa (27/06/2023).
Dia menambahkan, setiap orang sebenarnya memiliki preferensi atas setiap pilihan yang ada. Namun, di sisi lain hal itu bisa menjadi masalah jika dibesar-besarkan. Sebab, sejatinya dalam diri setiap orang memiliki hak asasi, di mana setiap orang memiliki perbedaan dalam hal selera.
“Tapi ini bisa juga menjadi masalah jika dibesar-besarkan, kita menafikkan tidak memperhatikan adanya perbedaan individual dalam hal selera. Kita tidak memperhatikan bagaimana seseorang menghargai, mungkin ada suatu barang lebih mahal atau mewah, tapi ada proses di baliknya yang orang-orang tidak tahu,” tambahnya.
Terkait membandingkan, Angga mengatakan, ada beberapa konteks yang harus dipahami. Bahwa setiap orang atau individu atau diri ini juga bisa melakukan hal serupa seperti kaum mendang-mending ini. Terkadang diri kita juga belum bisa melihat sisi positif orang lain.
“Ketika kita melakukan mendang-mending ini terhadap diri sendiri sebenarnya ini memungkinkan bahwa kita merasa selalu yang paling wah dibandingkan orang lain. Kita tidak bisa melihat sisi positif orang lain,” kata Angga.
Hal ini tentunya perlu diwaspadai agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Angga juga memberi masukan agar setiap individu bisa memiliki kompetensi atau memiliki sertifikasi. Hal itu perlu agar orang lain bisa menghargai setiap capaian.
“Ini patut kita waspadai, beberapa orang tidak menyukai perilaku yang seperti ini. Selama kamu memiliki kompetensi punya sertifikasi, orang akan selalu menghargai apa yang sudah kita capai, kemampuan kita, tanpa harus membandingkan dengan yang lain,” beber Angga.
Dia juga menyampaikan bahwa kaum mendang-mending itu biasanya tidak memiliki kualifikasi. Jadi, mereka selalu berupaya keras untuk bisa merendahkan orang lain.
“Karena itu, orang-orang yang mendang-mending itu biasanya secara kualifikasi juga kurang. Mereka berupaya merendahkan orang lain agar membuat dirinya lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, terkait psikologi sosial, Angga menyampaikan, hal itu merupakan salah satu cabang ilmu dalam psikologi di mana perilaku manusia dilihat ketika adanya kehadiran orang lain, baik secara langsung maupun tidak. Mulai dari bagaimana mereka bersikap, berperilaku, berinteraksi itu akibat adanya perbedaan ketika kehadiran orang lain atau dalam konteks tertentu yang mengakibatkan bidang ini menarik untuk diteliti.
Terkait dengan fenomena kaum mendang-mending ini sebenarnya tidak lepas dari yang dinamakan komparasi atau proses perbandingan. Di mana ada beberapa value bagi sebagian orang itu bisa lebih baik, seperti menilai barang murah lebih banyak porsinya seperti dalam hal makanan.
Kalau misalkan bagi satu orang ada yang melihat hanya porsi, tapi beberapa orang terlepas dari harga ada yang menilai dari proses maupun pengalaman.
“Jadi, secara harga jatuhnya lebih mahal. Tapi, mereka merasa lebih worth it, tapi bagi kaum mendang-mending selalu menilai dari harga seakan-akan mereka memaksakan nilai yang dipegang. Persepsi value yang mereka pegang bahwa harga itu lebih baik, indikator paling mudah, tapi ada beberapa orang ya enggak gitu juga,” tutur Angga.
Dia juga menuturkan bahwa kaum mendang-mending ini biasanya sangat populer di beranda komen media sosial seperti YouTube, Facebook, ataupun Instagram. Mereka sering kali mengamplifikasi secara terus-menerus dan seakan-akan memaksakan pandangannya untuk orang lain.
“Bahwa yang paling menyebalkan ini seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, ketika mereka mengamplifikasi terus-menerus dan seakan-akan seperti memaksakan pandangannya untuk orang lain. Padahal, bisa saja saat masuk di situasi yang berbeda, kaum mending-mending ini tidak banyak bermunculan,” ungkap Angga.
Kalau di tempat umum, dia menjelaskan, mereka ya biasa-biasa saja. Tapi, kalau ada di golongan orang-orang yang suka atau fanatik terhadap suatu hal misalnya barang B, bisa jadi dia tidak akan menyuarakan pendapatnya.
Angga juga menyampaikan bahwa kaum mendang-mending juga selalu menggunakan prinsip anchoring. Yaitu cara untuk “menjangkarkan” sebuah informasi agar informasi tersebut melekat dan memengaruhi keputusan individu setelah mendapatkan pesan tersebut.
“Dia bilang mending A daripada B. Tapi ketika melihat produk A kualitasnya makin turun dan harganya makin tinggi, lalu dia melihat ada produk lain, yang menurut dia lebih baik, dia akan menggeser opsi, daripada B ya mending A-lah, karena harganya A sudah naik,” beber Angga.
Dia menjelaskan bahwa kaum mendang-mending seperti prinsip anchoring itu memperlihatkan bahwa harga atau nilai suatu barang adalah hal yang sensitif.
“Itu memperlihatkan bahwa harga adalah hal-hal yang sensitif buat mereka. Jadi, sebenarnya mendang-mending ini sangat fleksibel tergantung dengan objek yang dinilai,” tutupnya. (adv)
Writer: Yona Arianto
Editor: Dwi Lindawati








