MALANG, Tugujatim.id – Festival Kampung Budoyo Ketawanggede 2025 di sepanjang Jalan Kerto Pamuji, Jalan Kerto Raharjo, dan Jalan Watu Mujur I, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, semakin meriah dihadiri ribuan pengunjung pada Jumat (19/09/2025). Kali ketiga digelar, kegiatan tahun ini yang mengusung tema “The Global Village Bersinar” dengan menggandeng Universitas Brawijaya (UB).
Tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi lokal, Festival Kampung Budoyo Ketawanggede juga mewujudkan wajah Indonesia secara global. Adanya festival ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal mampu hidup berdampingan dengan modernitas sekaligus memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia. Begitu pula dengan budaya yang masuk dari seluruh dunia dapat dipertemukan dan diharmonisasi dengan budaya lokal.
Festival Kampung Budoyo Ketawanggede Wadah Satukan Budaya
Festival Kampung Budoyo Ketawanggede lahir pada 2023 ini menjadi sebuah wadah bersatunya kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Ide tersebut muncul karena daerah Kelurahan Ketawanggede memiliki banyak pendatang yang mengenyam pendidikan di universitas sekitarnya hingga membawa budaya dari daerah masing-masing.
Tahun 2025 menjadi tahun ketiga dilaksanakannya festival yang terus mengalami peningkatan kualitas maupun angka kunjungan setiap tahun. Dari yang awalnya hanya tingkat RT, kemudian menjadi tingkat RW, dan saat ini menjadi acara tahunan di tingkat kelurahan.
Begitu pula dengan budaya yang diperkenalkan di dalamnya. Pada tahun ini, Kampung Budaya memperluas sayapnya hingga bekerja sama dengan mahasiswa mancanegara yang sedang berkuliah di Universitas Brawijaya sehingga mengusung tema “The Global Village Bersinar”.
Ketua Pelaksana Festival Kampung Budoyo Ketawanggede 2025 Yanto Catur mengatakan, pihaknya mengangkat tema untuk mewadahi budaya lokal hingga budaya asing. Dia melanjutkan, hal ini karena melihat banyaknya mahasiswa asing di kampus sekitar, salah satunya di Universitas Brawijaya.

“Tahun ini temanya ‘The Global Village Bersinar’ karena kami lihat di Universitas Brawijaya banyak mahasiswa asing, jadi Kampung Budoyo ini tidak hanya sekadar wadah untuk budaya lokal saja tetapi untuk budaya asing juga,” kata Yanto Catur pada Jumat (19/09/2025).
Dengan adanya kegiatan yang menjadi wadah kebudayaan percampuran budaya lokal dan asing ini, dia berharap warga Kelurahan Ketawanggede dan warga pendatang semakin guyub rukun. Mulai dari generasi muda hingga warga dapat ikut menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di sekitar. Di samping itu, dia mengatakan, mereka juga harus lebih selektif dengan banyaknya budaya yang masuk.
“Tentunya anak-anak muda kita ajak dalam kegiatan ini agar mengenal budaya-budaya yang baik seperti apa, agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas,” ujar Yanto.
Dia mengatakan, benar adanya bahwa kita tidak boleh hanya menerima budaya-budaya yang datang, tetapi juga harus menyeleksi mana budaya yang sesuai dengan lingkungan.
Kolaborasi Budaya Lokal vs Budaya Asing
Mengulik kebudayaan dan kesenian di Festival Kampung Budoyo Ketawanggede, terdapat begitu banyak jenis yang ditampilkan, seperti kesenian Reog Ponorogo yang ditampilkan mahasiswa UB, pameran lukisan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UB, pembuatan grafiti oleh Malang Graffiti Movement, penampilan alat musik kecapi, keroncong, dangdut, hingga pop, serta bazar kuliner dari berbagai daerah. Banyaknya penampilan ini merupakan bentuk harmonisasi antara budaya lokal yang bersanding dengan budaya asing.

Camat Lowokwaru Drs Rudi Cahyono Catur Utomo mengatakan, sangat terkesan dengan penampilan budaya Reog Ponorogo yang menjadi wujud kesenian bangsa.
“Kegiatan ini sangat luar biasa. Saya terharu dengan penampilan Reog Ponorogo tadi yang menjadi wujud bahwa budaya juga bisa dikembangkan menjadi seni,” ujar Rudi Cahyono.
Cita untuk Festival Kampung Budoyo Ketawanggede
Diselenggarakannya Festival Kampung Budoyo Ketawanggede 2025 memicu antusiasme yang sangat besar dari masyarakat. Banyak harapan yang disampaikan untuk keberlanjutan festival ini.
“Saya berharap di tahun yang akan datang acara ini tetap bisa digelar dengan menggandeng stakeholder yang lebih banyak,” ujar Ketua RW III Kelurahan Ketawanggede Medi Harsono.
Saat ini, dia mengatakan, festival ini memang bekerja sama dengan beberapa stakeholder, seperti Universitas Brawijaya dan UMKM lokal. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan bahwa festival ini akan lebih berkembang melalui banyaknya pengunjung.

Banyak orang menyambut kegiatan ini dengan baik. Mereka menikmati acara ini melalui kesenian yang ditampilkan hingga bazar kuliner yang disajikan.
Sementara itu, Dian, street artist Malang Graffiti Movement, mengungkapkan, event ini sangat keren. Menurut dia, asyik banget penggabungan budaya tempo dulu dengan budaya urban.
“Acaranya keren, apalagi dengan tema The Global Village bisa menyandingkan antara budaya tempo dulu dengan budaya urban, asyik banget bisa gabung di acara ini,” ujar Dian.
Review Pengunjung
Budaya lokal dan budaya asing yang disatukan dalam festival ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi pegiat seni maupun pengunjung. Mereka datang dari berbagai kalangan mulai anak kecil, remaja, hingga dewasa.
Salah satu pengunjung dari Universitas Brawijaya bernama Putri mengatakan, sangat tertarik dengan konsep tempo dulunya yang menonjol.
“Saya datang ke sini karena tertarik dengan konsep tempo dulunya yang menonjol, seperti kita bisa merasakan zaman dahulu tuh ternyata begini yaa,” ujar Putri.
Selain pengunjung yang tertarik dengan konsep festival ini, terdapat pengunjung lain yang tertarik karena kesenian yang ditampilkan. Dialah Hana, mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian UB, mengatakan, awalnya tertarik pertunjukan Reog Ponorogo. Tidak disangka, dia mengatakan, acaranya mengagumkan sekali, mulai dari pameran lukisan hingga banyak kuliner yang tersaji.
“Awalnya tertarik karena diajak teman nonton Reog Ponorogo. Tapi begitu datang, wah mengagumkan sekali acaranya, banyak kulineran, ada pameran lukisan juga,” kata Hana.

Sedangkan, Mega, mahasiswi UB lainnya, juga berharap acara ini bisa digelar lebih meriah setiap tahun. Dia mengatakan, acara ini bisa dikenal lebih luas melalui media sosial.
“Harapannya acara ini bisa digelar lebih meriah lagi di tahun mendatang dan bisa dikenal lebih banyak orang melalui media sosial agar dapat meningkatkan ekonomi warga lokal,” kata Mega.
Tidak hanya warga lokal, wisatawan mancanegara juga ikut meramaikan festival ini. Bella, turis dari United States, mengungkapkan jika acara ini sangat menyenangkan. Dia mengaku mendapatkan pengetahuan soal beragam kuliner di Indonesia.
“Acara ini sangat menyenangkan. Saya mendapatkan banyak pengetahuan, terutama kuliner yang sangat beragam di Indonesia,” kata Bella.

Festival ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi dan mengenal lebih dekat kebudayaan yang ada di sekitar kita, baik kebudayaan lokal maupun kebudayaan mancanegara.
Festival Kampung Budoyo Ketawanggede berlangsung mulai 19-22 September 2025. Festival ini bukan hanya mempertemukan tradisi lokal dan mancanegara, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat. Dengan dukungan stakeholder, kegiatan ini bisa menjadi pusat kreativitas yang mendukung ekonomi warga. Mulai dari kesenian hingga produk lokal, semua mendapat ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nur Laila Khoriroh/Magang
Editor: Dwi Lindawati








