TUBAN, Tugujatim.id – Gereja Katolik Santo Petrus Tuban berdiri di kawasan pesisir pantai, tepatnya di Jalan Panglima Soedirman Kelurahan Sidomulyo, Kabupaten Tuban.
Kehadirannya menyimpan nilai filosofis yang kuat, menyatu dengan kehidupan masyarakat pesisir sekaligus menjadi contoh nyata praktik moderasi beragama yang telah lama hidup di pesisir utara.
Romo Paroki Santo Petrus Tuban, I Made Agustinus Hadi Prayetno, menuturkan, Gereja Santo Petrus memiliki sejarah panjang sebelum resmi menjadi paroki.
Awalnya, gereja ini merupakan stasi yang berada di bawah Paroki Santo Wilbrordus Cepu. Pelayanan umat Katolik Tuban kala itu pun dilakukan oleh para romo dari Cepu.

Seiring bertambahnya jumlah dan kemampuan umat Katolik di Tuban, gereja ini kemudian berkembang dan berdiri sebagai paroki mandiri. Hingga kini, Paroki Santo Petrus Tuban telah berusia 57 tahun dan melayani sejumlah wilayah stasi, yakni Rengel, Jatirogo dan Kerek.
Nama Santo Petrus sendiri memiliki makna mendalam. Petrus berarti batu karang, sosok rasul yang dipercaya sebagai dasar berdirinya gereja. Yang menarik, Santo Petrus sebelum menjadi rasul dikenal sebagai seorang nelayan.
Hal ini dinilai sangat kontekstual dengan kondisi geografis gereja yang berada di tepi pantai dan kehidupan masyarakat Tuban yang lekat dengan dunia maritim.
“Gereja ini ada di pesisir, Petrus itu nelayan, batu karang, sangat menyatu dengan konteks masyarakat sekitar,” ujar Romo Made.
Nilai filosofis itu juga tercermin dari bentuk dan simbol gereja. Di bagian pucuk gereja terdapat lampu yang sejak dulu kerap dimanfaatkan para nelayan sebagai penanda atau mercusuar saat melaut maupun kembali ke darat.
Dentangan lonceng gereja pun menjadi penanda waktu bagi warga sekitar, terutama pada masa ketika jam tangan dan jam dinding belum umum dimiliki masyarakat.
“Lonceng dan lampu itu bukan hanya simbol gereja, tapi juga bagian dari kehidupan nelayan,” jelas pria kelahiran pulau Dewata ini.
Lebih dari itu, Gereja Santo Petrus Tuban hadir dengan semangat keterbukaan dan kebersamaan. Gereja tidak memposisikan diri secara eksklusif, melainkan berupaya menyatu dan mengabdi kepada masyarakat sekitar. Hubungan antara gereja dan warga pesisir, khususnya para nelayan, terjalin secara akrab dan saling menjaga.
Dalam berbagai momentum, seperti peringatan 17 Agustus, gereja ikut terlibat bersama warga, mulai dari kerja bakti hingga tirakatan. Saat memiliki rezeki lebih, gereja juga berbagi dengan masyarakat sekitar. Bahkan dalam aktivitas sosial seperti bersih-bersih pantai dari sampah plastik, gereja siap bergerak bersama warga.
“Kami ingin hadir membawa manfaat. Kalau masyarakat gembira, kami ikut gembira. Kalau masyarakat sedang susah, kami juga ikut merasakan,” kata Romo Made.
Prinsip inilah yang membuat Gereja Santo Petrus Tuban menjadi contoh inkulturasi iman dengan budaya lokal. Bentuk gereja yang menyerupai perahu, simbol mercusuar, serta keterbukaan dalam bidang pendidikan bagi anak-anak masyarakat sekitar, menunjukkan upaya gereja untuk tidak terpisah dari realitas sosial.
Nilai kebersamaan dan saling menghormati ini sejalan dengan wajah moderasi beragama masyarakat Tuban. Berdasarkan data Kementerian Agama, pada tahun 2021 Indeks Kesalehan Sosial masyarakat Tuban mencapai angka 4,40 atau setara dengan 88 persen. Angka tersebut mencerminkan kuatnya sikap toleransi, solidaritas, dan harmoni antar umat beragama.
Kehadiran Gereja Santo Petrus di pesisir Tuban menjadi bagian dari mozaik kerukunan itu. Sebuah gereja yang tidak hanya berdiri di garis pantai Tuban, tetapi juga menancap kuat di tengah kehidupan sosial masyarakat, menjaga nilai kebersamaan, dan merawat moderasi beragama yang telah lama tumbuh di Tuban.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








