Hutan Amazon Rusak Total, 40 Persen Bagian Terancam jadi Padang Rumput

  • Bagikan
Hutan Amazon yang mayoritas terdapat di Brasil terancam deforestasi menjadi sabana atau padang rumput
Hutan Amazon yang mayoritas terdapat di Brasil terancam deforestasi menjadi sabana atau padang rumput. (Foto: Pixabay)

Brasilia – Sebagian besar hutan hujan Amazon, Amerika Selatan berisiko melewati titik kritis di mana bisa menjadi ekosistem tipe sabana atau padang rumuput.

Berdasar hasil penelitian terbaru, hal tersebut terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Penelitian tersebut, berdasarkan model komputer dan analisis data, dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Hutan hujan sangat sensitif terhadap perubahan yang mempengaruhi curah hujan untuk waktu yang lama. Jika curah hujan turun di bawah ambang tertentu, daerah dapat berubah menjadi sabana.

Baca Juga: 14 Juta Ton Sampah Plastik Mengendap di Dasar Lautan, Studi Membuktikan

“Di sekitar 40 persen Amazon, curah hujan sekarang berada pada tingkat di mana hutan dapat berada di negara bagian, hutan hujan atau sabana. Ini menurut temuan kami,” kata penulis utama jurnal tersebut Arie Staal, seperti dilansir dari Technology Networks.

Untuk diketahui, sebelumnya peneliti tersebut juga dipresentasi di pascadoktoral di Stockholm Resilience Center dan Institut Copernicus Universitas Utrecht.

Kesimpulan tersebut dianggap mengkhawatirkan. Sebab, sebagian wilayah Amazon saat ini menerima curah hujan yang lebih sedikit dibanding sebelumnya. Sedangkan tren ini diperkirakan akan memburuk seiring dengan pemanasan wilayah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca secara global.

Baca Juga: Selama 10 Hari, Planet Mars Bakal Bersinar Paling Terang Sejak Tahun 2003

Kerusakan Hutan Amazon Dipadukan dengan Data Atmosfer dan Pemanasan Global

Staal dan rekannya berfokus pada stabilitas hutan hujan tropis di Amerika, Afrika, Asia, dan Oseania. Dengan pendekatan mereka, mereka dapat menjelajahi bagaimana hutan hujan merespons perubahan curah hujan.

“Dengan menggunakan data atmosfer terbaru dan model telekoneksi, kami dapat mensimulasikan efek arah angin dari hilangnya hutan untuk semua hutan tropis. Dengan mengintegrasikan analisis ini di seluruh wilayah tropis, gambaran stabilitas sistematis hutan tropis muncul,” kata Obbe Tuinenburg, mantan asisten profesor di Copernicus Institute of Utrecht University dan ilmuwan tamu di Stockholm Resilience Center.

Tim tersebut mengeksplorasi ketahanan hutan hujan tropis dengan melihat dua pertanyaan. Antara lain yakni terkait bagaimana jika semua hutan di daerah tropis menghilang, di mana mereka akan tumbuh kembali? Serta kebalikannya: apa yang terjadi jika hutan hujan menutupi seluruh wilayah tropis Bumi?

Baca Juga: WHO: 10 Persen Penduduk Dunia Telah Terinfeksi Virus Corona

Skenario ekstrem seperti itu dapat memberi informasi kepada para ilmuwan tentang ketahanan dan stabilitas hutan tropis yang sebenarnya. Mereka juga dapat membantu kita memahami bagaimana hutan akan merespons perubahan pola curah hujan saat gas rumah kaca di atmosfer meningkat.

Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa seiring pertumbuhan emisi, lebih banyak bagian Amazon yang kehilangan ketahanan alaminya, menjadi tidak stabil dan lebih cenderung mengering dan beralih menjadi ekosistem tipe sabana.

Mereka mencatat bahwa bahkan bagian paling tangguh dari hutan hujan menyusut di wilayah tersebut. Dengan kata lain, lebih banyak hutan hujan yang rawan melewati titik kritis karena emisi gas rumah kaca mencapai tingkat yang sangat tinggi.

“Jika kami menebang semua pohon di Amazon dalam skenario emisi tinggi, area yang jauh lebih kecil akan tumbuh kembali daripada yang terjadi pada iklim saat ini,” kata rekan penulis Lan Wang-Erlandsson dari Stockholm Resilience Center.

Para peneliti menyimpulkan bahwa area terkecil yang dapat menopang hutan hujan di Amazon berkontraksi sebesar 66% dalam skenario emisi tinggi.

Di lembah Kongo, tim menemukan bahwa hutan tetap berisiko berubah keadaan di mana-mana dan tidak akan tumbuh kembali setelah hilang. Tetapi, di bawah skenario emisi tinggi, sebagian hutan menjadi tidak terlalu rentan untuk melewati titik kritis. (gg)

  • Bagikan