Isu Gempa dan Tsunami di Pacitan, Jangan Panik!

Isu Gempa dan Tsunami di Pacitan, Jangan Panik!

  • Bagikan
Tangkapan layar postingan instagram Pacitanku tentang edukasi isu potensi bencana gempa bumi dan tsunami di Pacitan/tugu jatim
Tangkapan layar postingan instagram Pacitanku tentang edukasi isu potensi bencana gempa bumi dan tsunami di Pacitan. (Foto: Instagram @Pacitanku dan BanggaPacitan)

PACITAN, Tugujatim.id – Belum lama ini, masyarakat Jawa digemparkan berita peringatan BMKG tentang potensi gempa dan tsunami di laut selatan pulau Jawa, atau sekitar Pacitan. Berita itu mengabarkan  potensi tsunami setinggi 28 meter yang dapat menerjang daratan dalam waktu 30 menit setelah gempa terjadi.

Selain itu, muncul pula kajian potensi gempa bumi dengan magnitudo maksimum gempa megathurst sebesar 8,7. Beredarnya informasi tersebut menimbulkan kepanikan di tengah-tengah masyarakat, khususnya warga yang tinggal di Pacitan, Jawa Timur.

Kepanikan dan kekhawatiran masyarakat harus segera disikapi dengan sosialisasi dan edukasi tentang langkah mitigasi dan antisipasi. Mengutip pesan yang disampaikan dalam postingan akun instagram Pacitanku.com dan akun BanggaPacitan, masyarakat jangan sampai panik dengan informasi yang ada. Masyarakat harus betul-betul memahami informasi tersebut.

Satu hal yang paling penting adalah memahami makna potensi dan prediksi. Terkadang dua istilah ini sering diartikan senada padahal keduanya berbeda. Isu gempa dan tsunami yang diperingatkan oleh BMKG adalah potensi bukan prediksi.

Potensi bermakna adanya bahaya pada lokasi tertentu, tetapi belum pasti kapan bahaya tersebut akan terjadi. Sedangkan, prediksi menunjukkan adanya bahaya pada lokasi tertentu disertai adanya kemungkinan kapan bahaya tersebut akan terjadi.

Waktu adalah unsur pembeda utama dalam memahami definisi kedua istilah tersebut. Pemahaman ini penting agar tidak terjadi simpang siur informasi di tengah-tengah publik. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan tanpa rasa cemas berlebihan.

Tentang isu tersebut banyak masyarakat yang bertanya-tanya, mengapa perairan laut selatan Jawa bahkan Indonesia secara umum sering dikatakan rawan terhadap bencana tektonik tersebut. Menurut informasi yang diunggah dalam postingan akun instagram banggaPacitan, perlu dipahami bahwa potensi bencana gempa bumi dan Tsunami merupakan sebuah keniscayaan. Ada dua aspek utama yang dapat menjelaskan penyebabnya.

Pertama, aspek geografis yang menunjukkan bahwa Indonesia terletak di antara pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.

Pergerakan ketiga lempeng inilah yang sering menjadi penyebab tumbukan antar lempeng, patahan, dan aktivitas lain yang dapat menimbulkan tsunami dan gempa bumi.

Kedua, aspek historis atau sejarah, menurut catatan Belanda, tsunami telah beberapa kali menerjang wilayah Pacitan. Dua di antaranya, gempa Jawa yang memicu tsunami di Pacitan pada 4 Januari 1840. Kemudian, 20 Oktober 1859, pernah terjadi gempa di pulau Jawa yang mengakibatkan tsunami yang menghantam teluk Pacitan.

Beragam isu potensi tersebut, bukanlah untuk menakut-nakuti masyarakat. Ini dapat menjadi dasar untuk mempersiapkan langkah antisipasi dan mitigasi terburuk jika itu benar-benar terjadi. Masyarakat Pacitan khususnya yang tinggal tak jauh dari pesisir pantai harus memahami bagaimana langkah mitigasi dan evakuasi diri ketika terjadi gejala bencana tersebut.

Terkait langkah mitigasi, ada tiga rumus yang disebut Tripel Twenty. Jika gempa bumi terjadi lebih dari 20 detik, maka ada waktu 20 menit untuk menyelamatkan diri, kemudian berlari ke tempat yang ketinggiannya lebih dari  20 meter dengan memperhatikan jalur evakuasi yang ada.

Harapannya dengan edukasi dan sosialisasi tentang cara menyikapi isu potensi bencana dan langkah mitigasinya, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan tanpa rasa khawatir dan phobia yang berlebihan.

  • Bagikan