MOJOKERTO, Tugujatim.id – Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XI Provinsi Jawa Timur tengah mengkaji usulan operasional layanan transportasi umum untuk jalur rintisan rute Mojokerto-Lamongan. Kajian tersebut sebagai upaya tindak lanjut usulan tiga kepala daerah yakni Bupati Lamongan, Bupati Mojokerto dan Wali Kota Mojokerto.
Berawal dari terbitnya surat usulan tersebut, Kementerian Perhubungan melalui BPTD Wilayah XI Jawa Timur melangsungkan kajian tentang jalur rintisan.
Survei gabungan melibatkan oleh BPTD Wilayah XI Jawa Timur, Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Dishub Kabupaten Mojokerto, Dishub Kabupaten Lamongan, Dishub Kota Mojokerto, UPT P3 LLAJ Lamongan, serta UPT P3 LLAJ Mojokerto.
“Survei sudah kami lakukan pada Kamis (13/6/2024) lalu. Pelaksanaan survei ini terjadi di beberapa titik. Pemetaan kami lakukan untuk beberapa titik yang padat dilewati sehingga membutuhkan angkutan tersebut,” kata Kepala UPT P3 LLAJ Mojokerto Dishub Jatim, Kristiani Asih Pratiwi, Minggu (16/6/2024).
Kristiani melanjutkan, beberapa titik yang disurvei meliputi Terminal Kertajaya, lalu Mall Pelayanan Publik Gajah Mada (MPP) Kota Mojokerto, kemudian Pasar Kemlagi, disusul Balai Desa Cendoro, Pasar Kalipang, Pasar Bakalan Pule, serta berakhir di Terminal Lamongan.
“Karena ini jalur rintisan maka subsidi berasal dari Kementerian Perhubungan, bukan dari level provinsi karena kami yang memberikan usulan. Bila jalur rintisan mendapat respon positif perlahan dilepas untuk umum. Rencana ke depan akan memakai armada dari DAMRI bila usulan disetujui,” urainya.
Kristiani menjelaskan bahwa awalnya usulan jalur rintisan berasal dari Kabupaten Lamongan beberapa tahun silam. Namun, usulan tersebut sempat terhenti. Usulan serupa lantas dihidupkan kembali mengingat nihilnya akses angkutan umum untuk daerah Mantup, Lamongan. Selain itu, beberapa kawasan industri di Lamongan belum tersentuh angkutan serupa.
“Masyarakat cenderung memakai kendaraan pribadi yaitu motor. Jadi masyarakat juga usulan ini dinaikkan lagi. Sekaligus agar tersambung dengan wilayah Mojokerto,” bebernya.
Tak hanya itu, usulan trayek ini rencananya berawal dari Terminal Lamongan yang saat ini dikelola oleh pihak provinsi, sehingga mampu mendongkrak kunjungan di Terminal Lamongan. Lalu, armada yang akan digunakan mirip dengan bus Trans Jatim, namun milik DAMRI dengan subsidi dari Kementerian Perhubungan. “Bila sudah realisasi, rencana trayek ini akan meluncur pada tahun 2025,” urai Kristiani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








