Jejak Peradaban 5 Kerajaan di Museum Mpu Purwa Kota Malang, dari Kanjuruhan hingga Majapahit

Jejak Peradaban 5 Kerajaan di Museum Mpu Purwa Kota Malang, dari Kanjuruhan hingga Majapahit

  • Bagikan
Koleksi berbagai arca di Museum Mpu Purwa Kota Malang.
Koleksi berbagai arca di Museum Mpu Purwa Kota Malang. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang)

MALANG, Tugujatim.id – Kota Malang memiliki aset sejarah peradaban yang tak ternilai di Museum Mpu Purwa. Museum ini menyimpan jejak peradaban 5 kerajaan besar yang pernah ada di nusantara mulai dari Kanjuruhan hingga Majapahit.

Di museum yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang ini tersimpan berbagai arca peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan, Singhasari, Kadiri, Mataram Kuno hingga Majapahit. Setidaknya ada sekitar 136 koleksi benda bersejarah dari lima kerajaan tersebut.

Pengunjung yang datang ke museum ini mula-mula akan disambut oleh dua arca makara peninggalan Kerajaan Kanjuruhan. Arca ini bentuknya menyerupai hewan singa tepat di pintu masuk museum.

“Konon Makara ini disimbolkan sebagai penjaga pintu masuk percandian pada masa Kerajaan Kanjuruhan. Arca ini ditemukan di wilayah Merjosari, Kota Malang,” kata Mimin Yuni Marita, juru pelihara Museum Mpu Purwa.

Gedung Museum Mpu Purwa Kota Malang. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang)

Koleksi Arca Makara ini boleh dibilang salah satu masterpiece Museum Mpu Purwa. Selain itu, masterpiece lainnya yakni arca Brahma Caturmuka, Siwa Mahaguru, Prasasti Bunul atau Ganesya Bunulrejo, Siwa Mahaguru atau Agastya, Ganesha Tikus, Bodhisatwa Awalokiteswara dan Prasasti Dinoyo 2.

Saat pengunjung mulai memasuki gedung museum, pengunjung akan menemui arca Brahma Caturmuka tepat menghadap ke pintu masuk yang seakan menyambut para pengunjung. Konon, arca ini merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari.

Selain itu, mata pengunjung juga akan dimanjakan dengan berbagai bentuk Topeng Malangan di sebelah kanan arca Brahma Caturmuka. Selanjutnya, pengunjung bisa menjelajahi berbagai jejak peninggalan kerajaan kerajaan besar di Indonesia.

“Koleksi tertua di museum ini adalah Agastya Mahaguru atau dewa penghancur yang dulunya pernah berada di Candi Gasek atau Situs Karang Besuki. Diperkirakan, arca ini sudah ada sejak tahun 760 masehi,” jelasnya.

Museum Mpu Purwa yang pengelolaannya berada dibawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang ini diresmikan pada tahun 2015. Meski masih baru, museum ini bisa disebut sebagai museum dengan koleksi terlengkap.

Arca Brahma Caturmuka yang merupakan salah satu masterpiece Museum Mpu Purwa. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang)

Namun kunjungan museum ini terbilang masih rendah. Rata rata kunjungan perhari hanya sekitar 3 hingga 10 orang. Pernah sehari tanpa pengunjung, namun juga pernah menerima 200 pengunjung dalam sehari.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Malang, Dian Kuntari menyampaikan bahwa kunjungan di pertengahan tahun 2022 ini sudah mencapai sekitar 1.000 pengunjung. Hal itu disebut sudah mulai meningkat jika dibanringkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai sekitar 100 pengunjung lantaran terhantam pandemi.

“Pengunjung kebanyakan dari masyarakat umum dan siswa. Mayoritas dari Malang Raya tapi ada yang dari luar kota bahkan mancanegara. Jadi ada pengunjung dari Jerman yang sengaja ke museum setelah dari Bali,” bebernya.

Meski begitu saat ini pihaknya juga berupaya untuk meningkatkan kunjungan dengan meramikan museum. Salah satunya dengan mengadakan sejumlah event mulai edukasi, ajang kreasi hingga sarasehan dengan berbagai topik.

“Tentu kegiatan kegiatan itu akan segera kami mulai. Rencananya pekan ini akan kami mulai. Tujuan kami tentu untuk meramaikan dan meningkatkan kunjungan sekaligus mengenalkan museum ke masyarakat luas,” tandasnya.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan