Jejak Sejarah Rumah HOS Cokroaminoto, Tempat ‘Ngopi’ Tokoh-tokoh Penting Kemerdekaan RI

  • Bagikan
Tampak Rumah HOS Cokroaminoto yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31 Kota Surabaya. (Foto: Instagram/@ansikset)
Tampak Rumah HOS Cokroaminoto yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31 Kota Surabaya. (Foto: Instagram/@ansikset)

SURABAYA, Tugujatim.id – Siapa yang tidak kenal sosok Raden Mas Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto yang merupakan pemimpin organisasi pertama di Indonesia bernama “Sarekat Islam”? HOS juga merupakan salah satu orang yang dijadikan pelabuhan belajar dari Presiden Pertama RI Ir Sukarno.

Berkunjung ke rumah HOS, membuat Ir Sukarno dipertemukan oleh berbagai sosok penting dalam upaya memerdekakan Indonesia. Rumah HOS Cokroaminoto berada di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31 Kota Surabaya. Hanya berjarak beberapa meter dari bantaran Sungai Kali Mas yang mengular di tengah kota.

Membahas rumah HOS Cokroaminoto, punya sisi menarik untuk dikaji. Didirikan lebih dari seabad yang lalu, tepatnya pada tahun 1907. Berusia 114 tahun, tampak begitu tua dari aspek usia kronologis, namun masih terawat dengan baik semua longgam arsitektur dan pahatan klasik dari bangunan.

Pemandu Wisata Sejarah Museum Rumah HOS Cokroaminoto Achmad Syaifuna Arief menegaskan tempat bersejarah itu dibangun sejak pemerintahan Hindia-Belanda. Mulai menjadi tempat tinggal HOS Cokroaminoto dan keluarga. Lantas, pasca-kemerdekaan rumah tersebut menjadi nomenklatur Cagar Budaya di Kota Surabaya, hingga diresmikan menjadi museum sejarah.

Sebuah tulisan yang menjelaskan rumah HOS Cokroaminoto yang memiliki banyak catatan sejarah perjuangan. (Foto: Instagram/@ansikset)
Sebuah tulisan yang menjelaskan rumah HOS Cokroaminoto yang memiliki banyak catatan sejarah perjuangan. (Foto: Instagram/@ansikset)

“Rumah ini di bangun pada masa pemerintah Hindia-Belanda, yang mana pada tahun 1907, Pak HOS pernah tinggal di sini beserta keluarganya hingga tahun 1921. Yang mana pada tahun 2006 rumah ini di jadikan Cagar Budaya, tahun 2017 rumah ini di resmikan menjadi museum,” terangnya, Minggu (04/07/2021).

Di sisi lain, Achmad gayeng menjelaskan, keterkaitan Rumah HOS Cokroaminoto pada masa pra-kemerdekaan sebagai lokasi pusat pergerakan, belajar ragam-ragam idiologi, hingga menjadi rumah yang memproduksi tokoh-tokoh penting bangsa Indonesia.

“Keterkaitannya sendiri pada masa pra-kemerdekaan ialah sebagai rumah pergerakan, rumah belajar berbagai ideologi, rumah yang menelurkan para tokoh-tokoh bangsa. Setelah pasca-kemerdekaan rumah ini sempat di huni oleh orang lain,” tuturnya.

Saat itu, di lantai dua rumah HOS Cokroaminoto ada ruang-ruang yang mirip dengan kos. Masing-masing ruang itu dipakai untuk singgah para tokoh seperti Sukarno, Kartosoewirjo, Semaoen, Musso, dan Alimin. Untuk Sukarno sendiri, kos di rumah HOS Cokroaminoto pada tahun 1915, tatkala sedang menyelesaikan studi di “Hogere Burger School” (HBS).

“Keunikannya sendiri ialah sebagai saksi dari sejumlah tokoh-tokoh yang pernah tinggal atau indekos di rumah ini, seperti Sukarno, Semaoen, Alimin, Musso, Kartosoewirjo dan para tokoh lain,” bebernya.

Pengelolaan, Pemandu Wisata dan Situasinya di tengah Pandemi Covid-19

Jam operasional yang terpampang di rumah HOS Cokroaminoto yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31 Kota Surabaya. (Foto: Instagram/@ansikset)
Jam operasional yang terpampang di rumah HOS Cokroaminoto yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31 Kota Surabaya. (Foto: Instagram/@ansikset)

Dalam kesempatan yang sama, Achmad menegaskan bahwa yang aktif menjadi pengurus hanya 2 orang. Yakni pemandu dan petugas kebersihan. Sejauh ini, destinasi sejarah rumah HOS Cokroaminoto masuk dalam tanggung jawab pengelolaan Pemkot Surabaya.

“Yang aktif menjadi pengurus hanya 2 orang, pemandu dan petugas kebersihan. benar, untuk destinasi wisata museum HOS Tjokroaminoto masuk dalam pengelolaan Pemkot Surabaya, lebih ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya,” jelasnya.

Selama pandemi Covid-19, rumah HOS Cokroaminoto yang menjadi wisata museum sejarah itu sedang ditutup. Hingga waktu yang belum ditentukan akibat pandemi Covid-19. Sedangkan, untuk pengunjung dibatasi maksimal 8 orang dan durasi 1 jam berkeliling mengamati ornamen-ornamen klasik.

“Untuk situasinya saat ini masih dalam kondisi tutup dan belum dibuka kembali untuk umum sampai waktu yang belum ditentukan, beberapa bulan yang lalu sempat dibuka kembali, jadi dalam kondisi pandemi Covid-19,” tegasnya.

“Untuk pengunjung yang datang kita batasi maksimal 8 orang dalam satu sesi, kita kasih durasi 1 jam, untuk kedatangan diajurkan registrasi terlebih dahulu di tiketwisata [dot] surabaya [dot] go [dot] id,” pungkasnya.

  • Bagikan