TUBAN, Tugujatim.id – Menyambut Hari Raya Natal 2025, Gereja Paroki Santo Petrus Tuban mulai mematangkan berbagai persiapan. Namun bagi umat Katolik, persiapan Natal tidak hanya soal dekorasi gereja atau kelancaran misa, melainkan lebih pada kesiapan batin dan kepedulian sosial yang dijalani sejak jauh hari.
Romo Paroki Santo Petrus Tuban I Made Agustinus Hadi Prayetno menyampaikan, Natal merupakan hari raya yang sangat penting bagi umat Katolik karena berkaitan langsung dengan iman dan sejarah keselamatan dunia. Karena itulah, persiapan Natal tidak dilakukan secara mendadak.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Tren Aksesori Natal Estetik dan Jajanan Ikonik di Rumah, Makin Nyaman dan Homey!
“Perayaannya memang satu hari, tapi maknanya luas dan mendalam. Maka yang disiapkan bukan hanya fisik atau material, tapi juga batin umat,” ungkapnya, Rabu (24/12/2025).
Made menjelaskan, menjelang Natal 2025, gereja telah membentuk panitia yang bertugas memastikan seluruh rangkaian persiapan berjalan dengan baik. Panitia tidak hanya mengurusi teknis perayaan, tetapi juga mengawal kesiapan umat, baik secara rohani maupun sosial.

Secara liturgi, gereja sudah memasuki masa Advent. Masa ini menjadi waktu khusus bagi umat untuk menata diri sebelum merayakan Natal. Advent dibagi dalam empat tahap dengan penekanan yang berbeda.
Advent pertama mengajak umat menumbuhkan harapan, Advent kedua menguatkan harapan itu dengan iman, Advent ketiga diwarnai suasana gembira karena keselamatan semakin dekat, dan Advent keempat menjadi fase merasakan sukacita menjelang Natal.
“Jadi Natal itu tidak tiba-tiba. Sejak Advent, batin umat sudah diarahkan dan disiapkan,” jelas Romo Hadi.
Gereja Bantu Umat Kurang Mampu dan Donor Darah
Selain persiapan rohani, Gereja Santo Petrus Tuban juga menaruh perhatian besar pada aspek sosial. Menurut Romo Made, tidak semua umat memiliki kondisi ekonomi yang sama saat menghadapi hari raya. Karena itu, Natal diharapkan menjadi momen kebersamaan, di mana yang mampu bisa membantu yang membutuhkan.
Dalam rangka menyambut Natal 2025, panitia Natal menggelar berbagai kegiatan sosial internal, seperti bantuan bagi umat yang kurang mampu serta donor darah. Tujuannya agar Natal benar-benar dirasakan sebagai kegembiraan bersama, bukan hanya oleh mereka yang berkecukupan.
“Ada semangat saling menopang. Yang kuat membantu yang lemah, supaya semua bisa merayakan Natal dengan sukacita,” ujarnya.

Kepedulian itu juga diwujudkan ke luar lingkungan gereja. Menyikapi bencana puting beliung yang terjadi di Kecamatan Semanding beberapa waktu lalu, Gereja Santo Petrus Tuban turut ambil bagian dengan menyalurkan bantuan berupa paket sembako. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk empati kepada warga terdampak sesuai kemampuan yang dimiliki paroki.
Romo Hadi menegaskan, Natal tidak hanya dimaknai sebagai perayaan ibadah, tetapi juga perayaan sosial yang menumbuhkan rasa empati. Apalagi, Natal 2025 dirayakan di tengah berbagai tantangan, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu hingga tekanan ekonomi yang dirasakan banyak keluarga.
“Semua kondisi ini kami jadikan bagian dari renungan Natal. Bahwa Natal itu tentang berbagi kebahagiaan dan menumbuhkan optimisme,” katanya.
Dia juga menyampaikan, keterbatasan manusia dalam menghadapi berbagai persoalan hidup menjadi pengingat pentingnya iman. Dengan mengangkat tema Natal dari Injil Matius pasal 1 ayat 21–24, Gereja Santo Petrus Tuban menekankan pesan bahwa Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga-keluarga di tengah krisis.
“Manusia tetap diajak berusaha dengan akal budi dan kemampuan yang ada, tapi juga mengandalkan Tuhan. Di situlah makna Natal kami hidupi,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








