SURABAYA, Tigujatim.id – Dampak konflik di Kawasan Timur Tengah mulai terasa pada arus pelayaran internasional termasuk ke Indonesia. 85 Persen kapal internasional mengalami keterlambatan tiba di Terminal Tanjung Perak Surabaya akibat Serangan Amerika Serikat bersama Israel ke Iran.
Namun keseluruhan kinerja terminal petikemas di Surabaya masih relatif stabil meski terjadi lonjakan keterlambatan kapal.
Direktur PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, mengungkapkan bahwa keterbatasan draft alur pelayaran di Surabaya memang menjadi faktor teknis yang perlu diperhatikan.
Saat ini kapasitas Surabaya dibatasi draft maksimal sekitar 13,5 meter, sementara dermaga Teluk Lamong berada di kisaran minus 14 meter.
“Kalau kapal long haul ke Eropa atau Amerika itu biasanya di bawah 16 meter. Dengan kondisi yang tidak bisa lewat Terusan Suez dan harus memutar, tentu ada dampaknya,” ujar David, Rabu (4/3/2026).
Berdasarkan data Terminal Teluk Lamong, sekitar 85 persen kapal internasional mengalami keterlambatan. Hal ini karena setiap layanan pelayaran memiliki window kedatangan mingguan yang ketat.
“Mayoritas servis itu weekly. Misalnya datang Senin jam 7 sampai Selasa jam 7. Ketika ada gangguan di rute global, otomatis jadwal bergeser,” jelasnya.
Meski demikian, arus ekspor-impor ke kawasan Timur Tengah dan India masih menunjukkan tren positif. Terminal Teluk Lamong mencatat pada tahun lalu sekitar 30 ribu TEUs langsung ke Middle East, sedangkan target tahun ini 75 ribu TEUs dengan rata-rata pengiriman 1.000–1.500 TEUs per minggu.
David menambahkan, dalam tiga bulan terakhir terdapat tambahan layanan baru, termasuk dari Evergreen, yang membuka rute langsung ke Timur Tengah dan India subcontinent.
Meski volume meningkat, potensi kapal melakukan omit call (batal singgah) tetap ada, tergantung strategi pelayaran. “Kalau volumenya kecil, mereka bisa omit untuk mengejar jadwal berikutnya. Ada yang omit di Semarang, Jakarta, bahkan Surabaya,” kata David.
Ia menjelaskan satu putaran layanan bisa memakan waktu hingga 42 hari dan membutuhkan sekitar tujuh kapal. Jika terjadi gangguan di kawasan Middle East, operator bisa menambah kapal ad hoc atau justru melewati pelabuhan tertentu.
Selain konflik, faktor cuaca seperti topan juga turut memicu keterlambatan. Bahkan waktu tunggu di Singapura sempat mencapai dua minggu pada awal Januari sebelum kini turun menjadi sekitar tiga hingga lima hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: M.Khaesar
Editor: Darmadi Sasongko








