Gelar Kencan Malam Minggu, Strategi Perpustakaan Anak Bangsa di Malang untuk Menarik Minat Baca Remaja

  • Bagikan
Perpustakaan Anak Bangsa yang berada di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini bikin program " Kencan Malam Minggu" untuk menarik minat baca para remaja, Rabu (14/07/2021). (Foto: Eko Cahyono/Tugu Jatim)
Perpustakaan Anak Bangsa yang berada di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini bikin program " Kencan Malam Minggu" untuk menarik minat baca para remaja, Rabu (14/07/2021). (Foto: Eko Cahyono)

MALANG, Tugujatim.id – Perpustakaan Anak Bangsa yang berada di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini ternyata memiliki cara unik untuk menarik anak-anak remaja agar mau datang ke perpustakaan. Salah satunya dengan membuat acara kencan malam Minggu untuk pasangan muda-mudi di sana.

Berawal dari keprihatinan pendiri Perpustakaan Anak Bangsa Eko Cahyono dengan gaya pacaran remaja yang sering keluar malam dan pergaulan bebas. Eko mencari cara agar para remaja ini bisa menghabiskan malam Minggu-nya dengan lebih positif.

“Sebenarnya dulu saya itu cuma berpikir gimana sih caranya agar menarik teman-teman agar mau datang ke perpustakaan. Tujuannya biar mereka (para remaja, red) berusia 17-20 tahun daripada nongkrong saja, saya itu bertanya-tanya gimana caranya mengajak mereka. Kalau anak-anak tinggal dipancing dengan PlayStation, kalau ibu-ibu mungkin dengan masak-masak, dan kalau bapak kan bisa dengan sosialisasi pertanian,” tuturnya saat diwawancarai wartawan Tugumalang.id, partner Tugujatim.id, beberapa waktu lalu.

Eko lalu berpikir untuk mencoba membuat acara kencan malam mingguan. Di mana para remaja diajak menonton film, lalu mendiskusikannya mulai dari jalan cerita hingga akting para aktor-aktris di dalam film.

“Jadi, di situ saya membuat program nonton bareng film-film yang bagus. Soalnya mereka senang datang ke perpustakaan sambil nonton film. Tapi, setelah nonton itu kami mendiskusikannya tentang akting aktor-aktrisnya,” ucapnya.

“Bahkan, perpustakaan saya diubah jadi bioskop, mulai lampu saya matikan, lalu pakai LCD layar besar dan sound system,” sambungnya.

Dari situ justru lama kelamaan anak-anak remaja yang awalnya mau pacaran, justru lupa dengan acara pacarannya sendiri, tapi malah lebih senang nonton film dan berdiskusi.

“Dan lama-kelamaan mereka akhirnya mau membaca juga. Dari awalnya kami diskusi tentang film, lama-lama diskusi soal buku, tokoh-tokoh politik, hingga diskusi soal fenomena yang terjadi di masyarakat. Diskusinya ini justru menjurus ke hal-hal positif dan berbobot,” ungkapnya.

Bahkan, jumlah remaja yang mengikuti acara tersebut juga makin lama makin banyak dan memenuhi setiap sudut perpustakaan.

“Dari awalnya yang datang cuma 5-6 pasangan atau 12 anak saja, sampai akhirnya ramai bisa sampai 20 pasangan. Jadi, dalam semalam itu bisa sampai 50 remaja yang datang,” ujarnya.

Perjalanan acara ini juga sebenarnya tidak berjalan semulus seperti yang diharapkan, awalnya warga sempat memiliki prasangka buruk terhadap acara ini.

“Masyarakat awalnya sempat protes karena disangka buat tempat mesum, zina, dan lain-lainnya,” bebernya.

Namun, akhirnya masyarakat mengerti bahwa ini adalah acara yang positif dan justru orang tua sering kali menitipkan anak-anaknya agar ikut berpartisipasi daripada melakukan kegiatan yang negatif.

“Lama-kelamaan mereka sadar ternyata pacaran di perpustakaan itu menyehatkan. Orang tua sekarang malah mending anaknya pacaran di perpustakaan. Bahkan, kadang ada yang bilang ‘nanti malam anakku biar di tempatmu ya,’ jadi bapak-bapak dan ibu-ibu pesan biar anaknya dititipkan ke tempat saya,” ujarnya.

  • Bagikan