JEMBER, Tugujatim.id – Sebanyak 112 orang yang terdiri dari 99 siswa dan 13 guru SMPN 1 Umbulsari mengalami gejala yang diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SMPN 1 Umbulsari Mamik Sasmiati menyatakan korban mengalami gejala sakit perut, mual, dan diare setelah mengonsumsi makanan yang disediakan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
“Awalnya kami melihat banyak anak yang antre di kamar mandi, mengeluh sakit perut. Setelah kami data, ternyata ada 99 anak dari kelas 7 sampai kelas 9 yang mengalami keluhan serupa sejak kemarin,” ungkap Mamik Sasmiati pada Jumat (06/02/2026).
Baca Juga: Ada Pelanggaran SOP SPPG Buntut Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Umbulsari Jember
Melihat jumlah korban yang cukup banyak, pihak SMPN 1 Umbulsari langsung berkoordinasi dengan pihak SPPG Umbulsari yang bertanggung jawab atas penyediaan MBG. Sebelum tim medis datang, sekolah memberikan pertolongan pertama kepada para korban.
Pihak Sekolah Berpikir Positif Tunggu Hasil Lab
Setelah tim dari puskesmas tiba dan melakukan pemeriksaan, ditemukan indikasi bahwa penyebabnya berasal dari makanan yang kurang matang. Menu yang disajikan pada hari itu terdiri dari nasi, ayam bakar, sambal, tahu goreng, dan susu kemasan.
“Anak-anak sudah didata, sudah banyak yang masalahnya ya, ada hal-hal beberapa ya dari makanan itu karena ada yang kurang matang, itu aja ya dari anak-anak yang ditanya seperti itu. Itu permasalahan,” kata Mamik.
Dari total 112 korban, sebagian besar telah mendapat penanganan dan diperbolehkan masuk kelas setelah kondisinya membaik. Namun, 11 anak masih dalam observasi di puskesmas setempat.
“Yang 11 anak ini masih kami tunggu hasil observasi dari puskesmas. Pihak SPPG tetap bertanggung jawab atas penanganan kasus ini,” jelas Mamik.
Baca Juga: Pihak Sekolah di Jember Ungkap Dugaan Insiden Keracunan MBG Menimpa Para Pelajar dan Tenaga Pendidik
Kepala sekolah menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin saling menyalahkan dan tetap berpikir positif demi kebaikan bersama. Kepastian penyebab keracunan MBG masih menunggu hasil uji laboratorium yang sedang dilakukan.
“Harapan saya ke depan, penyediaan makanan bisa lebih higienis dan bermanfaat. Ini demi anak bangsa, makanan bergizi seharusnya membuat anak tambah sehat, bukan malah menimbulkan masalah seperti ini,” tutup Mamik Sasmiati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








