Ketua Institut Marhaen: Lukisan Ini Penting, Banyak Pelukis Tak Bisa Menyelesaikan “Dialog Bung Karno dan Marhaen”

  • Bagikan
Ketua Institut Marhaen Jacobus K. Mayong Padang di peresmian lukisan Bung Karno dan Marhaen, Gedung Wiyata Untag Surabaya, Selasa (06/04/2021) siang. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Ketua Institut Marhaen Jacobus K. Mayong Padang di peresmian lukisan Bung Karno dan Marhaen, Gedung Wiyata Untag Surabaya, Selasa (06/04/2021) siang. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Ketua Institut Marhaen Jacobus K. Mayong Padang menanggapi agenda peresmian lukisan Bung Karno dan Marhaen karya Sudiyanto Pandji Wiryo Atmodjo. Jacobus berkata bahwa banyak halangan saat memesan lukisan bertema “Dialog Bung Karno dan Marhaen”.

“Kenapa harus ada acara resmi untuk lukisan yang tidak terlalu besar ini. Bertahun-tahun mencoba membuat lukisan ini ke beberapa pelukis, mereka pun saya hubungi. Ada yang siap, tapi berhenti di tengah jalan, ada yang tidak bisa melukiskan,” terang Jacobus di Gedung Wiyata Untag Surabaya, Selasa (06/04/2021).

BANNER DONASI

Jacobus kemudian memaparkan, alasan lukisan “Dialog Bung Karno dan Marhaen” itu penting. Hal itu, Jacobus menjelaskan, merupakan titik awal momen kemerdekaan Indonesia dalam hal pikiran atau kekayaan sumber daya alam.

“Kenapa lukisan ini penting? Karena bagi saya, ini adalah titik awal kemerdekaan Indonesia, bangsa ini banyak rute dan sejarah yang hilang. Bung Karno merenung soal Indonesia. Sekarang mulai terawat dengan baik, tapi belum memuaskan,” jelasnya.

Membuat penanda, Jacobus mengatakan, merupakan bagian penting untuk mengingat sejarah. Salah satunya dengan menemukan titik lokasi saat Bung Karno dan Marhaen berbincang di tengah sawah.

“Saya cari pertemuan Bung Karno dan Kang Marhaen, tapi tidak ada, hilang sama sekali. Saya berusaha ada penanda. Karena pergerakan kemerdekaan ini dimulai dari tengah sawah itu, di situlah pukul 10.00 pada pertemuan itu Bung Karno memutuskan Indonesia harus merdeka,” imbuhnya.

Dimulai dari tengah sawah, Jacobus melanjutkan, karena Bung Karno tidak tahan melihat nasib Marhaen. Itulah cara yang dipakai Bung Karno untuk membantu kaum Marhaen serta berupaya meningkatkan taraf hidupnya di tengah kemiskinan yang dibuat oleh sistem pada masa itu.

“Kenapa garam dan beras harus impor? Karena kita tidak mengenal esensi sesungguhnya untuk memerdekakan negara ini. Saya kembali ke titik nol, kemerdekaan, di tengah sawah. Agar kita tahu apa yang ingin dicapai, silakan buka buku ‘Indonesia Menggugat’,” tandasnya.

Jacobus menjelaskan bahwa di Jawa Barat, ada ribuan petani kehilangan tanah, terpaksa menjual, dipaksa menjual, dan terpaksa menjual karena konspirasi, daerah berubah pemilik tanah menjadi buruh.

“Kenapa bertahun-tahun saya cari lukisan ini supaya ada tanda, itulah pentingnya. Saya tidak mau lukisan itu dikirim, saya ingin datang ke Surabaya saja (untuk mengambil lukisan, red). Ingin tumpengan di rumah Mas Pandji,” ucapnya.

Apa yang diajarkan Bung Karno, Jacobus menjelaskan, saat status sosial sudah tinggi Bung Karno seharusnya bisa mencari petani di kampung untuk diutus masuk ke kawasan atau rumahnya, tapi hal itu tidak dilakukan Bung Karno.

“Justru dia (Bung Karno, red) jalan kaki. Masuk ke sawah dan dialog (dengan Marhaen, red). Pemimpin harus cari warga untuk dapat informasi yang jelas mengenai bagaimana tentang kehidupan,” ujarnya. (Rangga Aji/ln)

  • Bagikan