JEMBER, Tugujatim.id – Sinar matahari sore mulai meredup ketika suara adzan ashar berkumandang dari masjid kecil di kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember. Di sebuah sudut halaman sekolah yang teduh, sepasang orang tua tengah menunggu dengan sabar, duduk di tepian taman yang sederhana.
Ahmad Hasan menikmati sebatang rokok sembari sesekali melirik ke arah bangunan sekolah. Di sampingnya, Nuriyah merapikan kacamata bacanya yang agak longgar, pandangannya tertuju pada seorang gadis kecil yang baru saja keluar dari mushola sambil melipat sajadah dengan rapi.
Gadis itu adalah Ilmiatus Zahro, putri tunggal mereka yang kini berusia 9 tahun. Keluarga sederhana asal Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung ini telah menempuh perjalanan panjang, bukan hanya secara geografis, tetapi juga dalam mencari solusi atas dilema pendidikan yang mereka hadapi.
Cerita keluarga ini bermula dari keputusan berat yang harus diambil beberapa waktu lalu. Zahro sebelumnya adalah siswa di SDN Ajung 2, sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Namun, beban finansial yang semakin mencekik memaksa Hasan dan Nuriyah untuk mencari alternatif lain.
BACA JUGA: Isak Tangis Hari Pertama Sekolah Rakyat Tuban
“Kondisi kami memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan di sekolah yang dulu,” kata Nuriyah dengan nada yang mencerminkan keprihatinan sekaligus harapan. Mata ibu berusia 35 tahun itu sesekali berkaca-kaca ketika membicarakan masa depan anaknya.
Profesi mereka sebagai pengumpul barang bekas seperti botol plastik, kardus, dan berbagai material daur ulang lainnya, memberikan penghasilan yang tidak menentu. Di tengah inflasi dan meningkatnya biaya hidup, impian untuk memberikan pendidikan layak bagi anak semata wayang mereka terasa semakin sulit diwujudkan.
Kehadiran Sekolah Rakyat ibarat jawaban atas doa panjang keluarga ini. Konsep pendidikan gratis yang ditawarkan lembaga ini menjadi harapan baru bagi mereka yang selama ini terpinggirkan oleh sistem pendidikan konvensional.
“Di sini semua tidak dipungut biaya. Kalau bukan karena sekolah ini, bagaimana kami bisa menyekolahkan anak,” ungkap Nuriyah dengan rasa syukur yang tulus.
BACA JUGA: Kisah Haru Penuh Harapan dari Para Siswa Sekolah Rakyat di Surabaya
Menurut Nuriyah, Sekolah Rakyat tidak sekedar tempat belajar, melainkan jembatan untuk menggapai impian manis di tengah realitas yang pahit. Yang membuat hati kedua orang tua ini semakin lapang adalah cita-cita mulia yang dimiliki putri mereka.
Zahro bercita-cita menjadi dokter, sebuah profesi yang membutuhkan pendidikan tinggi dan biaya yang tidak sedikit.
“Anak kami bermimpi jadi dokter. Kalau pendidikannya terputus sekarang, bagaimana mungkin cita-cita itu bisa tercapai,” tutur Nuriyah sambil menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
Meski awalnya khawatir dengan perubahan lingkungan, Hasan dan Nuriyah kini merasa lega melihat Zahro yang tampak beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya. Sistem asrama yang diterapkan di sekolah ini ternyata tidak menjadi beban psikologis bagi anak mereka.
“Alhamdulillah, dia sudah terbiasa. Kemarin berangkat sekolah tanpa menangis sama sekali. Semoga Allah mudahkan,” kata Hasan dengan nada syukur yang mendalam.
BACA JUGA: Guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Rakyat Tuban Diisi dari ASN Kemenag
Saat orang tuanya berbincang dengan wartawan, Zahro duduk tak jauh dari mereka, sesekali tersenyum ketika mendengar namanya disebut. Wajah polos anak berumur 9 tahun itu memancarkan ketenangan, seolah-olah dia sudah memahami bahwa keputusan keluarganya adalah yang terbaik untuk masa depannya.
Ketika ditanya tentang pengalamannya tinggal di asrama sekolah, Zahro hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Meski belum bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata yang kompleks, pancaran matanya menunjukkan kegembiraan dan optimisme.
Zahro bukanlah satu-satunya siswa di Sekolah Rakyat yang memiliki mimpi besar. Namun, kisahnya menjadi representasi dari puluhan anak lain yang berasal dari keluarga ekonomi lemah namun memiliki tekad kuat untuk meraih pendidikan berkualitas.
Di lingkungan sekolah yang sederhana namun penuh semangat ini, cita-cita setinggi langit bukanlah hal yang mustahil. Sekolah Rakyat telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi siapapun untuk mengejar impian mereka.
BACA JUGA: Mensos Saifullah Yusuf Beber Rekrutmen Guru Hingga Siswa Sekolah Rakyat
Bagi keluarga Ahmad Hasan dan Nuriyah, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar. Lebih dari itu, institusi ini adalah simbol harapan bahwa setiap anak, terlepas dari latar belakang sosial ekonominya, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengukir masa depan yang gemilang.
Sore itu, ketika keluarga kecil ini bersiap pulang ke kampung halaman mereka, senyum tipis masih terukir di wajah Zahro. Di matanya terpancar keyakinan bahwa suatu hari nanti, jas putih dokter akan menjadi realitas, bukan sekadar mimpi di siang bolong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








