MOJOKERTO, Tugujatim.id – Menuntut ilmu ke luar negeri sering kali meninggalkan memori tersendiri. Seperti yang dialami oleh dosen Unim Mojokerto bernama Justsinta Sindi Alivi. Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) ini mendapat banyak pengalaman berharga saat berkuliah selama beberapa tahun di Inggris.
Sindi mendapat kesempatan kuliah ke Benua Biru setelah dinyatakan terpilih mendapat beasiswa dari Kementerian Agama (MoRA Scholarship). Sindi mengambil beasiswa by research jenjang PhD in Education di Warwick University, Coventry, Inggris.
Seperti kebanyakan orang, Sindi tidak luput mengalami gegar budaya (shock culture). Aspek budaya yang cukup membikin Sindi kesulitan adalah aksen bahasa. Meski Sindi merupakan lulusan dari program studi bahasa Inggris, ternyata apa yang dia pelajari cukup berbeda dari bangku perkuliahan sebelumnya.
“Paling jelas yang bikin shock culture itu aksen bahasa. Kan kalau belajar di sini (Indonesia) itu seringnya yang dipelajari American English, bukan British English. Jadi, cukup bikin kesulitan pas awal-awal ada di Inggris,” ujar Sindi kepada Tugu Jatim, Jumat (13/10/2023).
Sindi mencontohkan, salah satu aksen yang bikin dia bingung adalah penyebutan “bus” atau kendaraan sejenis. Sindi biasa menyebut dengan “bas”, sementara beberapa penutur British English ada yang tetap menyebutnya “bus”.
“Itu belum lagi di daerah kayak Liverpool atau Wales. Mereka punya aksen masing-masing yang tidak jarang bikin kami bingung maksud mereka apa,” imbuh Sindi.
Namun, pelan-pelan Sindi dapat memahami aksen yang berlaku di wilayah dia berkuliah dan tinggal. Terlebih tidak jarang orang-orang sekitar Sindi memberikan penjelasan lebih sederhana saat dia tidak paham aksen bahasa yang dipakai.
“Mereka ngomong dengan penjelasan yang sederhana pas kami lagi bingung,” urainya.
Sementara suasana pembelajaran yang dialami oleh dosen Unim Mojokerto ini saat berkuliah PhD di Inggris dia anggap sama saja dengan di Indonesia. Seperti keaktifan mahasiswa di dalam kelas perkuliahan.
“Kalau dari sisi pembelajaran tentu hampir sama di kelas. Jadi, kalau ga dipanggil ya tidak menyahuti pertanyaan dosen,” ujarnya.
Lalu satu hal yang menurut Sindi sulit dilupakan adalah suasana diskusi serta kurikulum akademik seperti independent learning. Bagi Sindi, suasana diskusi antara dosen dengan mahasiswa begitu cair dan berlangsung tanpa nuansa senioritas.
“Jadi kami pas diskusi soal disertasi itu enak gitu. Supervisor banyak kasih saran, kayak diskusi sama teman sendiri. Gak ada suasana lebih senior atau apa pun itu,” beber Sindi.
Akibat model independent learning dan perpustakaan kampus buka selama 24 jam, bisa dipastikan bahwa hampir setiap hari perpustakaan tempat kuliah Sindi dipenuhi oleh mahasiswa. Bahkan, ada ruangan khusus di perpustakaan kampus untuk mahasiswa jenjang PhD.
“Lengkap juga, ada pantry di perpustakaan, ada mesin kopi. Belajar jadi nyaman apalagi buka terus 24 jam,” kata Sindi.
Dari suasana perpustakaan kampus tersebut membuat Sindi tergerak untuk ikut bekerja di perpustakaan tersebut. Tidak butuh waktu lama, Sindi memutuskan bekerja paro waktu sebagai pengawas perpustakaan.
“Dibatasi kerja 20 jam seminggu. Itu sudah aturan yang berlaku di Inggris,” terangnya.
Pengalaman kerja paro waktu ini sangat membekas bagi Sindi. Sebab, banyak orang yang ditemui oleh Sindi ketika berada di perpustakaan.
“Sekaligus kami bisa belajar melayani, kan berhubungan dengan customer service,” ujarnya.
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








