Kisah Komunitas Preman Mengajar di Malang: Sempat Dicap Penculik dan Pengedar Narkoba

  • Bagikan
Komunitas Preman Mengajar ketika memberikan edukasi tarian seni budaya kepada anak anak. (Foto: Dokumen/Komunitas Preman Mengajar)
Komunitas Preman Mengajar ketika memberikan edukasi tarian seni budaya kepada anak anak. (Foto: Dokumen/Komunitas Preman Mengajar)

MALANG, Tugujatim.id – Label preman tak selalu identik dengan kejahatan, kekerasan, dan hal negatif lainnya. Nyatanya, Komunitas Preman Mengajar yang berada di bawah naungan Republik Gubug di Kabupaten Malang mampu memberikan warna dalam dunia kelompok masyarakat termarjinalkan ini.

Komunitas Preman Mengajar yang mayoritas beranggotakan mantan preman ini telah membuktikan bahwa latar belakang preman tak selalu meresahkan masyarakat. Mereka berhasil menepis stigma itu dengan menebar hal positif dan bermanfaat bagi generasi penerus bangsa.

Beberapa kegiatan Komunitas Preman Mengajar di antaranya, mendirikan taman baca, bimbingan belajar, edukasi kreasi seni budaya dan ruang diskusi. Semua itu mereka didedikasikan untuk anak anak mulai jenjang TK hingga SMA di Kabupaten Malang.

Sering Dianggap Penculik dan Pengedar Narkoba

Komunitas Preman Mengajar memberi edukasi pengenalan topeng malangan. (Foto: Dokumen/Komunitas Preman Mengajar)
Komunitas Preman Mengajar memberi edukasi pengenalan topeng malangan. (Foto: Dokumen/Komunitas Preman Mengajar)

Namun dalam perjalanannya, Komunitas Preman Mengajar tak selalu mendapat jalan mulus. Lantaran beranggotakan mantan preman, mereka sering mendapati penolakan warga kampung saat memulai pergerakannya.

“Dulu kami sering ditolak saat masuk ke beberapa kampung-kampung. Kita disebut penculiklah, pengedar narkoba, dan sebutan lain berlabel preman,” ujar Wondo, Koordinator Komunitas Preman Mengajar.

Lantaran ingin berbuat kebaikan, lantas penolakan masyarakat tersebut tak membuat mereka putus asa. Justru penolakan itu telah mengobarkan bara semangat mereka untuk melebur stigma negatif tentang mantan preman ini.

Perjuangan mereka untuk menebar kemanfaatan terus dilakukan tanpa kenal menyerah meski terus mendapat penolakan warga. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit, masyarakat mulai melirik ketulusan hati mantan preman ini.

Beberapa warga mulai membukakan pintu dan mengizinkan Komunitas Preman Mengajar ini memasuki kampung kampung. Kala itu mereka hanya berbekal perpustakaan keliling dengan buku buku seadanya.

Berjalannya waktu, antusias anak anak mulai tampak ramai dan menunjukkan dampak positif. Hal itu lantas mendapat perhatian warga yang kemudian didirikanlah gubug baca atau taman baca disetiap kampung.

Komunitas Preman Mengajar Sudah Dirikan 45 Gubuk Baca

Komunitas Preman Mengajar memberikan bimbingan belajar di gubug baca. (Foto: Dokumen/Komunitas Preman Mengajar)
Komunitas Preman Mengajar memberikan bimbingan belajar di gubug baca. (Foto: Dokumen/Komunitas Preman Mengajar)

Kini sudah ada 45 gubuk baca yang tersebar di 3 kecamatan di Kabupaten Malang. Diantaranya di Kecamatan Jabung, Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang.

“Sebenarnya pada awalnya kita memang beranggotakan mantan preman. Mungkin karena dipandang tampak positif, temen temen bukan kalangan mantan preman juga banyak yang bergabung. Bahkan ada juga dari mahasiswa,” kata Wondo.

Wondo tidak menyangka pergerakan para mantan preman benar benar menunjukkan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dia mengaku sangat bersyukur bisa bergabung dalam komunitas tersebut.

Dulunya Wondo mengaku juga merupakan seorang anak kampung yang hari harinya diisi dengan mabuk mabukan dan hal hal negatif lainnya. Hingga akhirnya dia merasa jenuh dan ingin berubah dengan mencoba melakukan hal yang bermanfaat sebagai penebusan dosa.

“Hidupkan cuma sekali, apa yang terjadi nantinya kalau kita tidak pernah bermanfaat. Walaupun latar belakang saya agak negatif, setidaknya ada perubahan yang bisa saya lakukan untuk masyarakat,” ucapnya.

Namun sayang partisipasi Komunitas Preman Mengajar di dunia pendidikan Kabupaten Malang tak pernah mendapat perhatian pemerintah. Padahal gerakan positif seperti ini akan berkembang lebih pesat dan dapat memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat jika ada perhatian pemerintah.

“Sejauh ini belum ada dukungan dari pemerintah, justru penolakan yang paling sering. Sampai kita dikira anti pemerintah,” ujarnya.

  • Bagikan