MOJOKERTO, Tugujatim.id – Tanaman daun kelor ternyata membawa berkah atau cuan bagi warga Mojokerto, Jawa Timur. Seperti yang dilakukan oleh Sulistyawati. Tanaman kelor disulap menjadi camilan ringan yakni stik kelor. Menariknya, Lies, sapaan Sulistyawati, sudah menggeluti usaha ini sejak 2018 atau 7 tahun lalu.
Lies bercerita bahwa dia menggeluti usaha tersebut bersama suaminya. Terlihat, Purwanto, suami Lies, tampak cekatan menyiapkan bahan dasar untuk diolah oleh istrinya.
Baca Juga: Mobilitas Warga Terganggu Pasca Tembok RS Unej Roboh Lagi, Begini Kata Humas
“Suami bagian membersihkan dan menyiapkan bahan baku. Kalau saya yang menyiapkan bumbu. Lalu daun kelor dibumbui, digoreng, sama di-packing sekalian,” terang Lies, Senin (20/01/2025).
Lies menambahkan, suaminya memutuskan keluar dari pekerjaan lalu merintis usaha. Produk stik kelor dengan nama Lies Snack ini saat itu dimulai dengan modal Rp1,5 juta. Camilan sehat menjadi motivasi Lies saat memutuskan membuat camilan berbahan daun kelor. Selain itu, sempat terdapat lomba inovasi camilan dari daun kelor.
“Muncul ide bikin stik kelor. Karena waktu itu, ada lomba camilan dengan bahan kelor. Jadi saya buat stik kelor. Kalau cuma sayur saja kan anak-anak jarang mau, jadi saya bikin yang versi camilan,” ujarnya.
Perlahan, tidak hanya produk dari kelor, keripik dari bahan dasar lain juga digarap oleh pasangan suami istri ini. Mulai bahan dasar singkong, talas, pisang hingga opak. Tidak hanya itu, alat-alat untuk mengolah bahan dasar menjadi keripik dibuat sendiri oleh suami Lies.
“Setelah suami resign, mulai membuat alat-alat juga. Awalnya nyoba-nyoba,” beber Lies.
Baca Juga: Kasus PMK di Jember Meluas, Pasar Hewan Kemisan di Kecamatan Ajung Lengang
Dia mengaku menggeluti usaha ini demi menyambung hidup. Namun, perlahan produknya kian diminati.
“Ya karena untuk biaya hidup. Niatnya bantu suami, lalu untuk pendidikan anak-anak. Dan akhirnya memberanikan diri usaha mandiri bersama,” ujarnya.
Sementara itu, keripik produksi Lies dibanderol mulai Rp10.000 hingga Rp15.000. Selain kemasan tanggung, kemasan kecil seharga Rp2.000 juga dijual di warung-warung kopi (warkop).
“Selain sudah ada reseller dan dijual ke pusat oleh-oleh, sudah ada sekitar 10 warkop, tapi kemasan kecil,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








