Kisah Petugas Pulasara Jenazah di Malang: Kubur 108 Jenazah Covid-19 dalam Sepekan

  • Bagikan
Perjuangan petugas pemulasaraan jenazah Covid-19 di Kota Malang. (Foto-foto: Rubianto/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Perjuangan petugas pemulasaraan jenazah Covid-19 di Kota Malang. (Foto-foto: Rubianto/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Angka kasus Covid-19 di Kota Malang dalam sepekan terakhir terus melonjak tajam. Total angka kasus Covid-19 per 29 Juni 2021 sudah di angka 7.051 kasus. Dalam sepekan terakhir juga, total ada sekitar 108 jenazah dikubur dengan protokol Covid-19.

Informasi dihimpun dari tim PSC 119 Dinkes Kota Malang, dalam sepekan terakhir, total ada 108 jenazah Covid-19 dimakamkan. Per harinya, rata-rata mengubur jenazah di atas angka 10. Tentu, kondisi ini kembali membuat petugas kewalahan.

Petugas tengah mempersiapkan jenazah sebelum diberangkatkan untuk dimakamkan sesuai prosedur pemakaman Covid-19. (Foto: Rubianto/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Petugas tengah mempersiapkan jenazah sebelum diberangkatkan untuk dimakamkan sesuai prosedur pemakaman Covid-19. (Foto: Rubianto/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Seperti diketahui, dalam tugasnya ini petugas bergerak mulai dari penjemputan, memandikan jenazah hingga mengubur jenazah di TPU sesuai domisili. Namun jika dalam sehari ada 23 orang dimakamkan prorokol, tak jarang petugas rela bekerja lembur.

”Kemarin itu pada Selasa (29/6/2021), sehari ada 23 jenazah yang harus dimakamkan sehari itu juga. Terpaksa akhirnya petugas kami gantian ngubur mulai pagi sampai malam baru selesai,” ungkap Kepala UP Pemakaman DLH Kota Malang, Taqroni Akbar, Rabu (30/6/2021).

Tak hanya dikuras tenaga mulai pagi hingga malam, para petugas juga harus menempuh jarak bolak-balik dari RS ke tiap penjuru TPU di Kota Malang. Tentu, kerja ini kata Taqroni sudah menjadi bagian resiko pekerjaan.

Keluarga jenazah tampak menunggu di hadapan peti mati keluarganya yang meninggal akibat terpapar Covid-19. (Foto: Rubainto/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Keluarga jenazah tampak menunggu di hadapan peti mati keluarganya yang meninggal akibat terpapar Covid-19. (Foto: Rubainto/Tugu Malang/Tugu Jatim)

”Kelelagan itu pasti, tapi ya harus ikhlas. Situasinya sudah kadung seperti ini, pelayanan kita harus tetap jalan. Kita tetap jaga pola makan, pola istirahat, tetap,” ungkapnya.

Mengantisipasi agar tidak ada petugas yang bertumbangan karena kecapekan, Taqroni memberi jatah waktu libur selama 2 hari kepada anak buahnya. Agar mereka bisa menjaga kebugaran tubuh mereka juga.

”Kalau gak enak badan, kami juga persilahkan izin untuk libur. Selain itu, kita juga rutin minum air putih dan jamu-jamuan,” kata dia.

  • Bagikan