Komunitas Kampoeng Dolanan; Permainan Tradisional yang Melatih Kejujuran dan Sportivitas - Tugujatim.id

Komunitas Kampoeng Dolanan; Permainan Tradisional yang Melatih Kejujuran dan Sportivitas

  • Bagikan
Anak-anak sedang bermain hulahop, permainan tradisional yang sudah jarang dilakukan. (Foto:Dok/Kampoeng Dolanan/Tugu Jatim)
Anak-anak sedang bermain hulahop, permainan tradisional yang sudah jarang dilakukan. (Foto:Dok/Kampoeng Dolanan/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Tampak anak-anak sedang bermain di lahan kampung yang terletak di Jalan Kenjeran Gang IV-C Surabaya. Ada yang pakai sandal, ada juga yang “nyeker”. Kebetulan tanah itu masih dimiliki PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan menjadi kompleks lokomotif, tidak heran bila anak-anak itu sering bermain di antara rel kereta api, dan sesekali ada gerbong kereta yang melintas dengan kecepatan rendah.

Pendiri Kampoeng Dolanan Mustofa menjelaskan, prinsip yang dibawa komunitas ialah “Setiap Orang Adalah Guru, Setiap Waktu Adalah Belajar dan Alam Raya Adalah Sekolahnya”. Cak Mus, panggilan akrab Mustofa, belajar prinsip itu dari dua tokoh nasional, yaitu Ki Hadjar Dewantara dan Ki Hadi Sukatno.

Saat anak-anak belajar bersama di Kampoeng Dolanan Surabaya. (Foto: Dok/Kampoeng Dolanan Surabaya/ Tugu Jatim)
Saat anak-anak belajar bersama di Kampoeng Dolanan Surabaya. (Foto: Dok/Kampoeng Dolanan Surabaya/ Tugu Jatim)

“Anak-anak tidak mengenal permainan tradisional bukan karena mereka tidak ingin memainkannya. Tapi, justru karena mereka tidak teredukasi tentang permainan tradisional. Dua tokoh itu menjadi alasan kami untuk menerapkan nilai-nilai di Kampoeng Dolanan,” terang Cak Mus kepada Tugu Jatim pada Kamis (21/01/2021).

Banyak permainan tradisional yang dilestarikan di Kampoeng Dolanan. Misalnya seperti patil lele, holahop, egrang bambu, egrang batok kelapa, serta permainan tradisional lainnya. Semua permainan itu bisa dipakai untuk belajar, kawan bermain juga dapat dijadikan guru, serta lingkungan yang masuk di kawasan lokomotif itu pun layak dipakai tempat belajar anak-anak.

“Permainan tradisional bisa dijadikan sebagai tools untuk pendidikan dengan segala sektoral bidang. Mulai dari ekonomi, bisnis, dan pemberdayaan. Ke depan akan kami terus mengenai permainan tradisional, dikorelasikan sama ilmu pengetahuan,” lanjut lelaki yang menjadi founder Kampoeng Dolanan pada pewarta Tugu Jatim.

Anak-anak itu bermain dengan wajah yang semringah, bahagia, saling akrab satu sama lain, jumlah mereka banyak, sekitar 15-20 anak setiap bermain bersama. Usia mereka beragam, mulai dari 6 tahun, ada yang sudah sekolah menengah pertama (SMP) serta ada yang duduk di bangku sekolah menengah akhir (SMA). Tapi, rata-rata mereka masih sekolah dasar (SD). Kemudian, Cak Mus menjelaskan soal manfaat permainan tradisional bagi anak-anak.

“Saya ambil contoh tentang permainan tradisional itu ada pelatihan tentang sportivitas, kejujuran, team work, daya tahan tubuh, keseimbangan, mental, dan lain sebagainya. Sangat banyak yang bisa dibahas,” lanjut Cak Mus.

Cak Mus mengatakan, teknologi sudah masuk, jadi tidak bisa dihindari. Yang memakai teknologi kadang memiliki dualisme sifat yang berbeda, misal di media sosial ramai, tapi di dunia nyata pendiam. Satu hal yang tidak bisa hilang dari permainan tradisional, dapat berinteraksi secara langsung dan menjadi diri sendiri.

“Maka yang perlu dilakukan ialah bijak memakai teknologi. Namun, dengan permainan tradisional itu kita bisa menjadi diri sendiri karena bisa berinteraksi secara langsung dengan kawan-kawan saat bermain,” ujar Cak Mus.

Pengurus komunitas Kampoeng Dolanan yang masih aktif per tahun 2021 itu ada 10 orang. Dari berbagai latar belakang pendidikan, perguruan tinggi, dan usia. Intinya, semua orang adalah guru, setiap waktu ialah belajar, serta alam raya merupakan sekolahnya. (Rangga Aji/ln)

  • Bagikan