Komunitas Kampoeng Dolanan Surabaya: Kala Permainan Tradisional Dipadu dengan Pendidikan Moral

  • Bagikan
Suasana anak-anak ketika bermain di Kampoeng Dolanan Surabaya yang terletak di pinggir rel kereta api. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim) Kampoeng dolanan tugu jatim
Suasana anak-anak ketika bermain di Kampoeng Dolanan Surabaya yang terletak di pinggir rel kereta api. (Foto: Dokumen/Kampoeng Dolanan Surabaya)

SURABAYA, Tugujatim.id – Ada ribuan komunitas di Surabaya. Salah satunya komunitas ‘Kampoeng Dolanan’, didirikan untuk menjaga berbagai macam permainan tradisional dan mendidik anak-anak kampung dalam penguatan moral, etika dan tata krama dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

Kampoeng Dolanan dibentuk pada 13 Desember 2016, lokasinya di Jalan Kenjeran IV-C No. 15 Surabaya, merupakan kompleks lokomotif Sidotopo Dipo Surabaya. Komunitas unik ini dibentuk untuk mengembangkan masyarakat yang terdiri dari anak-anak dan orang tua, pedagang, pemuda melalui permainan tradisional.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

“Bermain itu pendidikan. Dulu pertama kali dibentuk karena ada kasus tentang ‘attitude’ seorang mahasiswa pada dosennya, pakai komunikasi yang tidak sopan. Lalu si dosen curhat di medsos, ternyata ada kejadian sama di berbagai lokasi. Yang hilang itu, tidak ada teguran secara langsung dari si dosen,” jelas Mustofa, akrab dipanggil Cak Mus, pendiri komunitas Kampoeng Dolanan pada pewarta Tugu Jatim, Kamis (21/01/2021).

Para anggota komunitas Kampoeng Dolanan Surabaya. (Foto: Dokumen/Kampoeng Dolanan Surabaya) tugu jatim
Para anggota komunitas Kampoeng Dolanan Surabaya. (Foto: Dokumen/Kampoeng Dolanan Surabaya)

Konsep yang dipakai Kampoeng Dolanan, kata Cak Mus, untuk mendidik anak-anak kampung dalam soal moral dan etika ialah melalui proses bermain itu sendiri. Saling mengingatkan antara pemain yang satu dengan pemain yang lain.

“Misalkan, ada anak yang mau mengajak kawannya bermain. Dia memanggil di depan rumah, ‘Dimas, ayo bermain!’. Tapi, yang keluar ibunya. Otomatis anak-anak ini harus bicara dengan sopan ke Ibu Dimas. Dalam hal itu saja, sudah ada etika dan moral yang perlu dipelajari anak-anak saat akan bermain,” terang Cak Mus.

Cak Dolan mengatakan, bermain engkle, kelereng, tarik tambang dan pelbagai dolanan tradisional lain memiliki peraturan atayu ‘rules’. Bila bermain dan ada salah satu yang melanggar, otomatis pemain lain akan mengingatkan kesalahan itu. Dari proses saling mengingatkan itu timbul proses belajar pada anak-anak kampung tersebut.

“Saat kita menginjak garis tetapi kita tidak tahu, pemain lain akan menegur (saat bermain engkle, red). Artinya, saat bermain bersama teman-teman, walau kamu tidak melihat kesalahanmu pun, tetap ada yang Maha Melihat,” lanjut lelaki yang lebih suka disapa dengan sebutan Cak Mus itu.

Program yang dijalankan komunitas Kampoeng Dolanan meliputi: Pendidikan, progam itu bernama Semesta Belajar dan Workshop Permainan Tradisional; Kebudayaan, Sambang Sekolah, Sambang Kampoeng, Sambang Dalan, Sambang Event dan Sambang Komunitas; Ekonomi, Outbond, Dakon’s Catering, Sinome Buk Pah; Industri Kreatif, Produk Daur Ulang; dan Jurnalistik, Tabloid dan Website. (Rangga Aji/gg)

  • Bagikan