Konten Untuk Pemuda, Pelajaran Dari Narasi

Konten Untuk Pemuda, Pelajaran Dari Narasi

  • Bagikan
Tangkap layar acara webinar acara Teras Belajar seri ke 18 bersama dengan Narasi/tugu jatim
Tangkap layar acara webinar acara Teras Belajar seri ke 18 bersama dengan Narasi. (Foto: Dokumen)

Oleh : Rosita Wulandari, member Pondok Inspirasi

Tugujatim. Id – Belajar tentang perkembangan media informasi dan media sosial lainnya menjadi suatu hal yang sangat menarik belakangan ini. Lebih-lebih ketika dihubungkan dengan kehidupan anak muda. Ada perubahan yang cukup signifikan dalam menggunakan media informasi di era konvensional dengan di era serba internet saat ini.

Saya mendapat banyak pelajaran cukup berarti tentang bagaimana perkembangan media informasi saat ini, terutama ketika mengikuti acara Teras Belajar seri ke 18  bersama dengan Narasi. Acara ini bertajuk Appealing Young People with Creative News Platform. Acara yang berlangsung pada Kamis (5/8/2021) menghadirkan pembicara-pembicara dari Narasi.

Pembicara pertama Monica Noeva, salah satu Content Producer di Narasi. Dia menjelaskan banyak hal tentang media informasi yang membuat wawasan saya semakin terbuka. Salah satunya, perbedaan konten pada media konvensional dan media modern saat ini.

Menurutnya, media konvensional seperti televisi memiliki konten yang terkadang kaku karena harus memenuhi aturan tertentu. Tapi, sekarang bisa lebih banyak mendapatkan informasi melalui Youtube, Instagram, Twitter, Tiktok, dan facebook. Di mana kontennya lebih longgar dan tidak kaku.

Kini, masyarakat bisa memilih dari media mana informasi akan didapatkan. Bahkan siapapun bisa menjadi jurnalis dengan berbagi konten di media sosial.

“Yang membedakan sekarang dengan zaman dahulu adalah kuasanya kita sebagai user ya kita bisa memilih akan menggunakan media apa dan informasi apa yang akan kita konsumsi, content on demand.” Ini ungkapan Monica yang saya catat untuk diingat.

Hal penting lagi adalah media sosial sekarang didominasi oleh anak-anak muda. Ini mengharuskan media lama menyesuaikan untuk bisa lebih menarik audien dengan konten yang relatable terhadap anak-anak muda yang lebih suka berkreasi.

Kita mesti menghadirkan berita yang mudah dicerna oleh audien yaitu berita yang membawa konten dengan pengemasan yag singkat, langsung, dan simple. Sementara untuk menarik audien yang mudah terdistraksi, kita harus mengemas konten yang ada dengan menarik dan kreatif.

Dalam kesempatan ini, Monica juga membagikan tips untuk mendapatkan ide-ide baru yaitu dengan memperbanyak referensi memalui scrolling instagram dan tiktok sehingga kita tau apa yang sedang tren di masyarakat serta tau pesan apa yang akan disampaikan.

Pemahaman yang sangat berarti dari Monica ini semakin diperjelas oleh Amanda Valani, Head of Signature Content di Narasi. Dia memaparkan tentang evolusi sosial media yang terus terjadi.

Evolusi sosial media dapat dilihat dari lahirnya Facebook di tahun 2004, YouTube 2005, Twitter 2006, dan Instagram di tahun 2010. Lahirnya berbagai media sosial ini membuat user berubah secara kebiasaan, yang akhirnya muncul sebagai peluang bisnis dan inovasi teknologi.

Media konvensional mau tidak mau harus ikut berevolusi agar tetap jaya di masa banyak pilihan media seperti sekarang ini. Salah satu perbedaan sekarang adalah dari sisi akses media.

Menurut Amanda anak-anak sekarang mengonsumsi berita di tempat nongkrong yang paling sering dan terlama mereka berada di media sosial. Dan kini, menurutnya media konvensional sudah sadar akan hal tersebut, makanya mereka juga ekspansi ke media sosial dengan target audiens yang lebih spesifik.

Perubahan kebiasaan mengonsumsi berita anak muda ada di media sosial, pada akhirnya semua penyedia berita menjangkau di mana mereka berada.

Kemudian secara interaksi perubahan dalam mengonsumsi berita, anak-anak muda cenderung lebih vokal dan mengungkapkan pendapatnya setidaknya di dunia maya. Adanya platform digital membuat anak muda lebih senang, bebas berekspresi, dan berbagi impresinya terhadap konten.

Ketika mereka suka maka akan ngelike, ketika mereka sadar atau memiliki pemikiran yang berbeda mereka anak komen, lebih jauh lagi ketika mereka merasa tergerak mereka akan membuat konten lanjutan dari konten yang dilihat tersebut. Cara interaksi audien berbeda terhadap perubahan lanskap media karena dimungkinkan dengan fitur-fitur yang ada.

Selanjutnya kemasan dan gaya bahasa juga penting. Anak muda lebih suka melihat konten ketika gaya bahasanya kasual, lugas, dan tidak ada jaron-jargon normatif. Adapun cara untuk menjadi audien yang kritis antara lain lihat kapan berita ditulis, lihat kredibilitas platformnya, dan lihat independensi medianya.

Dua nara sumber ini telah memberikan insight yang luar biasa. Tapi eits,, masih ada satu lagi. Dia adalah Elisabeth Glory, Project Manager di Porta Branding. Dia menjelaskan tentang trendsetter. Untuk menjadi trendsetter harus bisa melihat tren terlebih dahulu.

Jadi kalau mau bikin konten yang sifatnya ngetren, kita perlu tentuin dulu mau buat konten apa. Misalnya, body positivity, maka harus pelajari hal itu dengan riset dari sekarang. Salah satu langkah awal menjadi trendsetter adalah melakukan riset dengan mencari sumber yang kredibel dan domainnya jelas.

Hemm.. sungguh menyenangkan belajar dengan kakak-kakak di Narasi.

Sebelum berakhir, ketiga narasumber memberikan tips brainstorming saat akan membuat konten yaitu menentukan tema, menggali ide agar dari satu tema bisa menjadi satu perspektif, diskusi bersama, dan membuat kemasan yang paling menarik.

Nah, itu pengalaman saya belajar dengan sosok yang aktif di bidang media informasi saat ini. Semoga memberi manfaat bagi siapapun yang saat ini sedang aktif menjadi pembuat konten ataupun mereka yang sedang merencanakan menjadi pembuat konten.

  • Bagikan