Kota Batu Bangun Trotoar Ramah Difabel Senilai Rp 6 Miliar - Tugujatim.id

Kota Batu Bangun Trotoar Ramah Difabel Senilai Rp 6 Miliar

  • Bagikan
Para pekerja tengah menggarap akses trotoar yang nanti juga ramah difabel di Jalan Sudiro, Alun-Alun Kota Wisata Batu, Rabu (29/9/2021). (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim) trotoar ramah difabel pemkot batu
Para pekerja tengah menggarap akses trotoar yang nanti juga ramah difabel di Jalan Sudiro, Alun-Alun Kota Wisata Batu, Rabu (29/9/2021). (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

BATU, Tugujatim.id – Proyeksi menjadi Kota Ramah Penyandang Disabilitas terus ditunjukkan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya renovasi trotoar agar ramah untuk para difabel. Bahkan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 6 miliar untuk mewujudkan hal ini.

Hal itu bisa dilihat pada proses renovasi trotoar ramah difabel di Jalan Sudiro, Alun-Alun Kota Batu, kawasan Songgoriti, Jalan AP III Kaatjoeng Permadi, trotoar Desa Junrejo, dan lain-lain. Semua akses trotoar akan dibangun secara bertahap.

”Harapannya nanti semua trotoar di Kota Batu bisa ramah bagi para penyandang disabilitas, anak-anak dan juga lansia,” kata Kepala DPUPR Kota Batu, Alfi Nurhidayat kepada awak media, Rabu (29/9/2021).

Pemkot Batu Anggarkan Rp 6 Miliar untuk Trotoar Ramah Difabel

Saat ini, kata Alfi, renovasi dengan total anggaran senilai Rp 6 miliar dimulai dari titik Alun-Alun dan Songgoriti. Selain untuk memfasilitasi para difabel, renovasi trotoar ini ditujukan untuk mempercantik wajah kota.

Sebagai pembedanya, wajah trotoar ini dilengkapi guide line atau garis panduan untuk memudahkan warga difabel, khususnya tunanetra. Tercatat, hingga saat ini, akses trotoar yang sudah dipasang guide line mencapai 30 persen.

”Untuk tahun ini, kami targetkan bisa sampai 50 persen,” tegasnya.

Terpisah, warga Kota Batu yang memiliki anak tunanetra, Kasiono mengapresiasi atas kemudahan akses tersebut. Guide line, bagi tunanetra cukup penting bagi mereka untuk mengenal suatu kawasan.

”Dengan ada guide line, tunanetra bisa mandiri dalam mengakses ruang-ruang publik. Semoga nanti dalam perbaikannya tidak asal-asalan. Lalu nanti waktu sudah terealisasi juga bisa tegas karena kadang trotoar ini dipakai PKL berjualan,” harap dia.

  • Bagikan