Menakar Tingkat Sosialisasi Program Kampus Merdeka dari Kemendikbud yang Masih Kurang - Tugujatim.id

Menakar Tingkat Sosialisasi Program Kampus Merdeka dari Kemendikbud yang Masih Kurang

  • Bagikan
Ilustrasi program Kampus Merdeka dari Kemendikbud Ristek. (Ilustrasi: Dicky Hanafi/Tugu Jatim)
Ilustrasi program Kampus Merdeka dari Kemendikbud Ristek. (Ilustrasi: Dicky Hanafi/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) saat ini menjadi salah satu program unggulan bagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Pasalnya dengan program ini mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman atau ilmu di luar kampus yang memiliki nilai 20 SKS.

Kemendikbud Ristek berharap kesempatan ini dimanfaatkan para mahasiswa untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya pengalaman dari perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi yang akan dituju.

Oleh karena itu, pihak kampus diharapkan juga memberikan kesempatan dan sosialisasi untuk mahasiswa agar program ini bisa menyerap mahasiswa sebanyak-banyaknya.

Sayangnya, hype Kampus Merdeka secara nasional baik di media-media cetak maupun online rasanya kurang terasa di Kota Malang. Mahasiswa di Kota Malang terkesan lebih cuek baik di media sosial maupun dalam diskusi-diskusi offline.

Hal ini dirasakan ketika jurnalis tugumalang.id ingin mewawancarai beberapa mahasiswa terkait sambutan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka di Kota Malang. Beberapa merasa takut atau enggan karena merasa kurang memiliki materi atau pengetahuan yang cukup terkait program besutan Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim, ini.

Setidaknya ada 10 orang mahasiswa yang dihubungi atau ditemui mengemukakan penolakan. Di antaranya ada yang merasa takut jika dirinya akan berurusan dengan pihak kampus jika mengemukakan penolakannya terhadap program ini.

Contohnya, salah satu mahasiswa kampus negeri di Kota Malang yang tidak ingin disebutkan namanya. Dia sebenarnya mempertanyakan urgensi program MBKM ini. “Saya mempertanyakan urgensi program Kampus Merdeka ini, karena kalau memang hanya program magang, memang dari awal sudah ada program magang di kampus,” ucapnya, pada Jumat (27/08/2021).

Dia juga mengatakan tidak mendapat sosialisasi yang diperlukan untuk mengetahui secara detail terkait program ini. “Saya sendiri sejujurnya kurang mengikuti isu ini baik dari kampus maupun dari media massa,” paparnya.

Begitupun dengan salah satu mahasiswa Universitas Negeri Malang yang hanya ingin ditulis inisialnya yaitu L. Mengatakan dirinya tidak terlalu paham mengenai program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. “Saya dari awal memang kurang mengikuti isu ini, jadi saya merasa tidak cukup kompeten jika ditanya soal isu ini,” jelasnya.

Di tempat terpisah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Rexy Reynaldi Praditama, mengatakan dirinya juga kurang mendapatkan sosialisasi terkait Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Dia mengaku tidak mendapatkan informasi terkait program ini.

“Kalau dari aku sendiri memang agak kurang mendapat sosialisasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Soalnya sekarang lagi pandemi juga jadi belajar daring dan jarang ke kampus, mungkin itu juga alasannya,” ucapnya.

Rexy berpendapat, seandainya program ini lebih disosialisasikan ke media-media sosial, mungkin dampaknya akan lebih signifikan.

“Aku sendiri gak setiap hari buka website kampus, mungkin hanya pas mau pembelajaran semester baru atau pas mau masuk kuliah lagi baru buka website. Jadi, menurutku kalau lebih banyak disosialisasikan di medsos mungkin bakal lebih banyak yang tau,” sarannya.

Selain itu, tidak semua mahasiswa bisa mengikuti program ini, ada banyak seleksi dan ketentuan yang harus diikuti. Sehingga hanya beberapa saja yang bisa merasakan program unggulan dari Kemendikbud Ristek ini.

Seperti yang diungkapkan oleh Heri Prawoto Widodo selaku Koordinator Perencanaan Akademik dan Kerjasama Universitas Brawijaya (UB). Dia mengungkapkan bahwa program magang adalah salah satu program yang hanya 87 mahasiswa yang bisa mengikuti Program Bangkit.

“Untuk program magang itu yang sudah memenuhi syarat itu sekitar 87 mahasiswa dari 14 program studi yang lolos Program Bangkit. Program Bangkit sendiri adalah program untuk mahasiswa semester 7 untuk mengikuti berbagai program dari perusahaan-perusahaan besar mulai dari Google dan perusahaan teknologi lainnya,” jelasnya.

“Jadi, Program Bangkit ini adalah program dari pemerintah untuk pembelajaran secara langsung dengan 20 SKS yang ilmunya disajikan dari narasumber perusahaan-perusahaan besar itu,” sambungnya.

Selain itu, dia menambahkan bahwa UB juga memiliki memiliki program studi independen yang diikuti 175 mahasiswa. Intinya, ini adalah program untuk mahasiswa dengan kegiatan-kegiatan di luar kampus.

Ada juga program magang bersertifikat dengan 339 mahasiswa yang mengikuti di seluruh fakultas di UB. “Program ini adalah bentuk kerja sama Dikti dengan beberapa perusahaan yang mampu mentransfer ilmu dan teknologinya kepada mahasiswa yang akan menghadapi kelulusan dia dan magangnya itu selama 1 semester. Dan untuk persyaratan sudah ada di platform MBKM, seperti mereka harus semester sekian dengan IPK minimal sekian. Kemudian dia tidak melebihi masa studi yang disyaratkan,” jelasnya.

Sementara itu, I Wayan Dasna selaku Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang (UM), mengatakan bahwa dari total mahasiswa yang diterima dalam program asistensi mengajar adalah 898 mahasiswa dari 1.100 mahasiswa yang mendaftar.

“Makanya perlu diikuti sebaik-baiknya, sehingga memiliki pengalaman belajar selain kuliah teori di kampus tapi juga pengalaman penyelesaian masalah secara nyata di kampus,” ucapnya.

Agak berbeda dengan UB, UM cenderung menonjolkan program MBKM dari sisi kependidikan, yaitu program asistensi pendidikan.

  • Bagikan