Lebaran Ketupat, Tradisi Masyarakat Jawa Seminggu setelah Lebaran - Tugujatim.id

Lebaran Ketupat, Tradisi Masyarakat Jawa Seminggu setelah Lebaran

  • Bagikan
Tradisi Lebaran Ketupat pada masyarakat Jawa yang dilaksanakan seminggu setelah Lebaran. (Foto: Mila Arinda/Tugu Jatim)
Tradisi Lebaran Ketupat pada masyarakat Jawa yang dilaksanakan seminggu setelah Lebaran. (Foto: Mila Arinda/Tugu Jatim)

Tugujatim.id – Masyarakat Jawa punya tradisi tersendiri dalam menyarakan Hari Raya Idul Fitri, yaitu dengan melaksanakan Lebaran ketupat, yang kerap dianggap sebagai pelengkap hari kemenangan. Jika Idul Fitri dilaksanakan tepat pada tanggal 1 Syawal, sedangkan Lebaran ketupat dilaksanakan satu minggu setelahnya, yaitu pada 8 Syawal.

Lebaran ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu, Sunan Kali Jaga memperkenalkan istilah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran yaitu prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim, sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Di wilayah Bojonegoro, tradisi Lebaran ketupat ini biasanya dinamakan dengan Kupatan, masyarakat akan membuat ketupat di rumah masing-masing, kemudian pada 8 syawal masyarakat khususnya yang laki-laki akan berbondong-bondong membawa satu ember ketupat untuk dibawa ke mushola atau masjid, kemudian menggelar doa bersama.

Setelah doa bersama dilaksanakan, mereka akan saling tukar menukar makanan yang mereka bawa dari rumah. selain ketupat, ada pula lepet, yaitu makanan dari beras ketan yang dibungkus dengan daun kelapa (janur kuning).

Filosofi Ketupat

Kata “ketupat” berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, dan laku papat atau empat tindakan. Prosesi ngaku lepat biasanya umumnya diimplementasikan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orangtuanya. Dengan begitu, kita diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang tua. Selain itu juga kepada tetangga, kerabat, hingga muslim lainnya.

Ketupat menjadi simbol “maaf” bagi masyarakat Jawa, ketika seseorang berkunjung ke rumah kerabatnya maka mereka akan disuguhkan ketupat dan diminta untuk memakannya, apabila ketupat tersebut dimakan secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala salah dan khilaf antar keduanya terhapus.

Sedangkan pada istilah laku papat (empat tindakan), diartikan sebagai empat istilah, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran berarti akhir dan usai yang menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadhan.

Kata Luberan bermakna meluber atau melimpah seperti air yang tumpah dan meluber dari bak air. Pesan moralnya yaitu budaya mau berbagi dan mengeluarkan sebagian harta yang lebih (luber) kepada fakir miskin.

Sedangkan kata Leburan berarti habis dan melebur yang diartikan sebagai momen untuk saling melebur dosa dengan saling memaafkan satu sama lain, dengan kata lain dosa kita dengan sesama dimulai dari Nol kembali. Yang terakhir adalah Laburan yang berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih yang juga bisa menjernihkan zat cair, dari ini Laburan dipahami bahwa hati seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih layaknya sebuah kapur. Karena itu merupakan simbol kejernihan dan kesucian hati yang sebenarnya.

  • Bagikan