MALANG, Tugujatim.id – Aroma sedap kuliner Warung Pangsit Mie Pak Rie di Jl Simpang Wilis Indah No 35, Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, ini begitu menggugah selera. Tidak heran jika para pengunjung sudah ramai memadati kuliner pangsit mie ini pada Senin siang (15/09/2025).
Ya, Anda yang berwisata di Kota Malang tidak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke warung pangsit mie legendaris satu ini. Tentu saja, Warung Pangsit Mie Pak Rie ini memang jadi sebuah nama yang tidak asing bagi para pencinta kuliner di Malang.
Baca Juga: Kuliner Malam Sego Goreng Resek Pak Man di Malang, 66 Tahun Berdiri Tak Pernah Pelit Topping
Berdiri sejak 1986 atau selama 39 tahun, warung dengan dominan warna biru ini bukan sekadar tempat makan, melainkan jadi saksi perjalanan usaha sang penerus demi menyajikan rasa otentik kuliner yang bikin kangen para pelanggannya. Selain itu, lokasinya juga strategis di dekat Pasar Buku Wilis sehingga mudah dijangkau.
Sejarah Usaha Warung Pangsit Mie Pak Rie
Saat Tugujatim.id datang ke sana ketika waktunya makan siang, Ahmad Suhudi, anak bungsu almarhum Pak Rie, menyambut dengan hangat dan ramah. Sambil meracik mie, Suhudi, sapaan akrabnya, menceritakan perjalanan sang ayah dalam merintis usaha yang dimulai dari sebuah gerobak keliling.
Awalnya, dia mengatakan, Pak Rie menyusuri jalanan sekitar Malang memakai gerobak dorong. Hingga akhirnya usaha ini menetap di kantin Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri Malang (Kopma UM) selama kurang lebih 20 tahun.
“Pelanggan di Kopma UM tentu banyak, mulai dari mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Makanya terkenalnya di sini Mie Pangsit UM,” ujarnya.
Namun karena ada pembangunan gedung di UM, dia mengatakan, Pak Rie diminta untuk pindah lokasi berjualan. Pak Rie memutuskan untuk pindah ke lokasi permanennya saat ini di Jalan Simpang Wilis Indah Nomor 35.

Namun di balik lezatnya semangkuk mie pangsit, terselip kisah haru. Suhudi mengatakan, kini dialah yang mengambil alih tongkat estafet usaha sang ayah. Sebab, sang ayah meninggal pada 2021 karena Covid-19.
Dia mengaku bahwa sang ayah belajar otodidak dalam menciptakan resep otentik. Bahkan, dia mengatakan, perlu berkali-kali eksperimen yang dilakukan demi menciptakan rasa yang bikin kangen para pelanggan.
“Ayah dulu belajar resep ini otodidak dan mencoba beberapa eksperimen dan akhirnya berhasil. Sampai sekarang kami masih menggunakan resep dari Ayah tanpa mengubahnya sedikit pun untuk menjaga keaslian rasa. Karena rasa itu juga mengobati kerinduan kami dengan Ayah,” tutur Suhudi dengan mata berkaca-kaca.
Sajikan Porsi Jumbo yang Mengenyangkan
Suhudi mengatakan, ada beragam pilihan menu yang cukup sederhana tapi memikat. Mulai dari Pangsit Mie Istimewa dengan topping ampela seharga Rp18.000 dan Pangsit Mi Biasa seharga Rp15.000.
Dia melanjutkan, setiap hari warung ini mampu menjual hingga 45 kilogram mie. Hal ini membuktikan betapa besar daya tariknya.
Menurut dia, porsi jumbo yang mengenyangkan menjadi salah satu alasan utama mengapa warung ini selalu ramai, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, hingga warga sekitar.
“Pelanggannya sekarang tetap, ya mahasiswa, pekerja kantoran, dan warga. Kalau pas makan siang selalu ramai,” ujarnya.
Suhudi juga mengatakan, resep legendaris ini terbuat dari bahan-bahan sederhana namun berkualitas, yaitu mie pangsit, sawi hijau, taburan abon ayam, daun bawang, dan bawang goreng yang menambah kenikmatan. Perpaduan bumbu otentik dan bahan segar inilah yang membuat setiap mangkuknya terasa istimewa.

Selain itu, dia mengatakan, warung ini juga menawarkan beragam pilihan minuman untuk menemani hidangan Anda. Untuk minuman dingin, tersedia Es Degan dan Es Blewah seharga Rp5.000, Es Jeruk dan Joshua seharga Rp4.000, serta Es Teh dan Extra Joss seharga Rp3.000.
Sementara itu, untuk minuman panas, Anda bisa memesan Teh seharga Rp3.000, Jeruk dan Kopi seharga Rp4.000, atau Kopi Susu seharga Rp5.000.
Selain Suhudi, kakaknya Eli dan Buk Rie istri dari almarhum Pak Rie, juga turut serta dalam mengelola usaha keluarga ini. Saat wawancara, Eli bercerita bahwa dia sebenarnya sempat bekerja di Rumah Sakit Mitra di Surabaya setelah lulus dari Poltekkes Malang dengan jurusan gizi.
“Ayah menelepon saya dan meminta saya untuk melanjutkan usaha keluarga ini,” kenangnya.
Setelah kepergian ayahnya, Eli memutuskan untuk kembali dan mendedikasikan diri pada warung ini. Dia juga menambahkan, ada lima karyawan yang bekerja untuk membantu yang termasuk keluarga dekat.
Salah satu pelanggan setia bernama Umi mengatakan, kuliner Warung Pangsit Mie Pak Rie ini menjadi pilihan ketika merasa lapar.

“Mie Pak Rie ini selalu menjadi pilihan ketika lapar. Selain karena rasanya yang khas, porsinya juga sangat mengenyangkan,” ujar Bu Umi sambil tersenyum.
Warung Pangsit Mie Pak Rie ini bukan hanya soal hidangan, melainkan juga tentang warisan, dedikasi, dan sebuah rasa lezat yang tidak pernah berubah. Ini yang menjadikannya legenda hidup di hati setiap penikmatnya.
Jika ingin merasakan kelezatan kuliner legendaris ini, Warung Pangsit Mie Pak Rie buka setiap hari mulai pukul 09.00-19.00. Nah, gimana pengen mencicipi kuliner enak ini bareng siapa?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Novia Hilmiasari/Magang
Editor: Dwi Lindawati








