“Ada tiga warung cabang lalapan ini ditutup. Salah satunya yang saya jualan. Ya, ini harapannya agar bisa bertahan (sampai pandemi reda, red),” imbuhnya.
Tidak hanya itu, dia mengakui dampak penutupan warung lalapan tersebut adalah pengurangan karyawan. Padahal kata Andika, penjualan lalapan dalam sehari bisa laris hingga 700 porsi, di masa normal.
“Sekarang ini buka lagi, masih melihat-lihat bagaimana situasinya ke depan,” ucapnya.
Tak jauh berbeda, Ningsih, pemilik warung makan di Jalan Bendungan Sutami gg VI. Area tesebut sangat padat mahasiswa karena dekat dengan kampus Universitas Negeri Malang (UM) dan kampus kedokteran UMM.
Perempuan berumur 48 tahun tersebut harus menutup warungnya selama 8 bulan lamanya karena pandemi Covid-19. Saat ini Ningsih kembali membuka warungnya, meskipun mengurangi bahan jualan hingga 80 persen. Menurutnya, yang penting warung tersebut buka, meskipun belum ramai seperti sebelum pandemi.
“Semoga pandemi cepat selesai saja, jadi mahasiswa bisa kuliah lagi masuk kampus. Saya kira itu harapan para pemilik warung yang ada di sekitar kampus,” tandasnya.
Harapan para pedagang itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kampus. Kesehatan komunal menjadi paling penting dalam proses pembelajaran, sehingga kuliah dilaksanakan secara daring. Sejumlah kampus melakukan inovasi pembelajaran dan pemanfaatan teknologi digital.
Bagaimana Terkait Pembalajaran Tatap Muka di Kampus?
Menanggapi itu, Rektor UM Prof Dr AH Rofi’uddin MPd menyatakan, pihaknya selama ini sudah sangat siap dengan pembelajaran daring. Sejak awal, kampus memberikan pelatihan kepada para dosen agar cakap digital. Namun sejumlah kendala seperti jaringan internet di lokasi peserta didik yang lemah, dan lainnya.
“Tentu perkuliahan masih kami laksanakan secara daring, sembari melihat perkembangan level PPKM di Kota Malang. Kami lihat perkembangannya, kami evaluasi terus. Jika memungkinkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas, akan kami lakukan, semua regulasi sudah kami siapkan,” tuturnya.
UM, kata Prof Rofi’uddin sudah menyiapkan perangkat sarana prasarana perkuliahan tatap muka dengan protokol kesehatan. Mahasiswa juga harus mendapatkan surat persetujuan dari orang tua secara tertulis, vaksinasi dan lainnya.
“Bisa kami laksanakan secara hybrid, tidak full tatap muka. Mahasiswa angkatan pertama dan kedua saja, selanjutnya bisa menyesuaikan,” tambahnya.
Pihaknya sadar, masuknya mahasiswa dalam perkuliahan di kelas, berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar kampus. Perkuliahan tatap muka kata Prof Rofi’uddin, salah satu faktornya untuk menggerakkan kembali roda ekonomi masyarakat sekitar kampus. Selain karena statistik Covid-19 saat ini terus menurun.
“Kami sadar COVID-19 menjadi pukulan berat bagi masyarakat sekitar kampus yang memang berwirausaha makanan dan kos-kosan. Saya sangat merasakan itu, saya melihat situasinya. Harapnnya mari bersama berdoa agar situasi segera pulih kembali,” tukasnya.
Di Kota Malang saat ini, pembelajaran tatap muka sudah mulai dilakukan secara terbatas. Mulai dari sekolah TK hingga SMA.
Memang yang belum dilaksanakan yaitu untuk perkuliahan. Namun Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji menyatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi terkait perkuliahan tatap muka. Banyak kampus menurutnya, yang mengajukan izin melaksanakan perkulaihan tatap muka terbatas.
“Sudah ada sejumah kampus yang mengajukan untuk kuliah tatap muka terbatas. Ini masih kami pelajari seperti apa, pakai aplikasi PeduliLindungi, swab, atau vaksinasi. Tapi prinsipnya memang benar, keberadaan mahasiswa menjadi salah satu faktor pendongkrak ekonomi di Kota Malang,” pungkasnya.








