MALANG, Tugujatim.id – Tim dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) peduli mengolah sampah dengan mengenalkan konsep “Growcycle” di MA Al-Khoirot Putri Al-Khoirot, Karangsuko, Pagelaran, Kabupaten Malang. Dosen dan mahasiswa UM melaksanakan tiga pertemuan dalam rangkaian kegiatan edukasi pengolahan sampah pada 23 Oktober-6 November 2025.
Puluhan santriwati antusias mengikuti program yang diadakan untuk menjawab persoalan sampah yang belum terkelola dengan baik di masyarakat. Selain itu, dosen dan mahasiswa UM membekali santriwati dengan keterampilan mengubah limbah menjadi media tanam kreatif. Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan praktik langsung pemilahan serta pengolahan sampah.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Buku Islam Kekinian Karya Pengasuh Ponpes Al-Khoirot Malang KH A. Fatih Syuhud
A. Safikurrohman SPd, salah satu anggota tim sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut, mengatakan, konsep “Grow From Recycle” atau biasa disebut “Growcycle” ini tercetus dari kepekaan tim terhadap persoalan sampah di masyarakat yang belum terkelola dengan baik. Dia menilai, sampah bisa menjadi media edukasi dan kreativitas bila diolah dengan cara yang benar.
“Berawal dari kepekaan kami terhadap masalah sampah yang ada di lingkungan masyarakat, kemudian memunculkan ide agar bisa diterapkan berbentuk hal yang bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang,” jelasnya.

Untuk diketahui, dia mengatakan, Growcycle merupakan konsep pertumbuhan berkelanjutan di mana limbah diolah kembali menjadi sumber daya yang bisa digunakan untuk memulai siklus baru. Misalnya sampah organik menjadi kompos untuk menumbuhkan tanaman atau sampah anorganik menjadi wadah dan alat pakai.
Sosialisasi hingga Praktik Pemilahan Sampah

Dia mengatakan, program Growcycle dirancang dalam dua tahap kegiatan utama. Untuk pertemuan pertama, tim UM menyosialisasikan dan mengenalkan konsep pengelolaan sampah kepada santriwati. Mulai dari jenis sampah, dampak lingkungan, hingga manfaat bila dikelola secara berkelanjutan.
“Pertemuan pertama, kami melakukan sosialisasi terhadap santriwati,” ujar Safikurrohman.
Memasuki pertemuan kedua dan ketiga, dia melanjutkan, para santri baru diajak praktik memilah sampah organik dan anorganik.
Daur Ulang Sampah Organik dan Anorganik
Dia mengatakan, berbagai sampah bisa didaur ulang. Untuk sampah organik seperti dedaunan dan sisa makanan bisa diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik fokusnya dibuat menjadi wadah tanam, pot, dan media tanam kreatif lainnya.
Dengan metode praktik langsung, para santriwati dapat memahami proses dari hulu ke hilir—mulai dari memilah, mengolah, hingga memanfaatkan hasil olahan sampah tersebut.
Ponpes Potensi Ubah Kebiasaan Ramah Lingkungan
Safikurrohman mengatakan, program UM ini menyasar lingkungan pesantren yang dihuni ratusan santriwati dinilai memiliki potensi besar dalam menciptakan dampak perubahan perilaku. Kebiasaan ramah lingkungan lebih mudah terbentuk di komunitas pesantren yang hidup dalam aturan dan rutinitas kolektif.

“Karena memiliki komunitas besar dari santriwati dan bisa menjadi dampak yang besar jika kreativitas ini diolah di lingkungan pesantren dan sekitarnya,” jelas Safikurrohman.
Selain itu, dia mengatakan, pesantren dianggap sebagai ruang pembinaan karakter. Bila edukasi pengelolaan sampah ditanamkan sejak dini, dia menjelaskan, santriwati bukan hanya mampu menjaga kebersihan pesantren, tetapi juga bisa menjadi agen perubahan ketika kembali ke keluarga masing-masing.
Peserta Antusias Praktik Mengolah Sampah
Menurut Safikurrohman, antusiasme santri meningkat drastis ketika memasuki sesi praktik. Banyak santri yang tampak menikmati proses kreativitas menggunakan bahan bekas yang biasanya tidak bernilai.
“Alhamdulillah, mereka sangat antusias, apalagi ketika kegiatan praktik. Ternyata para santri suka hal-hal yang berbau kreativitas,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, beberapa santriwati mengubah botol-botol plastik menjadi pot tanaman dengan desain berwarna. Ada pula yang memanfaatkan kardus bekas serta gelas plastik sebagai wadah tanam.
Di sisi lain, kelompok lain mempelajari cara membuat kompos mulai dari proses pencacahan, fermentasi, hingga penyimpanan. Hasil karya mereka dinilai bisa menjadi keterampilan jangka panjang. Tidak hanya bermanfaat selama di pesantren, tetapi juga dapat diterapkan ketika mereka sudah “boyong” atau kembali ke keluarga masing-masing.

Safikurrohman berharap konsep Growcycle tidak berhenti sebagai program singkat, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan di lingkungan Al-Khoirot. Dia juga berharap para santriwati terus peduli terhadap masalah sampah dan berani menciptakan solusi kreatif di kemudian hari.
“Tentu kami berharap para santri tidak berhenti untuk peduli terhadap lingkungan dan juga mereka bisa kreatif dalam mengatasi masalah masyarakat yang sudah ada sejak lama ini, baik itu saat di pesantren terlebih ketika sudah boyong,” harapnya.
Dia mengatakan, tim UM juga menargetkan agar program seperti Growcycle ini bisa ditiru oleh sekolah maupun pesantren lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Fahmi Irmanto/Magang
Editor: Dwi Lindawati








