Mapac Kritisi Pemkot Malang soal Kayutangan Heritage melalui Performance Art Dadakan

Mapac Kritisi Pemkot Malang soal Kayutangan Heritage melalui Performance Art Dadakan

  • Bagikan
Performance art dadakan bagian pertama dari Malang Performance Art Community di Jalan Basuki Rahmat, Kayutangan, Kota Malang, Senin (22/02/2021). (Foto: Azmy/Tugu Jatim)
Performance art dadakan bagian pertama dari Malang Performance Art Community di Jalan Basuki Rahmat, Kayutangan, Kota Malang, Senin (22/02/2021). (Foto: Azmy/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Ada pemandangan unik di perempatan Rajabali, Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang, Senin (22/02/2021). Di tengah keramaian lalu lintas siang itu, ada 2 orang menyuguhkan performance art dadakan di kawasan yang diproyeksi jadi wisata Kayutangan Heritage itu.

Mereka adalah Sogeh Ahmad dan Braga Arya dari Malang Performance Art Community (Mapac). Ada 2 aksi bertema berbeda. Pertama, ditampilkan seseorang dengan memakai masker opname dengan pot isi tanah di kepalanya. Dia juga mengangkat tinggi sekuntum bunga mawar di tangannya.

Perform kedua, tampak seorang pria dengan setelan jas rapi bersenang-senang sambil meniupkan gelembung sabun. Aksi ini dilanjutkan dengan membagi-bagikan bunga mawar ke para pengendara yang melintas.

Performance art dadakan bagian pertama dari Malang Performance Art Community di Jalan Basuki Rahmat, Kayutangan, Kota Malang, Senin (22/02/2021). (Foto: Azmy/Tugu Jatim)
Performance art dadakan bagian kedua dari Malang Performance Art Community di Jalan Basuki Rahmat, Kayutangan, Kota Malang, Senin (22/02/2021). (Foto: Azmy/Tugu Jatim)

Saat dikonfirmasi, Braga menuturkan, aksi yang mereka lakukan ini ditujukan sebagai bentuk kritik mereka yang menilai ada ketidakjelasan arah pembangunan Kayutangan Heritage oleh Pemkot Malang.

Dia mengatakan, jika mengacu dari semangat awal penataan yang mengusung konteks nilai sejarah dan budaya, pada realisasinya semua itu tak tampak. “Tapi, kok malah menimbulkan masalah baru. Jika untuk membangun ekonomi budaya kayak Malioboro, mana buktinya? Biasa saja, gak ada perbedaan signifikan,” terangnya.

Selain itu, dari perform simbolisasi mereka, juga merespons Wali Kota Malang Sutiaji yang sempat mengikuti tren membuat surat cinta bertajuk “Surat Sangat Meringankan”. Isinya, warga boleh bebas menyampaikan kritik dan aspirasi. Dari situlah, aksi performance art ini muncul.

Harapan mereka sederhana saja. Mereka hanya ingin menyampaikan agar Pemkot Malang bisa lebih serius dalam menata Kota Malang. “Wacananya tinggi sekali, tapi faktanya biasa aja, gak ada manfaat signifikan. Malah kok kesannya jadi kacau gitu,” akunya.

Seharusnya, menurut dia, Program Kayutangan Heritage sesuai namanya juga harus melindungi nilai historis kawasan di sini sebagaimana aslinya. ”Intinya, kami hanya ingin mempertanyakan apa sih maksud dari konsep heritage ini,” tegasnya. (azm/ln)

 

  • Bagikan